RSS

Lukisan Alam Pulau Rote

28 Des

Siang itu matahari tampak semangat sekali berdzikir. Udara yg panas di pelabuhan tenau kupang, membuat saya segera masuk ke kapal yg akan membawa kami kepulau rote.

Udara yg di dingin didalam baluran AC kapal, dan alunan ombak yang tenang mengantarkan mata saya kedalam lingkaran kantuk yang tak bisa saya tolak. Lumayan, saya dapat tertidur selama 1 jam di kapal ini. Tiba di dermaga pelabuhan Baa, kami pun disambut oleh sinar matahari yang terik.

Dalam benak saya sebelum saya tiba, Rote ini adalah sebuah wilayah yang gersang, tandus dan panas. Namun dugaan saya tersebut berbalik 180 derajat. Rote sebuah daerah yang hijau walaupun  memang panasnya cukup membuat kulit ini menjadi hitam.

Lama perjalanan dari pelabuhan Baa ke hotel tiberias sekitar setengah jam. Sepanjang jalan tersebut terbentang hamparan bukit bukit batu yang Terhampar seakan angkuh tak tertanding. Tiba di hotel tiberias, kekaguman saya pada alam ini semakin bertambah. Ya, tepat di hotel itu adalah hamparan laut yang biru dan kontras sekali dengan warna pasir yang putih di sepanjang pantai. Waw, inginsekali saya langsung menghambur kesana, namun ternyata kami masih melanjutkan perjalanan lagi ke pantai nemberala. Ah, pantai lagi. Bukankah di depan kita adalah pantai ?

Perjalanan menuju pantai nemberala adlah perjalanan yang sangat mengasyikan. Seakan membelah belantara hutan di rote, diselingi oleh rumah-rumah tradisional penduduk yang atapnya ditutupi oleh daun lontar. Hijau dan subur juga daerah rote ini, terbukti banyak pepohonan yang tumbuh subur diatas tebing batu.

Satu hal lagi yang unik di daerah rote adalah banyak rumah penduduk yang pagarnya dibuat dari batu-batu karang yang disusun sedemikian rupa, sehingga tampak cantik dan asri. Wah, kalo aktivis greeenpeace melihat batu-batu karang seperti ini, mungkin mereka sudah melakukan unjuk rasa besar-besaran.

Lamanya perjalanan ke arah pantai nemberala seakan pupus oleh keelokkan alam disiini. Terlebih saat rombongan kami singgah di salah satu rumah pnduduk asli yang atapnya ditutup lontar. Layaknya wartawan yang bertemu dengan narasumbernya, penduduk yang berjumlah satu orang tersebut bertubi-tubi dihujani pertanyaan oleh rombongan kami. Rupanya penduduk itu mendadak menjadi selebriti. Setelah puas menyerang penduduk tersebut dengan pertanyaan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Namun dalam perjalanan ke pantai nemberala, perhatian kami terfokus pada dinding karang yang tinggi di pinggir pantai yang berwarna putih bersih. Tidak mau kehilangan momen, kami pun bergegas turun dari mobil dan langsung menghambur ka pantai. Cantik nian pantai ini. Dengan bukit karang yang tinggi dan terjal, dengan pasir putih yan lembut, dengan air laut yang bening tembus pandang, dengan angin yang bertiup semilir, dengan siang hari yang cerah, dengan hati yang senang kami pun berfoto-foto ria di pantai itu. Layaknya foto model profesional, yang sedang diabadikan untuk cover kalender kami pun sibuk bergaya tanpa arahan apapun dari sang fotografer.

 

Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kepantai nemberala. Alhamdulillah, kami akhirnya sampai juga di pantai ini. Sepi sekali pantai ini. Tidak seperti bayangan saya, bahwa di pantai ini akan banyak sekali wisatawan yang berkunjung, tetapi pada hari itu hanya ada tiga orang turis saja yang berkunjung. Dan yang banyak berselancar hanyalah anak-anak pantai bertubuh mungil yang berkulit hitam, karena sering terpanggang sinar matahari. Mungkin salah satu dari mereka kelak akan menjadi juara dunia selancar air. Ingin rasanya ikut bersenang dan bermain bersama dengan anak2 itu, namun karena takut celana saya menjadi basah, saya urungkan niat mulia saya tersebut. Ombak di pantai ini tidaklah terlalu besar. Namun dalam bulan-bulan tertentu seperti bulan september pantai ini menjadi idola bagi peselancar dunia karena ombaknya yang sangat bagus. Angin yang semilir, air laut yang tampak hijau dan berkontras dengan biru, pantai yang bersih membuat saya seakan enggan meninggalkan pantai ini.

Kembali ke hotel tiberias, badan sudah terasa letih dan kantuk. Tak lama saya pun tertidur, dan terbangun pagi harinya dengan bersemangat. Setelah shalat subuh, saya langsung keluar kamar menuju pantai yang berada tepat di depan hotel.

Alangkah indahnya pantai ini. Pasir yang lembut, membenamkan kaki-kaki kokoh saya kedalam lautan pasir putih. Bukit batu itu tampak kokoh menjulang tinggi dengan pepohonan yang banyak tumbuh diatasnya. Banyak celah-celah di batu besar yang juga dihuni oleh burung-burung walet. Sebuah lukisan alam yang indah sekali….

Aku harus kembali kesini dilain waktu…

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Desember 2010 in Catatan Perjalanan

 

One response to “Lukisan Alam Pulau Rote

  1. Nabih

    9 Juni 2012 at 6:09 pm

    Wah, jadi makin ingin ke pulau paling selatan di Nusantara itu…

    Kapan ya???

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: