RSS

Arsip Kategori: Renungan

Renungan tentang kematian 

Kematian.. Merupakan hal yang sangat ditakuti manusia. Namun, semua manusia pasti mati. Sesuai dengan apa yang telah ditulis Allah Swt.

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

Kematian adalah sebuah proses yang harus dilalui manusia. Sebagaimana sebuah proses, akan ada hasil satelah proses tersebut yang akan diketahui setelah kematian.

Didalam kehidupan manusia, manusia selalu menghadapi masalah dari yang teringan sampai masalah yang paling berat. Dari yang kecil sampai yang paling besar. Dan kematian merupakan masalah terberat dan terbesar bagi manusia dalam proses kehidupannya.

Bisa dibayangkan, ketika malaikat maut mendatangi kita. Tak ada yang mampu kita lakukan. Hanya rasa sakit yang sangat meliputi seluruh tubuh ini dari ujung kaki ke kepala. Mulut tak mampu berbicara. Teriakan tolong pun tak mampu kita ucapkan. Kita hanya berhadapan satu lawan satu dengan sang Malaikat, tak mampu melawan, tak mampu berlari, sembunyi, teriak minta tolong. Hanya kepasrahan dan kesakitan yang kita rasakan.

Bahkan Nabi Muhammad, seorang ahli surga yang sangat dicintai Allah SWT dan umatnya  pun merasakan kesakitan yang sangat ketika beliau wafat. Mungkin saja rasa sakit yang beliau dapat lebih hebat dan lebih menyakitkan dari yang kita rasakan, karena beliau meminta pada saat kematiannya untuk menimpakan rasa sakit saat kematian semua umatnya kepadanya, jangan pada umatnya.

Kematian merupakan pisau tajam pemutus nikmat kehidupan di dunia. Semua yang berhubungan dengan dunia, putus seketika. Kecuali 3 hal : Sodaqoh jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.

“Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (Surat An Nisa’: 78)

Proses kematian adalah cermin dari amal kehidupan kita didunia. Jika manusia mempunyai catatan amal yang baik, maka dia akan menemui proses kematian yang indah. Dan sebaliknya, jika manusia mempunyai catatan amal yang buruk, maka ia akan menemui proses kematian yang hina.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Surat Ali ‘Imran: 102).

Selagi kita masih dapat menikmati kehidupan duniawi, pergunakanlah waktu sebaik-baiknya. Waktu tidak akan pernah kembali. Penyesalan tidak akan berdampak apapun. Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim).

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2017 in Renungan

 

Tag: , , ,

Pilkada Rasa Pilpres… 

Seru, ramai, menegangkan…

Begitulah kira-kira gambaran situasi menjelang pemilihan kepala daerah provinsi DKI Jakarta. Dari sekian kalinya pilkada di berbagai provinsi di Indonesia, baru kali ini rasanya, pilkada menarik untuk diikuti.

Tahun 2014 kemaren, kita baru saja disuguhi tontonan pemilihan presiden Indonesia antara jokowi dan prabowo. Yang perang urat syarafnya masih berlangsung sampai sekarang. Tahun 2017 nanti, kita kembali akan disuguhi tontonan pemilihan umum yang dikemas dalam bentuk pilkada DKI, yang sudah terasa getaran nya pada saat ini.

3 pasang calon gubernur dan wakilnya merupakan pasangan yang akan bertanding pada pilkada nanti.

Ahok –  Jarot,  merupakan pasangan petahana. Walaupun Ahok adalah pengganti dari Jokowi sebagai gubernur DKI, namun pasangan Ahok –  Jarot adalah juara bertahan pada pertandingan ini. Beliau diusung oleh parpol PDIP, Golkar, Hanura, dan Nasdem.

Anis – Uno, merupakan wakil dari Gerindra dan PKS. pasangan yang mengejutkan, karena sebelumnya Anis tidak masuk dalam daftar calon gubernur yang digosipkan sebelumnya. Anis – Uno merupakan calon yang diusung PKS dan Gerindra.

Agus –  Sylvi, merupakan pasangan debutan. Karena sama sekali dati dua orang tersebut yang punya pengalaman di sektor politik. Mereka diusung oleh partai Demokrat, PAN, PKB

Namun dibalik  3 calon pasangan tersebut, ada tokoh tokoh kawakan nasional dibelakangnya. Ada Megawati di belakang Ahok –  jarot. Prabowo dibelakang Anis – Uno, dan SBY di belakang Agus – Sylvi. 3 tokoh ini merupakan tokoh –  tokoh paling berpengaruh di Indonesia, selain Jokowi tentunya.

Selain itu, perang urat syaraf telah dimulai bahkan sebelum pengumuman pasangan calon gubernur dan wakilnya. Terlebih di media sosial, hujat menghujat, fitnah, caci maki antar pendukung, mewarnai pilkada kali ini. Kehidupan pribadi para calon mulai dikorek, kebiasaan – kebiasaan hidup mereka menjadi sorotan publik.

Sosial media menjadi akses paling mudah untuk mempromosikan atau menjatuhkan calon-calon tersebut. Dari media sosial lah masyarakat secara mudah dapat menilai calon unggulannya. Walaupun berita dari media sosial belum dapat dipertanggungjawabkan 100% kebenarannya, namun dari media sosial lah masyarakat banyak terpengaruh.

Sekali lagi, pilihan ditangan rakyat. Rakyat jakarta lah yang akan menentukan siapa gubernur mereka untuk 5 tahun ke depan. Pilihan bijak adalah pilihan yang berdasarkan dari hati nurani. Tanpa ada paksaan dari manapun. Tanpa ada iming iming hadiah apapun.

Sebagai seorang muslim tentulah wajib mencermati siapa yang akan menjadi gubernur Jakarta nantinya. Tentulah dalam memilih pemimpin, seorang muslim wajib berpedoman kepada Al Quran dan hadits, agar tidak salah pilih.

Berikut ini adalah dalil yang menguatkan hal tersebut.

Pertama;

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah  orang-orang  mukmin  mengambil  orang-orang  kafir  menjadi  WALI (waly) pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kamu kembali.” (QS:  Ali Imron [3]: 28)

Kedua;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kami ingin mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS:  An Nisa’ [4]: 144)

Ketiga;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Hai   orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  mengambil  orang-orang  yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai WALI (pemimpinmu).  Dan  bertakwalah kepada Allah  jika  kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS:  Al-Ma’aidah [5]: 57)

Keempat;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu   menjadi   WALI   (pemimpin/pelindung)   jika   mereka   lebih   mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka WALI, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS: At-Taubah [9]: 23)

Lima;

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- nya. dan dimasukan-nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-nya. mereka itulah golongan allah. ketahuilah, bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS:  Al Mujaadalah [58] : 22)

Enam;

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin/teman penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS: An-Nisa’ [4]: 138-139)

Masih ada beberapa ayat dalam al-Quran yang menegaskan larangan memilih non Muslim (kafir) sebagai bagi kaum Muslimin yang juga menggunakan pilihan kata WALI sebagaimana ayat di atas. Di antara ayat-ayat tersebut adalah : QS. Al Maidah: 51, QS Al-Maidah: 80-81, QS Al-Mumtahanah: 1 dsb.

Karena itu cermatilah kita memilih pemimpin kita, jika kita ingin perubahan yang lebih baik. Jangan salah pilih. Dan jangan berjudi dengan pilihan kita.

Selamat memilih Jakarta…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 September 2016 in Renungan

 

Tag: , , , ,

Bangkit dari keterpurukan… 

Bagaimana mungkin seorang muslim terlalu lama terlena akan nafsu duniawi. Sedangkan manusia ditakdirkan hidup tidak lama di dunia ini. Hanya sesaat seperti persinggahan sementara menuju perjalanan abadi. 

Bagaimana mungkin seorang manusia akan terus menerus melakukan dosa dan maksiat hanya karena menuruti nafsu duniawi yang semu. 

Bangkitlah dari keterpurukan karena dosa dosa di dunia. Ingatlah siksa neraka yang akan menjadi hadiah dari dosa dosa kita di dunia. 

Layaknya kita bercocok tanam, apabila kita menanam benih yang bagus, maka kita akan menikmati hasil yang bagus pula. Jika kita menanam bibit yang jelek, jangan berharap kita akan memetik keuntungan dari tanaman kita. 

Tulisan ini hanya sebagai refleksi diri sendiri yang telah terjerumus dalam limbah dosa yang hitam. Dengan sebuah janji yang insyaallah akan terwujud dalam balutan tobat. InsyaAllah diri ini dapat kembali kepadaNya dalam keadaan yang baik. InsyaAllah diri ini  dapat melewati proses hisab di akhirat kelak dengan baik. Dan masuk kembali kedalam rumahMu yang telah dijanjikan kepada umat manusia. 

Sebaik –  baiknya manusia, adalah manusia yang selalu bertaqwa kepada Allah, dan menjauhkan laranganNya. 

Jogjakarta, 16 september 2016.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 September 2016 in Renungan

 

Tag: , , ,

Cengeng nya pelajar kita… 

Miris… Begitu melihat perilaku anak anak sekolah jaman  sekarang. Pelajar yang akan menjadi investasi di masa depan, seakan mematahkan semangat kita melihat masa depan yang lebih baik. 

Banyaknya Tawuran pelajar, pacaran dan seks bebas, narkoba, menjadi cermin kegagalan kita dalam mendidik remaja. Perilaku tersebut juga sekaligus menjadi bukti bahwa modernisasi membuat remaja kita kehilangan arah. 

Akhir akhir ini banyak berita yang mengangkat seorang guru yang dianiaya oleh siswa dan orang tua murid. Padahal karena kasus sepele seperti siswa yang tidak ikut upacara, siswa yang tidak mengerjakan PR, seorang guru memberikan  teguran atau menghukum siswa tersebut. Namun tindakan guru tersebut malah mendapat balasan dari siswa dan orang tuanya dengan menghakimi guru tersebut. Benar-benar perilaku cengeng dan tidak dapat diterima dengan akal sehat seorang guru dianiaya karena menegur dan menghukum siswa tersebut. Saya teringat ketika sekolah pada era tahun 80-90an, orangtua saya akan memarahi saya karena tindakan indisipliener di sekolah. Namun yang terjadi sekarang malah sebaliknya, orangtua lah yang menghakimi guru tersebut, karena tindakan indisipliener anaknya.

Saya juga miris melihat perilaku seks menyimpang pada remaja saat ini. Banyaknya kasus seks bebas, pemerkosaan membuat kita khawatir akan masa depan remaja saat ini. Bahkan dengan kecanggihan teknologi saat ini, dimana pelajar sudah memiliki hp/gagdet sendiri membuat siswa dengan mudah mengakses situs berkonten pornografi. Dengan gadget pula banyak remaja yang sengaja mendokumentasikan gaya pacaran dan seks bebas mereka dan diunggah ke Internet. Dengan tidak malu bahkan bangga, video tersebut disebar melalui media sosial. 

Banyak lagi kasus kasus penyimpangan perilaku remaja saat ini. Bagaimana dengan masa depan mereka. Bagaimana dengan masa depan anak-anak kita nantinya. 

Perilaku menyimpang para remaja saat ini karena pembinaan akhlak untuk remaja sangat kurang. Mereka dibiarkan bebas berkembang tanpa ada pengawasan ketat dari orang tua. Kurangnya pendidikan agama di keluarga dan sekolah, dan sibuknya mencari nafkah para orang tua, ditambah lagi orangtua yang terlalu memanjakan anaknya, membuat para remaja berkembang liar. 

Orangtua yang berakhlak mulia akan melahirkan anak yang berakhlak mulia juga. Begitu juga sebaliknya. Pembinaan akhlak saat ini tidak hanya harus diberikan kepada anak-anak saja, tetapi juga kepada orangtua. Agar mereka dapat menjadi contoh untuk anak-anak nya bagaimana bertingkahlaku saat ini. 

Orangtua juga harus mampu mendidik anak untuk tidak cengeng, mampu menyelesaikan persoalan nya sendiri dengan baik. Tidak serta merta di setiap persoalan anak, orang tua campur tangan. 

Hal seperti ini lah yang kurang di masyarakat kita. Ingat, anak anak yang berakhlak mulia adalah investasi para orang tua di akhirat nanti. Bagaimana mungkin kita mengharapkan anak anak kita menjadi anak soleh yang berahklak mulia, jika kita tidak mampu menjadi contoh dan guru bagi anak anak kita. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Agustus 2016 in Renungan

 

Tag: , ,

Bukan Hujatan…Tetapi Doa

Kurang puasnya masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dituangkan kedalam hujatan /cacian/ ejekan di media sosial (Medsos)  Kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat, langsung menuai respon negatif dari masyarakat. Apalagi dari kelompok masyarakat yang berseberangan dengan pemerintah.

Hal seperti ini dilarang dalam agama Islam. Hujatan/celaan terhadap seseorang yang tidak sesuai, akan menimbulkan fitnah. Jelas tertuang dalam Al Quran surat Al Hujurat, ayat 11,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Pemimpin kita adalah cerminan dari kita sendiri. Karena banyaknya kerusakan akhlak pada masyarakat. Allah akan menjadikan pemimpin dari kaum kita sendiri. Yang akan mewakili sebagian besar sifat kita.

Dalam sebuah ayat Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظَّالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأنعام : 129).

“Demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (QS. al-An’am : 129).

Media social lah yang menjembatani celaan dan hujatan terhadap pemimpin kita tersebut. Hal ini membuat kita miris, bukankah media sosial tersebut dapat kita pergunakan untuk hal-hal yang bernilai positif. Media sosial bukanlah tempat untuk menyebarkan hal-hal provokatif seperti yang berbau sara dan politik. Menghujat, mencela para pemimpin kita, tidak akan memberikan dampak yang positif bagi Negara ini. Malah akan menimbulkan masalah yang sangar bagi Negara.  Pengaruhnya sangat besar, bagi yang mereka yang menerima mentah-mentah berita tersebut tanpa kroscek kebenaranya kembali, akan semakin menimbulkan kebencian kepada pemerintah. Dan hal seperti ini lah yang harus di hindari. Karena semakin banyak kebencian terhadap pemerintah, maka semakin banyak pula program-program dari pemerintah yang tidak akan berjalan

Sikap kita yang paling baik adalah mendoakan kebaikan bagi para pemimpin kita, agar dapat menjadi pemimpin yang amanah, adil, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kita juga sebaiknya mendoakan para pemimpin untuk selalu berjalan di jalan Allah dengan berpatokan Al Quran dan Hadist dalam semua hal. Kita juga harus mendoakan semoga para pemimpin tersebut mendapat taufiq kepada kebenaran, semoga mereka mendapat pertolongan, semoga Allah memberi mereka pembantu-pembantu yang shalih dan semoga Allah membebaskannya dari kejahatan dirinya dan dari kejahatan teman-teman yang jahat.

Dengan mendoakan para pemimpin, selain kita mendapat pahala atas doa kita, kita pun juga memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Negara ini.
Tidak menghina pemimpin tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن

“Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224], dan berkata: “Hadits hasan”).

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)

Maka sebaiknya kita hindari hujatan/celaan tersebut. Apabila kita tidak secara langsung dapat membangun Negara ini, marilah kita mulai dengan doa. Agar Negara ini dapat menjadi lebih baik.
 

Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11)

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Agustus 2016 in Renungan

 

Tag: , , , ,

Revolusi Akhlak sebelum Revolusi Mental

Revolusi mental, itulah slogan yang sering di dengar pada masa pemerintahan presiden Jokowi. Mental dapat diartikan sebagai hal yang berhubungan dengan watak dan batin manusia. Menurut kamus besar bahasa indonesia, mental bermakna aktivitas jiwa, cara berfikir, dan berperasaan. Jadi Revolusi Mental dapat diartikan sebagai aktivitas mengubah kualitas manusia kearah yang lebih bermutu dan bermental kuat dalam berbagai aspek dengan jangka waktu yang cepat.

Satu ucapan dari presiden Joko Widodo yaitu :

“Satu hal yang kita butuhkan adalah revolusi mental dari negativisme kearah positivisme”. Berarti merubah semua perilaku negatif/salah menjadi perilaku yang positif/benar.

Sesuai dengan jargon revolusi mental tersebut, untuk merubah mental masyarakat ke arah yang positif, diperlukan landasan yang kuat agar revolusi mental tersebut berjalan dengan baik. Dasar tersebut berupa akhlak yang baik/terpuji, dalam bahasa arab disebut akhlak Mahmudah/Karimah.

Perkataan akhlak berasal dari bahasa arab yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, adat kebiasaan.

Sedangkan Karimah berarti mulia, terpuji, baik.

Manusia yang mempunyai sifat Akhlakul Karimah, adalah manusia yang dapat menjaga segala perbuatan dan tingkah laku dengan baik, dan tidak tersejerumus kedalam perilaku yang buruk/tercela yang dalam bahasa arb disebut dengan Akhlakul Madhmumah.

 

Manusia yang paling sempurna dan mulia akhlak nya adalah Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) mempunyai akhlak (budi pekerti) yang amat tinggi” (Al Qalam : 4).

Merubah mental masyarakat Indonesia, bukanlah perkara yang mudah. sering kita mendengar istilah “mental tempe”. Suatu istilah yang tidak lazim namun sudah banyak di pergunakan. Orang bermental tempe adalah bermental kemaren, tidak berani, penakut, hanya berani ketika lawan sudah pergi. Orang bermental tempe akan mudah patah semangat, satu kali kegagalan akan menjadi sebuah trauma yang berkepanjangan.

Rusaknya akhlak masyarakat Indonesia, saat ini sudah sangat memprihatinkan. Banyaknya korupsi yang dilakukan pejabat, perilaku seks bebas, pesta narkoba, pemerkosaan dan pembunuhan, tawuran remaja, hal-hal itulah yang rutin mengisi berita setiap hari. Hal ini disebabkan karena mereka tidak takut untuk melakukan sebuah dosa besar.

Pengaruh globalisasi/modernisasi barat dan mudahnya masyarakat mengakses internet menjadi pintu masuk utama dari rusaknya akhlak. Ditambah lagi dengan siaran-siaran dari televisi yang tidak memperdulikan nilai-nilai islam, menjadi panutan remaja Indonesia saat ini. Kita bisa melihat tayangan-tayangan televisi pada jam-jam tayang utama, mayoritas berisikan acara yang tidak berguna sama sekali. Ada sinetron yang menayangkan anak SMP berpacaran dan anak SD sudah puber, acara live berisi candaan yang tidak mendidik, tayangan film/sinetron India pamer aurat, dll

Kerusakan akhlak seseorang dapat mengganggu ketentraman orang lain. Jika penyimpangan akhlak terjadi dalam skala besar pasti berakibat rusaknya masa depan bangsa dan negara. Olehnya itu, harusnya revolusi akhlak menjadi tujuan utama sebelum revolusi mental.

Agar kita mempunyai akhlak yang bagus/terpuji kita bisa belajar dari Rasulullah SAW. Dalan Alqur’an surah Al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik”. Dia lah manusia yang patut dicontoh, dengan belajar dari kisah hidup Rasulullah, Alquran, dan riwayat hadits-hadist sahih, maka inysaallah kehidupan kita akan menjadi lebih bermanfaat kembali.

Syauqi Bek, seorang penyair Mesir mengungkapkan bahwa eksistensi suatu bangsa, sangat tergantung pada akhlak dan moral, jika moral dan ahklak suatu bangsa rusak, maka akan rusak dan hilanglah masa depan bangsa tersebut.

Insyaallah kita semua termasuk orang-orang yang berakhlakul Karimah. Aamiin

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Juli 2016 in Renungan

 

Tag: , , ,

Indikator Keberhasilan Utama (IKU) Manusia…

Hidup adalah persinggahan
Kembali ke masa lalu.
Apakah bisa ?
Tapi untuk apa ?
Mengoreksi kehidupan masa lalu, agar kehidupan sekarang dapat lebih baik ?

Sering kita teringat akan kehidupan masa lalu. Masa lalu yang memiliki banyak kenangan. Masa lalu yang suram, yang pahit dan manis.
Imam Godzali pernah menanyakan kepada muridnya, Hal apa yang paling jauh dari kita ? Jawabannya adalah masa lalu. Karena kita tidak akan mungkin kembali lagi kesana.
Ya, masa lalu adalah cerminan kehidupan kita saat ini. Masa lalu adalah tolok ukur kehidupan masa kini.
Keberhasilan pada diri kita saat ini adalah buah kerja keras kita pada masa lalu.
Ketidakberhasilan kita pada masa kini, adalah buah dari keterlenaan kita pada masa lalu.
Lalu, apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan kita pada saat ini. Apakah harta yang berlimpah, Jabatan tinggi, Keluarga yang bahagia,
Semua yang berhasil kita dapat saat ini di dunia, seperti harta yang banyak, jabatan yang tinggi, keluarga yang harmonis, kehormatan, ketenaran, anak-anak kita…apakah itu semua merupakan tolok ukur keberhasilan hidup kita di dunia.

Ataukah tolok ukur keberhasilan kita di dunia ini adalah kebahagian. Lantas kebahagiaan yang seperti apa…bukan kah manusia selalu mendapat cobaan dalam kehidupan di dunia ini. Hal yang mustahil kalau ada manusia yang dapat hidup bahagia terus sampai akhir hayatnya, tanpa adanya masalah dalam kehidupan.
Bukankah kebahagiaan yang abadi adalah kebahagiaan di akhirat nanti ?
Kembali ke persoalan semula, Lantas apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan hidup manusia di dunia ? jawabannya tidak ada yang tahu.
Manusia yang berhasil dalam kehidupan saat ini adalah manusia yang lulus ujian di dunia ini.
Indikator keberhasilan hidup di dunia adalah kematian yang khusnul khotimah.
Keberhasilan hidup didunia ini dapat kita rasakan setelah kita melewati fase kematian.
Keberhasilan hidup kita di dunia dapat kita ketahui setelah kita mampu menjawab semua pertanyaan Munkar dan Nakir dengan sempurna.
Keberhasilan hidup kita di dunia dapat kita ketahui setelah kita tahu bahwa begitu lapangnya kuburan kita, dan kita ditemani oleh sosok gaib yang menyejukan mata yang merupakan simbol dari amal kehidupan kita di dunia ini.
Keberhasilan hidup kita di dunia ini dapat kita ketahui setelah kita mendapatkan tempat yang tertinggi di akhirat nanti, dan bersanding dengan orang orang yang salih lainnya. Suatu tempat yang indah, yang adalah tempat dimana kita dapat merasakan semua puncak kenikmatan kehidupan di akherat.
Keberhasilan hidup kita di dunia dapat kita ketahui setelah kita mampu lolos dari jilatan api neraka yang super panas dan tak tertanding.
Dunia merupakan suatu persinggahan, dimana didalamnya terdapat banyak ujian, cobaan, tangis, dan tawa. Tak ada yang abadi dalam Kehidupan. semua yang abadi adalah milik Allah SWT. Begitu pula dengan kehidupan manusia.
Semua kebahagian dan kesuksesan kita saat ini, bukan merupakan tolok ukur keberhasilan kita hidup dunia.
Setiap manusia mempunyai kehidupan masing masing. Tak ada manusia yang memiliki jalan kehidupan sama dengan manusia lainnya. Manusia adalah makluk unik. Milyaran manusia yang hidup sejak jaman Nabi Adam, mempunyai jalan kehidupan yang berbeda-beda. Namun satu tujuan..yaitu mencapai keberhasilan hidup di dunia.
Mari kita perbaiki sisa kehidupan kita. Tak perlu menyesali kehidupan masa lalu yang suram, karena keberhasilan kita hidup di dunia ada tolok ukurnya. Yaitu Jannah..surganya Allah SWT.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Oktober 2015 in Renungan

 

Tag: , , , , , ,