RSS

Menghijaukan Jakarta Yang Tak Lagi Hijau Oleh Hijaunya Dedaunan

19 Mei

Menurut beberapa pendapat orang, hijau adalah sebuah warna yang berarti teduh dan rimbun. Hijau disini dikaitkan dan dikonotasikan oleh sebagian orang dengan warna daun-daun dari tumbuhan.

Pembangunan yang tumbuh pesat di Jakarta, menyebabkan daerah hijau di Jakarta semakin berkurang. Diganti oleh warni-warni cat tembok dari ratusan gedung perkantoran dan perumahan yang menjulang tinggi. Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan, dan juga pusat bisnis di Indonesia adalah surga bagi para pencari keping rupiah. Hal inilah yang menyebabkan penduduk Jakarta membengkak terus setiap tahunnya.

Banjir tahunan yang rutin menyapa Jakarta disebabkan oleh rusaknya dan tidak terkelolanya sistem tata kelola lingkungan yang ada di Jakarta. Tidak adanya daerah resapan air, sungai-sungai penuh sampah, dan masih banyak lagi penyebab banjir tahunan yang melanda Jakarta adalah cermin dari semakin rusaknya lingkungan di kota ini.

Dengan luas wilayah Jakarta sekitar 66.000 hektar diperlukan setidaknya 9.240 hektar lahan hijau. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1985 tentang Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 2005, ruang terbuka hijau Ibu Kota harus mencapai 31,5 persen dari total luas wilayah. Atau setidaknya, 26,1 persen.

Ledakan jumlah penduduk di Jakarta, mau tak mau terus menggerus ruang hijau di kawasan ini. Daerah-daerah seperti bantaran sungaipun menjadi daerah hunian. Daerah bantaran sungai yang seharusnya banyak ditanami tumbuh-tumbuhan untuk pencegah erosi, saat ini malah ditumbuhi oleh banyaknya rumah-rumah kumuh sepanjang bantaran sungai tersebut.

Pelebaran jalan yang sudah dilakukan untuk menampung sarana transportasi warga juga berperan dalam memusnahkan tumbuh-tumbuhan yang sudah ada. Usaha mengurangi kemacetan lalu lintas menjadi dalih dari Pemprov DKI untuk pelebaran jalan. Hilangnya pohon-pohon dari akibat pelebaran jalan tersebut, kurang diimbangi dengan penanaman kembali pohon-pohon tersebut.

Jakarta sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Hal ini dipahami benar oleh Pemprov DKI dengan mendirikan gedung-gedung besar dan bertingkat. Gedung-gedung ini sebagai pengganti tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rindang, memang berfungsi sebagai penghalang sinar matahari agar tidak terkena ke kulit secara langsung. Namun gedung-gedung tersebut tidak dapat berfungsi sama sekali sebagai paru-paru kota. Dan juga tidak sejuk dipandang mata walau gedung tersebut di cat hijau sekalipun.

Upaya penanaman kembali pohon-pohon yang saat ini tengah digalakkan oleh Pemerintah, belum menuai hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan kondisi tanah di jakarta yang mulai hilang kesuburannya karena pencemaran lingkungan.

Upaya pendirian ruang hijau kota, jumlahnya masih sangat sedikit dan masih kalah bersaing dengan upaya pengaspalan dan penyemenan kota. Hal inilah yang membuat suhu di Jakarta bertambah panas, karena panas dari sinar matahari terpantul kembali ke atas permukaan bumi. Pemprov DKI harus secara konsisten mengupayakan jakarta yang hijau. Keseriusan dan usaha Pemprov DKI dalam hal penataan kembali lingkungan kota tidak akan berhasil apabila tidak di dukung oleh kesadaran masyarakat kota.

Kesadaran masyarakat harus dikembangkan dari sekarang. Dengan memulai dari hal-hal yang paling sederhana dan dapat dilakukan siapapun. Mulai dari membiasakan membuang sampah pada tempatnya (bukan sungai), menanam kembali minimal 1 pohon untuk satu orang, dan memakai produk-produk ramah lingkungan dapat menekan angka pencemaran lingkungan di Jakarta.

Ijin untuk pendirian bangunan/ gedung bertingkat harus dikaji ulang kembali. Dengan mudahnya pengurusan ijin tersebut, membuat jumlah bangunan di Jakarta menjadi bertambah banyak.

Ruang hijau di jakarta selain berfungsi sebagai paru-paru kota, juga berfungsi sebagai daerah resapan air. Hilangnya ruang hijau dijakarta, membuat kita semakin miris dan gelisah mengenai bagaimana nasib anak cucu kita dimasa yang akan datang. Bumi ini adalah warisan bagi anak cucu kita nantinya. Kalau bumi ini sudah rusak, lalu apa yang dapat kita wariskan bagi anak dan cucu kita di masa yang akan datang.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2010 in Sepak Pojok

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: