RSS

Arsip Kategori: Catatan Perjalanan

Ini Medan Bung… 

Hari sudah gelap ketika saya mendarat di bandara Kualanamu, Medan. Kemewahan arsitektur bandara ini memang mengagumkan. Enak dilihat dan bersih, kesan saya terhadap bandara ini. 

Kami pun berjalan kearah stasiun kereta. Dengan membayar 100rb rupiah, saya pun akhirnya dapat merasakan kenyamanan naik kereta dari Kualanamu ke Medan. Sangat efisien memang naik kereta ke Medan. Hanya 30 menit, kami sudah sampai di Medan. Bandingkan jika kita menggunakan mobil, untuk sampai ke Medan dari Kualanamu membutuhkan waktu antara 1-1,5 jam perjalanan. Dengan kereta yang bersih, tepat waktu, tertib. Andaikan bandara soekarno  Hatta sudah ada kereta seperti ini, mungkin perjalanan dari rumah saya di Depok, tidak memakan waktu 4-5 jam. 

Tiba di Medan, kami langsung mencari makan disana. Tempat yang kami tuju adalah rumah makan Pondok Gurih yang terletak di jalan Katamso. Tidak salah saya, gulai kepala ikan kakap nya saya kasih nilai 9,5…lezat nian. 

Kenyang makan malam, kami beristirahat di hotel Grandhika. Hotel baru, cukup murah dan nyaman kamarnya. 

Siang hari, setelah melaksanakan tugas negara, kami singgah di masjid agung kota Medan. 

Masjid dengan arsitektur yang indah, yang terletak di tengah kota ini memang wajib dikunjungi. Tentu saja kami sholat disitu, tidak hanya sekedar foto- foto selfi. 

Tidak sah rasanya kalau ke Medan, kita tidak singgah di durian Ucok. Memang enak durian  disini, walau saya tahu, kalau durian yang dijual disini tidak hanya berasal dari Sumatera Utara saja. Namun provinsi – provinsi  lain juga mengekspor durian nya ke Medan. Karena itulah, durian Ucok tidak pernah kosong stok duriannya. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Maret 2017 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , , , ,

Sumbawa

Sumbawa merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sumbawa merupakan salah satu kepulauan yang berada di tengah laut.
Mendapat kesempatan untuk dinas ke Sumbawa, saya tentunya tidak ingin menyia-nyiakan hal ini.

Dan Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk melihat pemandangan nan indah di teluk sumbawa dan Pulau Moyo…IMG_20150908_175910[1]IMG_20150908_165057[1]

IMG_20151022_173230[1]IMG_20150908_180217[1]

IMG_20150908_180342[1]IMG_20150908_180420[1]IMG_20150908_174313[1]IMG_20151022_172758[1]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 September 2015 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , , , ,

Empat mata dengan Gunung Sinabung dan Sibayak

Saat berada di puncak Bukit Gundaling – Berastagi diketinggian 1575 meter dpl dan diapit oleh dua gunung besar Sibayak dan Sinabung, saya merasakan betapa kecilnya tubuh ini. Hamparan mata memandang penuh dengan pesona alam ciptaan Allah SWT. Ahh…cantik sekali, hijau, sejuk, dan sepanjang mata memandang hanyalah sebuah lukisan alam yang maha sempurna.IMG_20141212_173259[1]IMG_20141212_170354[1]

Sayang saya sampai ditempat itu pada sore hari. Andaikan saja saya berada di Bukit Gundaling dengan cuaca cerah tentu saya akan semakin terpana menikmati alam ini. Memang waktu yang paling cocok untuk berada di bukit ini adalah pagi hari. Jika sore hari, kabut sudah mulai menutupi dua gunung besar tersebut.

Jika kesini malam hari, kalau beruntung kita akan melihat batuk dari gunung Sinabung yang mengeluarkan lava pijar, Namun hal ini tentu tidak menguntungkan penduduk yang tinggal di kaki gunung tersebut.

Alhamdulillah saya dapat merasakan keindahan alam ini, walaupun saya tidak dapat mengabadikan pemandangan ini dengan baik. Hanya dengan berbekal kamera smartphone, dan kamera smartphone saya juga tidak dapat mengalahkan cahaya matahari yang berkilau.

IMG_20141212_171420[1] IMG_20141212_172101[1] IMG_20141212_173259[2] IMG_20141212_170735[1]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2014 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , , , , ,

Kendari

Turun dari pesawat kami dihadang oleh hujan yang cukup lebat. sekitar setengah jam kami menunggu untuk dijemput di bandara, akhirnya penjemput yang kami tunggu datang juga. Perjalanan dari bandara menuju hotel Grand Clarion sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun ditengah jalan, banyak terdapat jembatan-jembatan yang sedang dibetulkan. Sehingga ini menghambat perjalanan kami menuju hotel. Lelah setiba di hotel, ternyata saya masih harus menunggu untuk masuk kamar yang sedang dibersihkan setelah tamu terdahulu check out selama 1 jam.

Malam hari setelah kami beristirahat di hotel, kami mencari makan di lokasi dekat hotel. Ternyata di depan kami, sepanjang jalan menuju pantai kendari banyak dijumpai warung-warung makan. Kebanyakan warung-warung tersebut menjual makanan dari ikan laut. Kami pun dengan lahap menyantap ikan bawal segar yang dibakar lengkap dengan lalapan dan tempe goreng. Nikmat sekali, apalagi ditambah dengan semilir angin yang behembus dari laut. Setelah makan malam, kami berjalan-jalan sebentar di Lipo Mall sambil membeli makanan dan  minuman untuk dibawa ke hotel.

Pagi hari setelah sarapan, kami melanjutkan kunjungan kami ke Balitbang Sulawesi Tenggara hingga pukul 11 siang. Stelah selesa acara tersebut kamipun mencari makan. Ya ini lah saya cari, sinonggi. Makanan khas dari daerah Kendari yang terbuat dari sagu. Mirip papeda. Dengan berbagai pilihan kuah saya pun menyantap sinonggi tersebut dengan lahap. Walaupun pertama kali makan sagu, yang menurut saya cukup aneh rasanya, namun rasa dari kuah yang segar membuat saya makan sangat banyak.

Setelah  puas menikmati makan siang, kami pun berkeliling mencari oleh-oleh. Ternyata cemilan unggulan disini terbuat dari biji jambu mete. Cukup banyak variasi makanan olahan dari biji mete tersebut. Ada coklat, kripik, dan berbagai macam kue.
Puas berbelanja, saya langsung beristirahat dihotel. Dan malam harinya, kami makan malam di salah satu warung yang ada di teluk Kendari. Sambil menunggu makanan siap, kami menyantap pisang bakar ape. Ditemani oleh suara debur ombak yang menyatu dengan suara musik dangdut koplo…waww.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Juni 2014 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , ,

Sunyinya Lawang Sewu….

Lawang Sewu…

Sebuah tempat yang merupakan museum kereta api. Berada tepat di tengah kota Semarang. Menyimpan banyak keunikan dan misteri tersendiri….

2013-12-11 21.49.36 2013-12-11 21.51.44 2013-12-11 21.51.56 2013-12-11 21.55.50

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Januari 2014 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , , , , , ,

Pantai Losari Yang Tak Pernah Sunyi…

Baru kali ini saya bisa mendarat ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelumnya saya hanya transit di bandara, dan kali saya langsung masuk ke kota Makassar. Selamat datang di Makassar mas…

Namun sayang, waktu saya disini tidak lama hanya dua hari saja. Itu pun satu hari dipakai untuk fact finding data di Balitbangda. Selebihnya hanya satu hari bebas, itu pun juga saya harus mengejar pesawat jam 11 siang dari bandara.

Senja di Pantai Losari

Senja di Pantai Losari

Saya menginap di Losari hotel. Persis tepat di samping Pantai Losari yang tersohor itu. Suasana kamar yang enak, ditambah pemandangan pantai yang lepas membuat saya merasakan suatu yang lain disini. Sekitar jam 6 kurang 15 menit di sore hari, pemandangan dari jendela hotel sangat indah. Matahari yang seakan tenggelam di pantai Losari membuat nuansa lain yang sangat berkesan. Perlahan matahari tersebut masuk kedalam laut, dengan semburat warna kuning keemasan yang cerah tanpa awan. Sampai akhirnya matahari tersebut benar-benar masuk kedalam laut dan hilanglah sudah semburat kuning keemasan.

Lepas Isya, kami mencari makan malam di wilayah ini. Banyak pillihan menu didaerah ini. Sepanjang pantai Losari banyak sekali bertebaran warung-warung makan yang menjajakan makanan mulai dari yang tradisional sampai yang modern. Kami makan di salah satu warung yang kelihatannya ramai dengan pengunjung yang makan. Saya memesan nasi goreng spesial. Alangkah terkejutnya saya dengan nasi goreng yang diantarkan, karena warnanya merah mencolok. Namun, kata pelayan rumah makan tersebut, warna merah tersebut dihasilkan dari saus tomat. Namun rasanya aneh juga. Tidak pedas, tidak asin, tidak gurih, tidak manis juga, rasanya lurus saja…

Setelah makan, karena sudah melalui hari yang melelahkan kami pun langsung kembali ke hotel untuk beristirahat. Baru saja mau tidur terdengar suara riuh suara motor-motor yang sengaja di gas kencang. Sambil bangkit berdiri menuju jendela kamar hotel, saya melihat bagaimana ulah para remaja-remaja yang memakai motor. Kurang lebih 5 motor dengan suara yang gaduh baru lewat.

Baru saja lewat “genk motor”, ada lagi “genk motor” lain yang tidak kalah serunya. Jumlahnya kali ini sekitar 10 motor. Berisiiik sekali. Kantuk yang tadi sudah menghinggapi saya perlahan-lahan hilang. Dari jendela kamar hotel di lantai 4, saya memperhatikan suasana pantai Losari yang semakin malam semakin ramai. Ada yang asik berpacaran, bersenda gurau, bahkan ada pula yang berkelahi. Waduh…ramai sekali suasananya. Selang satu jam kemudian, kembali lewat rombongan “genk motor” yang jumlahnya jauh lebih banyak. Mungkin sekitar 20 motor, padahal ini bukan malam libur. Namun suasananya sudah seperti malam minggu saja.

Puas memperhatikan situasi di pantai Losari, saya pun tertidur. Sekitar jam 2 dini hari, saya terbangun oleh suara bising dari “genk motor” yang melintas kembali di depan hotel. Lebih gaduh, lebih berisik, dan lebih cetar….

Pagi hari setelah sarapan, saya berjalan-jalan di belakang hotel untuk mencari oleh-oleh. Tak lupa saya membeli balsem, minyak gosok, selain makanan untuk oleh-oleh keluarga dirumah.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2013 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , , , , , ,

Melesat diatas Suramadu

Tiba di kota surabaya kami disambut hujan deras. Haripun sudah sore, kami langsung melanjutkan perjalanan ke sumenep. Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang ada di pulau Madura.

Kondisi surabaya yang hujan deras, menyebabkan lalu lintas di kota ini macet dimana-mana. Niat saya ingin melihat jembatan suramadu di waktu hari terang, menjadi tertunda karena macetnya jalan cukup parah. Alhasil, saat melewati jembatan suramadu hari sudah malam dan hujan pun turun deras sehingga menghalangi pandangan saya.
Perjalanan menuju ke sumenep di malam hari membuat saya tidak dapat menikmati perjalanan. Apalagi banyak genangan air dijalan dan kemacetan yang mulai biasa di daerah Surabaya, membuat perjalanan kali ini cukup menyiksa bagi saya. Waktu tempuh dari Surabaya –  Sumenep dapat dilalui dalam 4-5 jam perjalanan, cukup lama juga ya apalagi kami juga langsung berangkat setiba kami dari bandara Juanda.

Jalur Surabaya – Sumenep adalah jalur yang cukup enak untuk dilalui kendaraan. Jalan yang 80% rata, dan tidak lurus membuat mobil bisa melaju di kisaran 80-100 km/jam. Perjalanan menuju ke Sumenep melewati 3 kabupaten di Madura, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sayang perjalanan di malam hari membuat saya tidak bisa melihat pemandangan di jalan. Alhasil, 2 jam terakhir di mobil yang membawa kami ke Sumenep saya tertidur pulas.

Sampai di Sumenep, sekitar jam 10 malam. Kami pun langsung chek in di hotel C1. Hotel ini berada di lingkungan perumahan. Mungkin pemilik hotel ini, sengaja membeli rumah-rumah yang berada di depan perumahan untuk dijadikan hotel. Dengan lingkungan hotel yang tidak terlalu ramai dan bersih, membuat hotel sekelas bintang tiga ini enak untuk dijadikan rujukan penginapan.

Lelah setelah mengarungi perjalanan seharian, saya pun langsung tertidur pulas di hotel tersebut.

Pagi hari, setelah sarapan pagi di hotel kami pun siap melanjutkan pekerjaan kami. Kedatangan kami rupanya sudah ditunggu oleh ratusan pelajar di Sumenep. Mereka sudah siap menerima materi yang akan diajarkan oleh tutor untuk pengenalan iptek.

Selesai acara dan makan siang bersama, kami pun bergesas meninggalkan lokasi. Karena hari sudah bertambah siang, dan cuaca sudah bertambah panas.  Namun bukan hotel yang kami tuju, melainkan rumah produksi batik tulis barokah yang berada di Sumenep. Koleksi batik disini memang punya kualitas yang bagus, namun harganya juga selangit bila dibandingkan dengan isi kantong saya yang pas-pas an. Hal ini lah yang memberatkan saya untuk berbelanja disini. Alhasil saya hanya minum kopi, sambil ngobrol dengan pemilik rumah batik dan teman saya di teras rumah.

Selesai berbelanja batik, kami pun istirahat di hotel.

Hari kedua kami di Pulau Madura, di isi dengan kegiatan di Universitas Madura yang berada di kabupaten Pamekasan untuk mengadakan diskusi dan sosialisasi mengenai etika penelitian. Selesai acara tersebut, kami melanjutkan perjalanan  ke Surabaya. Dalam perjalanan menuju Surabaya, kami mampir untuk makan siang di Bebek Sinjay yang berada di kabupaten Bangkalan. Baru kali ini saya makan daging bebek berasa lezat sekali. Daging bebek yang gurih dan empuk sangat mengundang selera makan kami. Warung makan ini memang hanya menyediakan daging bebek goreng, namun pengunjung yang datang kesini, ratusan orang setiap harinya. Berapa keuntungan setiap harinya ya….

Kenyang setelah terisi daging bebek dan kelapa muda, kami  pun melanjutkan perjalanan kami ke Surabaya. Namun sebelum kami menyeberangi jembatan Suramadu, pikiran kami tergoda untuk berbelanja batik di Bangkalan ini. Yang kami tuju adalah toko batik Athaya. Dengan kualitas yang sama dengan batik Sumenep, namun harga batik di Bangkalan ternyata lebih murah dari harga batik si Sumenep. Saya pun tak melewatkan kesempatan ini dengan berbelanja beberapa potong batik untuk oleh-oleh anak-anak di rumah. Apalagi nama toko tersebut, sama dengan nama belakang anak saya, Athaya…

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 April 2013 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , ,