RSS

Bajak-bajakan dengan Malaysia

08 Sep

Hubungan baik Indonesia dengan Malaysia, pada saat ini kembali memanas. Hal ini ditengarai oleh sifat Malaysia yang serakah dengan membajak beberapa kebudayaan lokal Indonesia. Seperti angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya, lagu rasa sayange, dan tari pendet,

Banyaknya klaim yang dilakukan oleh Malaysia, membuat kita bertanya kembali apakah benar bahwa memang Malaysia adalah bangsa pembajak ataukah mungkin hanya sekedar wacana yang sengaja dihembuskan oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan.
Aksi bajak dari Malaysia alhasil menimbulkan kontra dari bangsa Indonesia. Rakyat nampak mulai gerah dengan aksi Malaysia yang seenaknya sendiri membajak kebudayaan kita. Ditambah lagi dengan sikap pemerintah yang terkesan belum ada sikap yang tegas terhadap Malaysia.

Kebudayaan merupakan buah pikir dari peradaban manusia sepanjang masa. Kebudayaan satu daerah dengan daerah lain tidaklah sama, hal ini dipengaruhi oleh antara lain oleh faktor geografis, agama, sejarah. Dalam satu negara saja banyak keanekaragaman budaya di masyakarat. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada persamaan budaya antara daerah satu dengan daerah lainnya.

Indonesia dan Malaysia merupakan negara yang berasal dari rumpun melayu. Dengan letak negara yang berdampingan. Bahkan di Pulau Kalimantan, negara kita berbagi wilayah dengan Malaysia dan Brunei. Dengan posisi seperti ini bukan tidak mungkin ada kebudayaan yang sama antar negara. Apalagi dengan penduduk yang sama-sama mayoritas Muslim, tidak menutup kemungkinan kita berbagi budaya dengan negara tetangga. Apalagi masalah budaya adalah universal, kebudayaan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kebudayaan adalah warisan turun temurun dari generasi yang lampau.

Suatu kebudayaan belum tentu identik dengan suatu daerah. Batik misalnya, selama ini batik merupakan trandmark dari daerah Jawa, Tetapi batik juga dapat kita temui di Palembang, Bali, Kalimantan, bahkan dapat kita temui di Cina, Malaysia, Thailand, India dengan corak dan motif yang beraneka ragam. Jadi sangat lah tidak mungkin jika kita mengklam batik hanya milik Indonesia saja. Bagaimana dengan batik-batik di negara lain ?.

Faktor migrasi penduduk di suatu ke wilayah lain juga akan membuat kebudayaan tersebut berkembang di daerah tersebut. Reog Ponorogo misalnya. Dalam hal ini Reog yang merupakan kesenian asli dari daerah Jawa Timur, menjadi berkembang di Malaysia. Hal ini di sebabkan banyaknya para imigran dan TKI asal Jawa Timur yang menetap di Malaysia. Para imigran dan TKI ini mencoba mengembangkan dan mengenalkan kembali kesenian daerah asal mereka di Malaysia. Kemudian banyak warga negara dari Malaysia yang belajar kesenian Reog dari warga Indonesia disana. Setelah makin banyaknya warga Malaysia belajar kesenian Reog Ponorogo disana, media lah yang menghembuskan bahwa kesenian Reog Ponorogo di klaim sebagai kebudayaan Malaysia. Justru harusnya kita bangga dan senang bahwa kesenian Reog Ponorogo sudah mulai dikenal dan disukai orang luar negeri.

Demikian juga halnya dengan kesenian-kesenian lain yang saat ini banyak di klaim oleh media sebagai milik Malaysia. Kesenian-kesenian daerah yang semakin banyak di kenal dan populer orang di luar negeri. Seharusnya kita malah bangga, dan ikut senang karena kesenian tersebut dikenal di luar negeri, dan banyak orang asing yang belajar kesenian kita.
Tapi yang terjadi saat ini adalah, dimana kesenian kita sudah dikenal dan sering tampil di negara lain, malah dihujat. Karena kita menganggap kesenian tersebut sudah di klaim milik negara tersebut. Kita seharusnya bangga, karena tanpa promosi kita sudah berhasil mengenalkan Indonesia kepada dunia luar.

Kita bisa mengambil contoh negara Cina. Kesenian barongsai yang merupakan kesenian asll dari daratan Cina tersebut dapat berkembang di Indonesia. Masuknya barongsai di Indonesia juga merupakan jasa para imigran Cina yang banyak terdapat di bumi Indonesia. Para imigran-imigran tersebut mengenalkan dan mengembangkan kesenian Barongsai di Indonesia, sehingga banyak warga Indonesia yang belajar kesenian tersebut. Bahkan untuk acara-acara tertentu di Indonesia, Barongsai sudah sering ditampilkan. Dan hal ini tidak menjadi masalah bagi Cina. Mereka justru senang karena dengan demikian negara Cina mendapat promosi hebat. Contoh lain dari kebudayaan asing yang berkembang di Indonesia seperti misalnya Marawis/ gambus dari Timur Tengah.

Untuk masalah bajak membajak, indonesia mungkin berada di peringkat pertama di dunia. Dan kita tidak perlu malu untuk mengakui hal tersebut. Karena sebenarnya kita juga adalah bangsa pembajak seperti Malaysia. Hal yang sederhana bisa kita lihat adalah kaset dan CD bajakan yang banyak sekali ditemukan di pinggir jalan. Kaset dan CD tersebut bukan saja bajakan dari artis lokal, tetapi juga bajakan dari artis-artis top dunia, juga termasuk penyanyi-penyanyi dari Malaysia yang kita bajak.

Contoh lain adalah produk-produk dalam bentuk makanan, pakaian, dll. Dalam hal ini negara-negara yang kita bajak produknya sama sekali tidak mempermasalahkan adanya pembajakan produk mereka.

Bangsa yang dikenal sebagai bangsa pembajak adalah Cina. Ini bisa kita lihat dari produk-produk elektronik ataupun kendaraan bermotor buatan Cina. Cina memang lihai dalam meniru ataupun menjiplak produk elektronik atau kendaraan bermotor merk terkenal buatan amrika, Eropa, dan jepang. Tapi negara-negara yang dijiplak produknya atau di bajak oleh Cina tidak ada yang memprotes, dan dengan hasil-hasil produk-produk bajakan tersebut, perekonomian Cina mulai bangkit kembali.

Tindakan bajak membajak budaya, produk di dunia ini sudah lama terjadi. Budaya yang sifatnya universal dan terbuka membuat kebudayaan tersebut dapat berkembang diluar wilayah asalnya. Transformasi kebudayaan tersebut membuat kebudayaan semakin menarik karena lebih berkembang, lebih beragam. Dan efeknya adalah budaya tersebut dapat diterima, dipelajari juga dikembangkan oleh semua orang di dunia ini.

Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 8 September 2009 in Sepak Pojok

 

Tag: , ,

4 responses to “Bajak-bajakan dengan Malaysia

  1. rudy mulia

    9 September 2009 at 4:11 pm

    Mantap Mas…..
    ni tulisan bikin sendiri apa boleh ngebajak Juga
    hehehehehehehehehehehehe

    Pisssss……. Becanda Mas
    Tapi MAntap……

     
  2. Lawan

    15 September 2009 at 7:23 am

    membajak sama mengklaim itu beda lo mas

     
  3. me

    25 Maret 2010 at 10:58 pm

    aq ko agak gak setuju yah ma tulisan ini..bukannya udah terbukti malaysia mengklaim beberapa warisan indonesia n bukan aja makenya alias mempopulerkan..kan kemaren kaya batik, sempet malaysia mematen kan tapi alhamdulillahnya klaim itu dimentahkan ama unesco…kaya barongsai, kita semua tau di indonesia banyak, tapi kan orang indonesia g ngklaim itu budaya nya n sluruh dunia juga tau itu punya china, lain dengan yang dilakuin malaysia..

     
  4. evie

    14 September 2010 at 6:11 pm

    maaf mas… saya gak setuju kalo indonesia dibilang membajak hasil karya dari negara lain. saya juga gak setuju kalo indonesia dibilang menduduki peringkat pembajak nomor 1 di dunia.

    mas gak lihat cina? segala macam produk dari handphone, makanan, pakaian, dan masih banyak lagi, mereka bajak. mereka tiru. setidaknya, indonesia tidak pernah mengklaim hasil karya bangsa lain.

    beda sama malaysia yang truly maling asia. gak ada guna nya indonesia sok-sok baik sama negara tetangga yang kurang ajar itu. mereka itu merongrong kedaulatan NKRI

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: