RSS

Arsip Kategori: Kaleidoskop

Ketika Itu tahun 1983

Tahun 1983. Saat umurku masih 7 thn, dan aku masih kelas 1 sekolah dasar. Masih teringat jelas peristiwa penggusuran itu. Pada saat aku pulang sekolah, aku terheran-heran kenapa rumah yang ketika itu kami tempati dirubuhkan oleh orang2 berseragam. Aku memang masih polos sekali, dan belum tahu apa yang dinamakan penggusuran. Rumah kami berada di daerah Halim, Jakarta. Penggusuran tersebut merupakan rencana dari pelebaran wilayah mabes AURI yang berada disana.

Setelah penggusuran tersebut, kami sekeluarga belum tahu harus pindah kemana, maklum karena itulah rumah satu-satu yang kami miliki. Akhirnya Bapak mendapatkan kontrakan untuk penampungan sementara keluarga kami. Kontrakan tersebut berada di daerah gang Pule, Kampung Rambutan. Setelah menetap dikontrakan tersebut selama beberapa bulan, Bapak membeli tanah di wilayah Merdeka I.

Masih teringat jelas saat-saat pertama kami menginjakan kaki di Kampung Rambutan. Pada saat awal pindah di gang Pule tersebut aku langsung di daftarkan di SDN 05 Ciracas. Rumah pertama kami yang di bangun di wilayah tanah Merdeka, sederhana sekali. Dengan membawa sisa-sisa kayu pada saat penggusuran di Halim, Bapak membangun rumah tersebut seadanya. Masih jelas sekali terekam dari ingatan saya, bahwa dinding rumah kami belum terbuat dari batu bata semua. Mungkin hanya setengah dari rumah, yang berdinding bata. Selebihnya adalah gedek (anyaman bambu).

Rumah yang sangat sederhana, apalagi ditambah belum adanya lisrik. Yah, listrik yang menerangi rumah kami baru masuk beberapa tahun kemudian. Karena masih jauhnya tiang listrik dari rumah kami, mungkin itu yang membuat PLN masih enggan menyambungkan listrik kami. Untuk penerangan, kami terpaksa menggunakan petromaks yang saat itu masih lebih populer dari ponsel. Sedangkan untuk menonton TV, kami menggunakan aki yang tiap dua hari sekali harus disetrum ulang.

Lingkungan rumah kami tinggal saat itu masih asri sekali. Tetangga kami dalam radius 100 meter mungkin hanya ada 5 rumah. Masih teringat juga dengan kebun salak yang ada di depan rumah kami. Kebun salak yang cukup luas, yg setiap malam saya selalu gerilya mengambil salak yang sudah matang. Di belakang rumah kami masih terbentang sawah yang hijau dengan padinya. Kemudian ada juga kali kecil yang airnya bening sekali. Saya sering sekali mandi di kali itu setelah pulang sekolah, karena airnya yang bening dan bersih. Juga masih terdapat banyak empang2 untuk pemeliharaan ikan, dengan ditaruh jamban diatasnya. Orang bisa buang hajat sekalian bersedekah memberi makan ikan. Toilet yang gratis, bahkan kata yang punya empang kita disuruh buang hajat sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin.

Transportasi di daerah kami saat itu masih sulit. Tidak seperti sekarang yang jumlah angkot lebih banyak dari pada jumlah penumpangnya. Transportasi pada saat itu kami mengandalkan becak yg masih bebas berkeliaran. Untuk jarak jauh, jalan kaki menuju ke tempat pemberhentian kopaja 502 yang mangkal di SMP 106, atau kami naik becak dulu menuju tempat metromini 47 yang mangkal di pertigaan Jl.Suci. Sulit sekali memang, apalagi jika kita harus bepergian untuk urusan mendadak pada malam hari.

Suasana dimalam hari di lingkungan kami sepi sekali. Apalagi jika sudah diatas jam 7 malam. Tak ada orang yang keluar, yang terdengar hanya suara jangkrik yang bernyanyi riang, dan suara binatang malam lainnya yang saling bersahutan. Tak ada suara tukang bakso, sate, somay….Yaah, jika malam hiburan kami hanya televisi hitam putih yang chanelnya hanya TVRI saja.

Kondisi akses jalan dari rumah kami menuju ke depan gang merdeka I juga masih memprihatinkan. Karena belum ada jalan yang di aspal. Jika sehabis hujan turun, untuk berangkat sekolah saya menggunakan kantong plastik kresek untuk membungkus sepatu agar tidak kotor dan basah. Dan kantong kresek tersebut saya buang jika sudah sampai di depan gang.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juni 2009 in Kaleidoskop

 

Tag: ,

SUATU SAAT DI SMA

Secara tidak sengaja ketika saya membuka-buka facebook, saya melihat teman SMA saya disana. Walaupun saya tidak bertemu dengan teman-teman sekelas saya, namun saya senang sekali karena bisa melihat mereka walaupun dari facebook.

Saya jadi teringat terus dengan teman-teman SMA saya. Terkenang lagi cerita-cerita indah masa lalu. Kemana perginya teman-teman SMA saya. Kemana teman-teman sekelas saya di SMA. Kemana si gatot, teddy jabrik, teddy kuntai, arif “ucup”, Arif “senggol”, Adi, Sarmili, Cakra, Apri, Ferry, … kemana perginya si Endah, Irma, Yunita, Yeti, Lisa, Wiwiek…

Pernah suatu waktu, saya dan semua teman laki-laki saya keluar kelas pada saat jam sekolah. Tidak ada tujuan jelas, hanya iseng saja karena saat itu guru kami tidak masuk. Ada tukang roti keliling yang mungkin tukangnya lagi buang air, roti di gerobak langsung kami ambil dan kami langsung lari menuju warteg di depan kantor kelurahan yang berada tepat disamping sekolah kami.

Ketika kami melakukan study tour ke Jogya, Sarmili, teman kami mematahkan ranjang di hotel kami menginap. Saat itu kami baru saja tiba di hotel, setelah melakukan perjalanan melelahkan dari jakarta ke Jogya. Setiba di kamar hotel, Tedy Jabrik langsung lompat ke tempat tidur diikuti oleh Gatot dan Arif “ucup”. Tapi sial buat Sarmili, karena pas dia lompat ketempat tidur, tempat tidur tersebut langsung patah di tengah. Terdengar suara keras yang kedengaran sampai keluar. Untung saja tidak ada petugas hotel yang mendengar suara tersebut. Langsung kami sambung tempat tidur tersebut dengan tali plastik seadanya. Dan tidak ada yang berani tidur di tempat tidur yang patah tersebut, karena takut akan patah lagi dan ketahuan. Untung saja sampai saat kami meninggalkan hotel tersebut. Para petugas hotel tersebut tidak ada yang tahu bahwa ada satu tempat tidur yang patah.

Suatu hari pada hari jumat, pada saat pelajaran bahasa inggris. Guru kami (lupa saya namanya..) masih asik memberikan wejangan pada kami. Pelajaran bahasa inggrisnya sih sudah selesai, tapi guru kami tersebut terus memberikan wejangan dan terus bercerita. Padahal waktu sudah hampir setengah 12 siang. Dan kami juga harus siap-siap shalat jumat. Saking kesalnya kami, sampai-sampai si Tedy “kuntai” yang bukan ketua kelas berteriak ,”Siap, berdoa mulai..” (kebiasaan kami saat awal pelajaran pada pagi hari dan siang hari waktu mau pulang, ketua kelas memberi aba-aba untuk berdoa). Entah mengapa bu guru tersebut langsung melotot kepada saya. Dikiranya saya yang memberi komando tadi. Alhasil, saya langsung diceramahi habis-habisan. Sampai-sampai guru tersebut membandingkan saya dengan murid yang lain tetapi dia murid tahun sebelumnya yang rajin dan kebetulan namanya sama dengan nama saya. Ya sudah, saya pasrah. Sambil menggerutu dalam hati. Ah, sialnya….

Biasanya anak-anak laki-laki di SMA punya tempat tongkrongan dengan genk nya saat pulang sekolah. Tempat tongkrongan kami adalah sebuah warung yang berada tepat di depan komplek pemadam kebakaran. Setiap pulang sekolah kami selalu kesana. Anggota genk nya pun tidak nambah. Itu-itu saja orangnya. Ada Gatot, Arif, Cakra, Adi, Sarmili, Fahrudin, Teddy jabrik dan kuntai, Nasir, Rojali, dan saya sendiri. Karena genk tersebut adalah genk perokok semua. Sampai-sampai saya pun kecanduan rokok dari hasil perbuatan nongkrong tersebut. Tapi kadang-kadang kami nimbrung dengan genk lain yang bukan perokok kaya Dani, Ferry, Arif senggol, Aryo, Beni…

Ada kejadian lagi yang gila. Pada saat itu kami sedang ujian ebta atau ujian kenaikan kelas ya. Saya juga lupa pada waktu ujian mata pelajaran apa. Pada saat itu kami baru saja mengerjakan soal, mungkin sekitar lima menit. Si Tedy item (jabrik) langsung keluar ruangan karena tidak bisa mengerjakan soal. Dan saya pun juga terkejut karena teman-teman saya juga keluar satu persatu meninggalkan ruang ujian. Akhirnya saya pun juga ikut-ikutan meninggalkan ruang ujian dan langsung menuju kantin. Tinggallah hanya wanita, an beberapa orang teman laki-laki saja yang tidak keluar. Setelah ujian selesai, kami langsung diceramahi guru pengawas.

Ah, Indahnya masa SMA………….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Maret 2009 in Kaleidoskop