RSS

Pontianak

10 Des

p1020899rotatedAkhir maret kemarin, saya kembali lagi melakukan perjalanan ke Pontianak. Masih dalam rangka perjanan dinas kantor (tidak pake duit sendiri). Pertama kali saya ke kota ini, pada tahun 2006 yang lalu. Tujuan kami kesini masih seperti pada tahun 2006 yang lalu, yaitu ke Lemlit Universitas Tanjungpura.

Tiba di bandara Supadio, waktu menunjukan pukul 19.00 WIB. Kedatangan kami sudah ditunggu orang dari Lemlit yang sengaja menjemput kami dari sore. Kami pun langsung diantar ke hotel Santika untuk beristirahat. Ternyata hotel ini terletak ditas pasar persis. Dan saya juga bingung karena dari 5 lantai yang terdapat di hotel ini tidak terdapat lantai 2 dan lantai 4, yang ada hanya lantai 1,3 dan 5. Saya bingung, sebenarnya hotel ini terdiri dari 5 lantai ataukah hanya tiga lantai saja………

Ah, nyenyak sekali tidur saya semalam, tidur sendirian tidak ada yang ganggu, ditempat yang nyaman pula. Jarang sekali saya tidur nyenyak seperti ini di jakarta. Biasanya kalau di jakarta saya tidur paling lama 4 jam dalam sehari (karena giliran dengan istri jaga anak).

Setelah sarapan di hotel, jam 09.00 pagi kami langsung ke lemlit Universitas Tanjungpura (Untan). Perjalanan dari hotel menuju lemlit Untan sendiri memakan waktu ±20 menit. Huh, panas sekali cuaca di Pontianak. Tapi masih kalah dengan jakarta soal panas, karena jika kita di Jakarta selain terkena panas matahari, kita juga mendapat panas dari aspal jalan yang mendapat pantulan cahaya matahari.

Acara di lemlit sendiri berakhir pada pukul 3 sore. Setelah diskusi selesai, kami mampir ke toko yang menjual berbagai macam makanan uintuk oleh-oleh kami. Malam harinya kami makan makanan sea food, dan cuci mulutnya dengan durian Pontianak….hemm……

Di hari ketiga, kami mempunyai waktu bebas yang kami gunakan untuk berjalan-jalan. Kunjungan kami pertama ke Tugu Katulistiwa. Ternyata tidak terlalu lama waktu yang digunakan untuk menempuh perjalanan menuju tugu tersebut. Cuaca di sekitar tugu terasa terik sekali. Tidak ada pengunjung lain di tugu tersebut selain rombongan kami. Setelah berada didalam tugu yang berhawa sejuk karena ber AC, kami langsung mengeluarkan kamera foto yang kami bawa.. Mumpung tak ada pengunjung lain, kami dengan pede bergaya seperti foto model sambil mengabadikan tugu tersebut. Setelah berfoto ria, kami mendapat banyak informasi dari petugas jaga tentang bangunan tugu tersebut. Sebagai kenang-kenangan, kami mendapat sertifikat tanda kunjungan kami ke Tugu Katulistiwa.

Dari tugu Katulistiwa kami melanjutkan dengan melihat-lihat sungai Kapuas dari dekat. Besar sekali sungai ini, dan ternyata sungai ini juga menjadi sarana transportasi utama di Kalbar. Ini bisa dilihat dari kapal-kapal besar yang lalu lalang di sungai Kapuas.

Perjalanan kami teruskan untuk mengunjungi kraton Kadariah. Dari luar keraton, saya sudah bisa melihat bahwa keraton tersebut tidak terawat dengan baik. Seharusnya sebagai objek wisata sejarah, keraton tersebut mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat.
Dari keraton ini pulalah saya mengetahui tentang asal-usul kota Pontianak. Asal nama Pontianak dipercayai bermakna Kuntilanak atau hantu perempuan. Konon, ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie tiba di daratan Pontianak , ia bertemu dengan hantu kuntilanak dan berhasil mengusirnya.

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak. Beliau dilahirkan pada tahun 1142 Hijriah / 1729/1730 M, putra Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam yang berasal Arab.
Tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana . Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong.
Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan sembahyang dhohor itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor.
Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan hantu Pontianak . Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini berdiri Mesjid Jami dan Keraton Kadariah.
Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya’ban 1192 Hijriah,bertepatan dengan hari isnen dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie.
Dibawah kepemimpinannya kerajaan Pontianak berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang cukup disegani.
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Radjab 1185 H), yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada 1192 H, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada Kesultanan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Jami’ Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Keraton Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur
Dengan bantuan Sultan Passir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur, dan Pontianak berdiri.
Dari keraton Kadariah kami kemudian makan siang, dan kemudian kembali meneruskan berbelanja souvenir-souvenir asli Pontianak.
Pukul tiga sore kami menuju bandara Supadio. Untuk kembali ke Jakarta. Ah, sayang kami hanya punya waktu dua hari disini. Andaikan masih ada waktu satu hari saja, kami berniat jalan-jalan ke Singkawang. Kapan lagi ya, saya kesini lagi……..

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Desember 2008 in Catatan Perjalanan

 

Tag: ,

2 responses to “Pontianak

  1. wardijein

    16 November 2009 at 1:04 am

    Salam kenal dari kami anak bangsa yang sedang berjuang demi kemakmuran dan keadilan …. mohon doa restu … http://www.tri-falaq-tunggallistik.com

    kami dan kawan – kawan telah bersepakat akan hijrah ke PONTIANAK … ( ke tempat yang nol )

     
  2. jabata

    29 Mei 2012 at 1:33 am

    ah…,rupanya hasil membajak utk mendirikan kesultanan,pantas saja ngk pernah mengakui org asli yg telah menolongnya & mengubur sejarah org2 asli utk pamornya sendiri…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: