RSS

Empat hari di bumi Rafflesia

11 Mei

Langit siang itu bersinar terlalu terik ketika kami mendaratkan kaki di bumi Rafflesia. Sebuah wilayah yang baru pertama kali ini saya sambangi. Entah memang karena sedang musim kemarau, ataukah memang cuaca di Bengkulu seterik ini.

Tiba di bandara Fatmawati Sukarno saat itu pukul 15.30. Namun panasnya terasa seperti jam satu siang. Seharusnya kami sudah mendarat di Bengkulu dua jam yang lalu, namun karena keterlambatan jadwal perjalanan pesawat yang mundur sampai 2 jam saya akhirnya baru sampai disini. Benar-benar sebuah perjalanan yang melelahkan, karena dari rumah saya berangkat jam 9 pagi, namun sampai Bengkulu sudah jam 4 sore.

Kami pun langsung dibawa ke tempat penginapan kami di hotal Nala. Hotel tempat kami menginap memang bukanlah sebuah hotel berbintang. Namun seperti sebuah resort di pinggir pantai. Ya, memang penginapan saya tepat berada di pinggir pantai Panjang. Sampai di kamar hotel bukanlah beristirahat yang saya lakukan karena badan lelah, namun entah kenapa badan saya menjadi segar kembali. Tak lama setelah saya menaruh tas dikamar hotel, kemudian saya kunci dan saya langsung membaur dengan keramaian orang di sepanjang pantai panjang yang memang sangat panjang.

Beban kantuk yang sedari siang saya sandang, menjadi sirna tatkala saya menjejakkan kaki dipasir pantai. Anjungan alami yang membuat saya takjub. Lembut sekali pasir pantai ini. Enak dipijak dan enak digenggam. Pasir ini memang bukan berwarna putih, hitam juga tidak. Mungkin lebih tepat kalau disebut abu-abu. Namun kelembutan pasir ini yang membuat saya enggan mencabut kaki saya dari sini. Pandangan pun saya hamparkan ke pasir ini. Sambil terus asyik mengikuti langkah kaki yang tidak juga terasa lelah menelusuri pantai ini yang panjangnya sampai 7 KM. Tentu saja tidak sejauh itu saya berjalan, karena 7 kilo adalah jarak yang terlalu berat untuk saya tempuh.

Hari semakin sore, matahari pun terlihat mulai temaram terganti oleh cahaya merah menyala yang hampir tenggelam kedalam laut. Tak terasa sambil menikmati sunset yang terlampau indah untuk ditinggalkan, terdengar sayup-sayup alunan adzan magrib yang kembali memanggil dan mengingatkan hamba Nya untuk kembali bersujud.

Setelah menunaikan shalat magrib dan isya, kami keluar untuk makan malam. Dalam perjalanan menuju rumah makan saya memperhatikan keadaan pantai Panjang dimalam hari. Suasana pantai yang tadi sore ramai telah lenyap. Tak ada penerangan sama sekali, tak ada suara gaduh manusia. Gelap dan sunyi sekali pantai ini dimalam hari. Namun tampak dibalik kegelapan tersebut ada beberapa buah motor dan mobil yang parkir tersebar di sepanjang pantai. Entah kemana para pengendara kendaraan tersebut. Di dalam kegelapan tersebut, samar-samar saya melihat ada beberapa pasang pemuda dan pemudi yang menggunakan sarana kegelapan sebagai tempat memadu asmara….hemm.

Setelah makan malam dan masuk kembali ke penginapan, sayapun tertidur pulas dengan nyenyaknya. Tak terasa hari sudah pagi, saya pun bergegas sarapan dan melanjutkan acara perteman di Univ. Bengkulu. Selesai acara tersebut, sayapun dibawa keliling kota. Mulai dari rumah Bung Karno, Benteng Marlborugh, rumah Fatmawati. Lelah setelah berkeliling Bengkulu, kembali ke hotel untuk beristirahat.

Malam hari hujan turun dengan derasnya. Rencana makan malam diluar lagi akhirnya batal diganti oleh makan malam nasi goreng ala Hotel Nala. Lumayanlah sebagai pengganjal perut yang dari tadi sudah berisik.

Esok paginya, karena sudah tidak ada rencana kerja lagi, sayapun belum melepas selimut saya sampai pukul 8 pagi. Tidak ada agenda khusus hari ini kecuali berbelanja dan jalan-jalan. Dengan mengandalkan angkot yang ada, saya pun langsung hunting ke daerah Anggut, sebuah wilayah yang sepanjang jalan terdapat toko-toko souvenir dan makanan khas Bengkulu. (Lebih mirip malioboro kalo di Yogja). Banyak juga ragam makanan khas wilayah ini. Saya pun membeli lempok durian, manisan terong, kerupuk wortel. Niatnya sih mau diborong semua, namun apa daya uang tidak mendukung.

Hari terakhir saya di bengkulu saya habiskan waktu dengan berputar-putar kota kembali dan berbelanja lagi sambil menunggu waktu pemberangkatan pesawat yang jam 2 siang. Ternyata perkiraan saya tepat, pesawat kami di delay sampai pukul setengah lima sore. Alhasil, saya pun luntang-lantung di bandara sampai pukul 6 sore karena pesawat kembali didelay sampai pukul 18.30. Tiba di Bandara Soekarno Hatta saya pun bergegas mencari taksi agar cepat sampai dirumah. Namun apa daya, taksi yang saya tumpangi terjebak dalam kemacetan lalu lintas ibukota. Empat jam saya berada di taksi dan selama tenggelam dalam kemacetan hanya satu yang saya pikirkan, yaitu apakah nanti sampai di rumah saya masih dibukakan pintu rumah oleh istri saya karena pulang tengah malam……ohhh.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2010 in Catatan Perjalanan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: