RSS

Menyusuri Perbukitan Purbalingga…

03 Jul

Perjalanan kami dimulai dari stasiun Gambir, Jakarta. Tiket kereta api Argo Dwipangga sudah ada ditangan kami dan jadwal berangkat yang tertera di tiket tersebut adalah pukul 8 pagi. Namun entah karena memang sudah terbiasa, atau karena ada alasan teknis, kami pun naik kereta jam 10 pagi dari stasiun gambir. Sebuah penantian yang cukup panjang karena saya berangkat jam 6 pagi dari rumah.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 6 jam, kamipun tiba di stasiun Purwokerto. Dan langsung kami menuju hotel yang sudah kami pesan untuk beristirahat.

Pagi hari setelah sarapan di hotel kamipun menuju Univ Jend Soedirman. Setelah acara di kampus selesai, kami langsung checkout hotel dan perjalanan dilanjutkan ke Purbalingga. Asyik juga jalur yang mesti yang kami lalui menuju Purbalingga. Dengan pemandangan kanan kiri saya hamparan sawah dan kebun yang menghijau, membuat mata kami sangat sayang untuk dipejamkan walaupun untuk tertidur sejenak saja. Tak lama setelah kami checkin hotel di purbalingga, kami bergegas masuk kembali ke mobil.

Tujuan kami adalah desa sanguweteng. Memang ini bukan lah salah satu tujuan perjalanan kami disini. Namun salah satu teman kami adalah penduduk pribumi daerah tersebut yang sudah merantau ke Jakarta. Maka tak ada salahnya kami menyempatkan diri untuk menengok seperti apa desa tersebut.

Perjalanan menuju desa tersebut menurut saya adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Dengan rute yang sangat curam di wilayah pegunungan, di kanan kiri kami adalah sebuah jurang yang sangat dalam membuat beberapa kali saya mencoba menahan nafas. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi harus melewati tanjakan yang sangat curam, dan beberapa kali pula adrenalin saya terpacu karena mobil yang saya tumpangi kesulitan untuk melewati tanjakan yang tinggi. Kondisi jalan yang sempit dan tidak semulus tol jagorawi, dan dibeberapa titik jalan tersebut rusak alias berlubang. Namun di sepanjang perjalanan tersebut, kami tidak melewati sebuah lukisan alam yang luar biasa. Hampir tidak berkedip mata saya menikmati hamparan lukisan alam tersebut. Mulai dari hutan pinus rindang sampai-sampai tak ada cahaya matahari dapat masuk, sawah yang hijau bergelombang seperti permadani mahal dari timur tengah, hutan lebat yang entah didalamnya terdapat apa.… sampai pohon glagah yang sangat bernilai di wilayah ini. Tiba di rumah teman kami waktu sudah sore. Suasana kental wilayah pedesaan jawa sudah terasa sejak kami turun dari mobil. Setelah masuk keruang tamu, hidangan pun mulai mengalir. Kami pun disuguhi makanan desa seperti jagung rebus, singkong bakar, kacang rebus, dan tentu saja mendoan sebagai salah satu produk makanan unggulan turut kami santap. Tidak menyangka setelah kami menyantap makanan tersebut, kami pun dipersilahkan untuk makan nasi yang sudah dipersiapkan dari tadi. Dengan langkah berat karena perut kami sudah tak muat lagi, kami pun dengan gagah mengambil hidangan tersebut. Sempurna sudah perjalanan kami.

Malam hari kami sempatkan diri untuk sekedar berjalan-jalan di alun-alun kabupaten Purbalingga. Berbagai jenis makanan dijajakan di alun-alun ini. namun karena tengki perut saya sudah diisi penuh di sanguweteng, saya pun hanya berjalan-jalan dan sekedar minum di alun-alun ini.

Hari ketiga kami di Purbalingga, kami sempatkan diri berkeliling melihat potensi-potensi unggulan dan sentra-sentra industri di Purbalingga. Tak lupa pula kami mengunjungi pusat pembudayaan tanaman glagah di desa Jingkang, Karang Jambu yang luasnya mencapai 900 Ha. Rupanya jalan yang menuju tempat budidaya tanaman glagah tersebut melewati jalan yang kami lalui kemaren menuju sanguweteng. Kembali kami menempuh perjalanan yang luar biasa.

Tiba di pusat pembudayaan tanaman glagah, kami kembali disuguhi sebuah pemandangan yang luar biasa. Tanaman glagah ini merupakan tanaman yang hidup subur di ketinggian tertentu.  Pohon glagah rupanya bersahabat dengan pohon pinus. Karena diantara ribuan pohon pinus yang sangat tinggi, terhampar pula ratusan hektar pohon glagah dibawahnya.

Berada di puncak pegunungan yang sejuk dengan angin yang bertiup kencang, membuat pohon-pohon pinus tersebut bergoyang kencang dan mengeluarkan suara seperti hujan yang sedang turun. Suasana seperti inilah yan membuat saya seakan tak mau kembali ke Jakarta.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Juli 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: