RSS

Pantai Losari Yang Tak Pernah Sunyi…

01 Jul

Baru kali ini saya bisa mendarat ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelumnya saya hanya transit di bandara, dan kali saya langsung masuk ke kota Makassar. Selamat datang di Makassar mas…

Namun sayang, waktu saya disini tidak lama hanya dua hari saja. Itu pun satu hari dipakai untuk fact finding data di Balitbangda. Selebihnya hanya satu hari bebas, itu pun juga saya harus mengejar pesawat jam 11 siang dari bandara.

Senja di Pantai Losari

Senja di Pantai Losari

Saya menginap di Losari hotel. Persis tepat di samping Pantai Losari yang tersohor itu. Suasana kamar yang enak, ditambah pemandangan pantai yang lepas membuat saya merasakan suatu yang lain disini. Sekitar jam 6 kurang 15 menit di sore hari, pemandangan dari jendela hotel sangat indah. Matahari yang seakan tenggelam di pantai Losari membuat nuansa lain yang sangat berkesan. Perlahan matahari tersebut masuk kedalam laut, dengan semburat warna kuning keemasan yang cerah tanpa awan. Sampai akhirnya matahari tersebut benar-benar masuk kedalam laut dan hilanglah sudah semburat kuning keemasan.

Lepas Isya, kami mencari makan malam di wilayah ini. Banyak pillihan menu didaerah ini. Sepanjang pantai Losari banyak sekali bertebaran warung-warung makan yang menjajakan makanan mulai dari yang tradisional sampai yang modern. Kami makan di salah satu warung yang kelihatannya ramai dengan pengunjung yang makan. Saya memesan nasi goreng spesial. Alangkah terkejutnya saya dengan nasi goreng yang diantarkan, karena warnanya merah mencolok. Namun, kata pelayan rumah makan tersebut, warna merah tersebut dihasilkan dari saus tomat. Namun rasanya aneh juga. Tidak pedas, tidak asin, tidak gurih, tidak manis juga, rasanya lurus saja…

Setelah makan, karena sudah melalui hari yang melelahkan kami pun langsung kembali ke hotel untuk beristirahat. Baru saja mau tidur terdengar suara riuh suara motor-motor yang sengaja di gas kencang. Sambil bangkit berdiri menuju jendela kamar hotel, saya melihat bagaimana ulah para remaja-remaja yang memakai motor. Kurang lebih 5 motor dengan suara yang gaduh baru lewat.

Baru saja lewat “genk motor”, ada lagi “genk motor” lain yang tidak kalah serunya. Jumlahnya kali ini sekitar 10 motor. Berisiiik sekali. Kantuk yang tadi sudah menghinggapi saya perlahan-lahan hilang. Dari jendela kamar hotel di lantai 4, saya memperhatikan suasana pantai Losari yang semakin malam semakin ramai. Ada yang asik berpacaran, bersenda gurau, bahkan ada pula yang berkelahi. Waduh…ramai sekali suasananya. Selang satu jam kemudian, kembali lewat rombongan “genk motor” yang jumlahnya jauh lebih banyak. Mungkin sekitar 20 motor, padahal ini bukan malam libur. Namun suasananya sudah seperti malam minggu saja.

Puas memperhatikan situasi di pantai Losari, saya pun tertidur. Sekitar jam 2 dini hari, saya terbangun oleh suara bising dari “genk motor” yang melintas kembali di depan hotel. Lebih gaduh, lebih berisik, dan lebih cetar….

Pagi hari setelah sarapan, saya berjalan-jalan di belakang hotel untuk mencari oleh-oleh. Tak lupa saya membeli balsem, minyak gosok, selain makanan untuk oleh-oleh keluarga dirumah.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2013 in Catatan Perjalanan

 

Tag: , , , , , ,

One response to “Pantai Losari Yang Tak Pernah Sunyi…

  1. Andika Hermawan

    2 Juli 2013 at 3:53 am

    mantab view sunset nya 😀

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: