Tukang Ojek dan Calo Tanah…

Seorang pengusaha dari korea pernah mengatakan bahwa dia tidak mempekerjakan kaum lelaki Indonesia, karena kaum lelaki Indonesia yang berpendidikan rendah cenderung pemalas dibandingkan dengan para wanitanya. Kaum laki-laki di Indonesia lebih senang menjadi tukang ojek dan calo tanah daripada bekerja. Dan kaum lelaki Indonesia cenderung menuntut hal yang berlebihan terhadap para pengusaha.

Jika kita perhatikan secara seksama memang hampir di setiap pertigaan jalan dan di depan gang kecil, sering terlihat para pengendara motor yang mencoba mangadu nasib dengan mengojek. Sebuah pekerjaan yang ringan, santai dan tidak terlalu menyita waktu. Dengan bermodal motor (kredit), semakin lama jumlah tukang ojek di Indonesia semakin bertambah banyak. Dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang beragam, para tukang ojek tersebut mencoba mengais rejeki dan bersaing dengan tukang ojek lain. Jika tidak mendapatkan pelanggan, para tukang ojek tersebut meluangkan waktu dengan mengobrol, main kartu, catur dan kegiatan lain yang tidak membuat jenuh.

Lain lagi dengan calo tanah. Di daerah jakarta ini masih banyak berkeliaran para calo tanah yang rata-rata adalah penduduk asli betawi (jakarta). Pendapatan yang tidak menentu (karena tidak setiap hari orang membeli tanah) membuat waktu mereka banyak terbuang percuma.

Banyak waktu yang terbuang percuma oleh para tukang ojek dan calo tanah  ini. Andaikan waktu yang kosong tersebut dimanfaatkan untuk berwirausaha, tentunya akan ada penghasilan tambahan selain mengojek motor dan calo tanah.

Mentalitas tukang ojek dan calo tanah tersebut merupakan perilaku bawaan dari muda. Andaikan dahulu mereka dibina untuk berwirausaha, mungkin kita tidak lagi melihat banyak tukang ojek dan calo tanah bersitegang berebut nafkah.

Filosofi Batu, Gunting dan Kertas…

Pernah bemain suwit batu, gunting dan kertas ?

Pada permainan suwit tersebut, batu dilambangkan dengan genggaman tangan, guting dilambangkan dengan dua jari, yaitu  telunjuk dan jari manis, dan kertas dilambangkan dengan tangan yang terbuka lebar. Peraturannya; batu mengalahkan gunting, gunting mengalahkan kertas, dan kertas mengalahkan batu.

Filosofi seperti itu mungkin juga dapat diterapkan kepada manusia.

Manusia bertipe adalah tipe manusia keras kepala dan cepat marah. Manusia bertipe batu ini tidak dapat dilawan dengan batu atau gunting yang sama-sama keras. Namun harus dilawan dengan benda yang lembut seperti kertas. Untuk orang yang bertipe batu atau keras kepala, dapat dilunakan dengan suatu dekapan atau rangkulan yang diibaratkan kertas yang membungkus/ membungkus/ merangkul batu.

Untuk orang yang bertipe gunting, gunting diibaratkan dengan orang yang suka memecah belah, suka memotong jalan pintas, suka merusak sesuatu yang sudah lurus. Orang yang bertipe seperti ini harus dihadapi oleh  manusia yang beripe batu. Ibarat batu yang memukul gunting hingga hancur dan tak ada kompromi.

Orang yang bertipe seperti kertas,  adalah orang yang tidak  kuat pendiriannya.  Mudah dibolak-balik, mudah terbang tertiup angin. Menghadapi orang seperti ini, harus menggunakan orang yang berkarakter seperti gunting. Karakter kertas tersebut harus dibentuk terlebih dahulu melalui gunting agar lebih mempunyai makna dalam hidupnya.

Dalam filosofi itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, tak ada sesuatu yang paling kuat. Diatas yang kuat, masih ada yang lebih kuat lagi. Tak ada orang yang benar-benar berada diatas orang lain. Semua manusia masih bisa dikalahkan dengan yang lainnya.

Semua filosofi tersebut diatas hanyalah sebuah filosofi yang dapat saja keliru…….

Air Mata Ryan…

Seseorang anak yang terlahir secara normal, tentu ingin dapat hidup normal. Namun kadangkala suatu keadaan memaksa seseorang tidak dapat menjalankan kehidupannya secara normal.

Ryan, seorang anak yang dulu pernah merasakan kerasnya hidup di jalanan, berurai air mata ketika menuturkan kisah hidupnya.

Orang tua yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dan jumlah anak yang banyak memaksa Ryan mengalah dan pergi merantau seorang diri. Ryan hanyalah seorang anak kecil yang seharusnya aktif berada di kelas pada jam sekolah.

Pada umur 14 tahun Ryan ikut dengan temannya untuk mencari peruntungan di Jakarta. Usia yang seharusnya mendapatkan bimbingan dan pengawasan ekstra ketat dari orang tua, tidak didapatkan oleh Ryan. Dengan seijin orangtuanya Ryan pun pergi mengembara ke Jakarta. Berbekal uang seadanya Ryan berangkat ke Jakarta menggunakan bis.

Tanpa ada bekal apapun yang dibawa ryan ke Jakarta, dan tidak ada sanak saudara yang berada di kota tersebut membuat Ryan akhirnya hidup menggelandang di kota Jakarta. Untuk mencari makan pun, Ryan mengamen di bis kota. Tidak terkadang Ryan pun, harus mencari makan dengan cara yang tidak halal seperti mencuri dan menakuti-nakuti orang  di dalam bis kota.

Tubuh yang penuh tato kecuali bagian muka, membuat penampilan Ryan menjadi seram dan menakutkan. Apalagi sebelum Ryan menakuti-nakuti orang di dalam bis kota, Ryan menenggak pil-pil atau minuman keras yang membuat dia menjadi berani terhadap siapapun. Kehidupan yang keras dan liar, membuat pribadi Ryan yang ramah sebelumnya manjadi beringas.

Orangtua Ryan tidak tahu sama sekali apa yang telah dilakukan oleh anaknya saat ini. Ryan belum pernah bertemu lagi oleh orangtuanya sejak dia meninggalkan kampung halamannya di Riau. Namun, dibalik penampilan Ryan yang dingin dan menakutkan tersebut, masih terbersit niatnya untuk kembali kekampung halamannya dan membantu orang tuanya di kampung. Keinginan itu sudah lama dia pendam, karena uang yang dia punya belum cukup untuk transport pulang ke Riau.

Setelah satu tahun hidup malang melintang di jalan, Ryan diajak oleh temannya untuk ikut ke sebuah panti sosial di daerah Bambu Apus. Sudah kurang lebih 6 bulan Ryan tinggal dipanti tersebut. Niat Ryan yang ingin kembal bisa meneruskan sekolahnya, tidak dapat diwujudkan karena tubuh Ryan yang sudah terlanjur penuh dengan tato, tidak dapat diterima di sekolah manapun. Alhasil, Ryan pun hanya mengikuti sekolah informal saja yang dia dapatkan sebagai bekal hidupnya kelak.

dan……..masih banyak Ryan yang lain hidup di jalanan ibukota.

Otonomi : Peluang dan tantangan…

Otonomi daerah merupakan jalur bagi pemerintah Negara Indonesia untuk dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Banyak perubahan yang terjadi pada saat diterapkannya otonomi daerah. Terutama setelah masa orde baru berakhir.

Sesuai dengan UU No 22 Tahun 1999 tentang kewenangan otonomi daerah, maka banyak perubahan yang terjadi dalam segi tatanan kepemerintahan di Indonesia atau lebih dikenal dengan Reformasi Birokrasi. Artinya terjadi perubahan dari segi birokrasi untuk menuju birokrasi yang baik atau dikenal Good Governance. Pada masa pemerintahan Soeharto atau orde baru segala kebijakan harus berdasar dari pemerintah pusat, ini dikarenakan pada waktu sebelum adanya otonomi daerah yang menggunakan prinsip desentralisasi. Pada saat ini segala sesuatu yang berhubungan dengan suatu daerah merupakan tanggung jawab daerah dan daerah tersebut berhak untuk mengambil keputusan dan kebijakan. Saat ini kita sering mendengar istilah perda, ini merupakan realita dari otonomi daerah bahwa suatu daerah berhak mengeluarkan peraturan terkait permasalahan yang terjadi di daerah dan ini sangat jauh sekali berbeda dengan masa dulu sebelum adanya otonomi daerah.

Untuk meningkatkan kefektifan dalam penyelenggaraan pemerintahan maka di sahkan peraturan baru yang mengatur tata pemerintahan daerah yaitu UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dengan dasar pertimbangan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga perlu diganti, serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antarsusunan pemerintahan dan antarpemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.

Dengan dikeluarkan peraturan baru tersebut maka dilaksanakanlah pemilihan umum secara langsung pada Pemilu tahun 2004 untuk memilih Presiden secara langsung, pemilihan kepala daerah serta pemilihan anggota DPR baik ditingkat Provinsi/kabupaten kota atau tingkat pusat. Ini merupakan pemilu yang pertama kali di Indonesia, dimana presiden dan wakil rakyat dipilih secara secara langsung oleh rakyat. Dengan begitu rakyat dapat memlilh wakilnya yang menurutnya dapat dipercaya untuk menjalankan amanat rakyat. Dengan adanya otonomi daerah diharapkan birokrasi dapat menjalankan amanat rakyat dengan baik,

Dengan otonomi daerah maka pemerintah daerah dapat mengatur rumah tangganya sendiri, dan dari segi ekonomi banyak sekali keutungan dari penerapan sistem desentralisasi atau otonomi daerah ini, dimana pemerintahan daerah akan mudah untuk mengelola sumber daya alam yang dimilikinya, dengan demikian apabila suber daya alam yang dimiliki telah dikelola secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat.

Perbandingan dibidang ekonomi pada era sebelum dan sesudah otonomi daerah pada dasarnya memiliki persamaan dan perbedaan, sama-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi dan otonomi daerah ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat.

Otonomi daerah dapat juga memberikan tantangan dalam pemerintahan, seperti pada pemilihan kepala daerah, kasus-kasus pemilihan pimpinan daerah sampai pemilihan Kepala Desa memunculkan pertengkaran warga diberbagai daerah menjadi ancaman bagi keutuhan persatuan serta kesatuan masyarakat. Bahkan sering KPU menggelar pilkada ulang pada suatu daerah, hal ini dikarenakan hasil pilkada tidak dapat dipertanggungjawabkan, ada yang bilang sarat dengan kecurangan dimulai dari adanya pemilih ganda, ada warga yang tidak dapat kartu pemilih atau hak pilih dan bahkan adanya kecurangan pada perhitungan suara atau manipulasi data para pemilih atau jumlah suara.

Dari pengamatan penulis, sistem sosial budaya Indonesia sejak diberlakukannya undang-undang otonomi daerah mengalami berbagai macam perubahan, akan tetapi tidak menjamin bahwa perubahan tersebut hanya dikarenakan oleh adanya otonomi daerah, Pada era reformasi sekarang ini, salah satu perkembangan sosial di masyarakat adalah adanya kebebasan untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat,, Hal ini berbeda sekali dengan era orde baru, dimana segala sesuatu diatur dan dilarang oleh pemerintah.

Pada saat sebelum diberlakukannya otonomi daerah, pengelolaan sumber daya dan potensi daerah diatur oleh pemerintah pusat. Hal ini membuat kecemburuan di berbagai daerah yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah, karena keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam dikuasai oleh pemerintah pusat. Namun setelah di terapkannya otonomi daerah, pengelolaan sumber daya alam dan segala potensi lokal, mutlak sepenuhnya dikelola oleh pemerintah daerah. Hal ini membuat daya saing daerah menjadi meningkat. Dan kecenderungan masyarakat untuk bermigrasi ke ibukota menjadi berkurang.

Di era reformasi sesudah otonomi daerah ini banyak sekali bermunculan organisasi-organisasi sosial dan parpol di Indonesia. Hal yang tidak kita temui dalam masa sebelum otonomi, dimana organisasi masa dan parpol pada saat itu tidak dapat tumbuh dan berkembang karena ketakutan rezim penguasa jika banyak organisasi massa dan parpol yang tumbuh dan berkembang.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Hijau Jakarta ku, Jernih air ku…

Air adalah suatu karunia Ilahi yang merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk di bumi. Tanpa air niscaya tidak ada makhluk yang dapat bertahan hidup. Keberadaan air dimuka bumi, jauh sebelum adanya mahkluk di bumi ini. Itulah pentingnya air bagi kehidupan manusia.

Perlindungan terhadap keberadaan serta keberlanjutan sumber daya air harus dijaga dengan baik. Air yang saat ini kita nikmati, adalah suatu warisan untuk anak cucu kita dimasa yang akan datang.

Kondisi air di Jakarta pada saat ini sudah dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Sungai-sungai, selokan di penuhi limbah buangan pabrik dan sampah rumah tangga. Kondisi ini membuat kualitas air di kota Jakarta semakin buruk. Air di sungai-sungai yang sudah tercemar akan kembali terserap kedalam bumi, dan kemudian akan dikonsumsi kembali oleh manusia.

Pesatnya pembangunan di Jakarta, membuat daerah hijau di Jakarta semakin menyempit. Lahan-lahan yang dahulu hijau, kini telah tertutup oleh semen dan aspal jalan. Semakin sedikit air yang meresap ke dalam tanah karena telah tertutup oleh semen dan aspal. Hal ini lah yang membuat banyak warga Jakarta pada saat musim kemarau mengalami kesulitan air bersih.

Jika musim hujan, jakarta seakan tak pernah luput dari problema banjir.  Hal ini tidak terlepas dari sistem drainase kota jakarta yang buruk. Dan juga timbunan-timbunan sampah yang mengganggu arus air sungai. Air yang tidak lagi meresap kedalam tanah, sungai dan selokan yang tidak lagi memadai, membuat air hujan menjadi tergenang.

Upaya Perlindungan  

Sebagai ibukota negara, Jakarta ternyata mampu menarik minat jutaan penduduk desa untuk berbondong-bondong bermigrasi ke Jakarta. Setiap tahun jumlah penduduk Jakarta semakin meningkat. Hal ini juga mesti diantisipasi oleh pemprov DKI untuk menyediakan air bersih ke seluruh warganya.  Perlunya dibatasi migrasi penduduk desa ke Jakarta, agar penduduk Jakarta tidak terlalu banyak.

Upaya perlindungan sumber daya air di Jakarta, mesti dimulai dari tingkat yang terkecil. Perlunya pembinaan kepada masyarakat yang berada di bantaran kali di Jakarta harus ditegakkan. Di setiap pemukiman penduduk, harus di buat tempat pembuangan sampah yang besar untuk menampung sampah rumah tangga 50 KK. Dan bagi penduduk yang membuang sampah ke sungai, harus ditindak dan diberi sangsi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Selain itu juga perlu dibangun kembali ruang hijau di tengah kota. Dengan terlebih dahulu diberikan batasan untuk membangun gedung di tengah kota. Ruang hijau ini bermanfaat selain agar air dapat merembes masuk kedalam tanah, juga berfungsi sebagai taman kota.

Hal lain yang juga pesti diperhatikan adalah perlunya dibangun danau-danau buatan ditengah kota. Danau-danau ini berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan di Jakarta, dan juga dapat difungsikan sebagai tempat rekreasi warga. Danau-danau yang ada saat ini kondisinya sangat parah.  Danau-danau tersebut seakan menjadi Tempat Pembuangan Sampah terakhir masyarakat.

Pencemaran Sungai-sungai di Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Air sungai berwarna hitam legam, sampah berserakan, ditambah bau yang menyengat membuat sungai di Jakarta tidak lagi menjadi tempat tinggal dari mahluk hidup seperti ikan. Banyaknya pabrik-pabrik yang membuang limbah ke sungai menjadi kendala serius bagi pemerintah. Tidak adanya undang-undang dan sangsi yang tegas untuk mengatasi hal ini, membuat semakin banyak limbah pabrik yang dibuang k esungai. Perlunya dibuat suatu undang-undang mengenai pembuangan limbah pabrik agar tidak lagi mencemari sungai. Selain limbah pabrik, limbah rumah tangga juga membuat air sungai tercemar. Air limbah keluarga yang tercemar detergen sebagian besar di buang ke selokan-selokan dan akan bermuara ke sungai.

Hal yang mesti terus digalakan pada saat ini adalah penanaman pohon di Jakarta. Setiap perumahan, diwajibkan harus ada penanaman pohon yang ditanam bukan di dalam pot minimal 1 pohon. Saat ini banyak perumahan di Jakarta yang tidak lagi menyisakan tanah untuk rembesan air ke bumi. Penanaman pohon ini dimaksudkan untuk membuat wilayah rembesan air semakin banyak. Gerakan ini harus digalakan kembali mengingat jumlah pohon di Jakarta semakin hari semakin sedikit jumlahnya.

AYO…JAKARTA BISA !!!

Menyusuri Perbukitan Purbalingga…

Perjalanan kami dimulai dari stasiun Gambir, Jakarta. Tiket kereta api Argo Dwipangga sudah ada ditangan kami dan jadwal berangkat yang tertera di tiket tersebut adalah pukul 8 pagi. Namun entah karena memang sudah terbiasa, atau karena ada alasan teknis, kami pun naik kereta jam 10 pagi dari stasiun gambir. Sebuah penantian yang cukup panjang karena saya berangkat jam 6 pagi dari rumah.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 6 jam, kamipun tiba di stasiun Purwokerto. Dan langsung kami menuju hotel yang sudah kami pesan untuk beristirahat.

Pagi hari setelah sarapan di hotel kamipun menuju Univ Jend Soedirman. Setelah acara di kampus selesai, kami langsung checkout hotel dan perjalanan dilanjutkan ke Purbalingga. Asyik juga jalur yang mesti yang kami lalui menuju Purbalingga. Dengan pemandangan kanan kiri saya hamparan sawah dan kebun yang menghijau, membuat mata kami sangat sayang untuk dipejamkan walaupun untuk tertidur sejenak saja. Tak lama setelah kami checkin hotel di purbalingga, kami bergegas masuk kembali ke mobil.

Tujuan kami adalah desa sanguweteng. Memang ini bukan lah salah satu tujuan perjalanan kami disini. Namun salah satu teman kami adalah penduduk pribumi daerah tersebut yang sudah merantau ke Jakarta. Maka tak ada salahnya kami menyempatkan diri untuk menengok seperti apa desa tersebut.

Perjalanan menuju desa tersebut menurut saya adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Dengan rute yang sangat curam di wilayah pegunungan, di kanan kiri kami adalah sebuah jurang yang sangat dalam membuat beberapa kali saya mencoba menahan nafas. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi harus melewati tanjakan yang sangat curam, dan beberapa kali pula adrenalin saya terpacu karena mobil yang saya tumpangi kesulitan untuk melewati tanjakan yang tinggi. Kondisi jalan yang sempit dan tidak semulus tol jagorawi, dan dibeberapa titik jalan tersebut rusak alias berlubang. Namun di sepanjang perjalanan tersebut, kami tidak melewati sebuah lukisan alam yang luar biasa. Hampir tidak berkedip mata saya menikmati hamparan lukisan alam tersebut. Mulai dari hutan pinus rindang sampai-sampai tak ada cahaya matahari dapat masuk, sawah yang hijau bergelombang seperti permadani mahal dari timur tengah, hutan lebat yang entah didalamnya terdapat apa.… sampai pohon glagah yang sangat bernilai di wilayah ini. Tiba di rumah teman kami waktu sudah sore. Suasana kental wilayah pedesaan jawa sudah terasa sejak kami turun dari mobil. Setelah masuk keruang tamu, hidangan pun mulai mengalir. Kami pun disuguhi makanan desa seperti jagung rebus, singkong bakar, kacang rebus, dan tentu saja mendoan sebagai salah satu produk makanan unggulan turut kami santap. Tidak menyangka setelah kami menyantap makanan tersebut, kami pun dipersilahkan untuk makan nasi yang sudah dipersiapkan dari tadi. Dengan langkah berat karena perut kami sudah tak muat lagi, kami pun dengan gagah mengambil hidangan tersebut. Sempurna sudah perjalanan kami.

Malam hari kami sempatkan diri untuk sekedar berjalan-jalan di alun-alun kabupaten Purbalingga. Berbagai jenis makanan dijajakan di alun-alun ini. namun karena tengki perut saya sudah diisi penuh di sanguweteng, saya pun hanya berjalan-jalan dan sekedar minum di alun-alun ini.

Hari ketiga kami di Purbalingga, kami sempatkan diri berkeliling melihat potensi-potensi unggulan dan sentra-sentra industri di Purbalingga. Tak lupa pula kami mengunjungi pusat pembudayaan tanaman glagah di desa Jingkang, Karang Jambu yang luasnya mencapai 900 Ha. Rupanya jalan yang menuju tempat budidaya tanaman glagah tersebut melewati jalan yang kami lalui kemaren menuju sanguweteng. Kembali kami menempuh perjalanan yang luar biasa.

Tiba di pusat pembudayaan tanaman glagah, kami kembali disuguhi sebuah pemandangan yang luar biasa. Tanaman glagah ini merupakan tanaman yang hidup subur di ketinggian tertentu.  Pohon glagah rupanya bersahabat dengan pohon pinus. Karena diantara ribuan pohon pinus yang sangat tinggi, terhampar pula ratusan hektar pohon glagah dibawahnya.

Berada di puncak pegunungan yang sejuk dengan angin yang bertiup kencang, membuat pohon-pohon pinus tersebut bergoyang kencang dan mengeluarkan suara seperti hujan yang sedang turun. Suasana seperti inilah yan membuat saya seakan tak mau kembali ke Jakarta.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu Nanti…

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini banyak terlihat anak-anak kecil di setiap lampu merah. Yang bukan hanya sekedar menjajakan asongan, namun juga sudah tampak meminta-minta uang dengan setengah memaksa.  Ada pula anak kecil yang menghampiri kendaraan dengan membawa gendang kecil sambil melantunkan lagu dangdut. Dengan raut wajah yang iba, berharap agar ada uang receh yang jatuh di telapak tangannya.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini banyak anak-anak sekolah yang tawuran. Dengan bersenjatakan kayu, batu, parang, golok, dan ikat pinggang bergerigi baja. Membabi buta,  sabet sana sabet sini, lempar sana lempar sini, gebuk sana gebuk sini, seolah tak ada lagi rasa perikemanusiaan antar sesama pelajar.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini pergaulan anak–anak muda semakin tidak terkendali. Anak-anak sekolah banyak yang bergaul bebas, antara wanita dan pria tanpa ada batasan yang ketat. Di tempat terbuka untuk umum dan juga tempat-tempat sepi seperti lapangan bola, pojok taman, dan kuburan hampir ada pasangan anak manusia yang sedang asyik menikmati buaian iblis. Dan akibatnya, banyak berita tentang kasus janin  ditemukan di tempat sampah, selokan, dan dihanyutkan di kali/ sungai.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika banyak kasus pelecehan seksual pada anak muncul di koran-koran ibukota, mulai dari pelecehan seksual anak di bawah umur, dan pemerkosaan menjadi headline di surat-surat kabar nasional.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika banyak anak anak kecil banyak yang aktif menggunakan narkoba, membuat bangsa ini menjadi pasar yang empuk bagi peredaran narkoba lintas negara. Dari narkoba kelas atas sampai lem aibon dan bunga kecubung yang banyak di konsumsi oleh para remaja.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini tayangan media massa visual sudah tidak lagi layak ditonton oleh anak-anak. Karena banyak adegan sensual dan adegan kekerasan yang dibungkus rapi dalam satu paket bermerk sinetron di jam tayang prime time. Dan banyak bermunculan Film-film sampah di bioskop buatan anak negeri yang hanya mencari untung dengan mengandalkan sisi horor dan seksualitas semata.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika kau sudah berusia 20 atau 30 tahun. Masa-masa kecilmu yang suram tentu akan selalu berbekas di dalam relung hati dan gumpalan otak mu secara jelas. Dan belum tentu engkau akan sanggup merubah suram itu menjadi sebuah warna yang kuning keemasan.

Lukisan Alam Pulau Rote

Siang itu matahari tampak semangat sekali berdzikir. Udara yg panas di pelabuhan tenau kupang, membuat saya segera masuk ke kapal yg akan membawa kami kepulau rote.

Udara yg di dingin didalam baluran AC kapal, dan alunan ombak yang tenang mengantarkan mata saya kedalam lingkaran kantuk yang tak bisa saya tolak. Lumayan, saya dapat tertidur selama 1 jam di kapal ini. Tiba di dermaga pelabuhan Baa, kami pun disambut oleh sinar matahari yang terik.

Dalam benak saya sebelum saya tiba, Rote ini adalah sebuah wilayah yang gersang, tandus dan panas. Namun dugaan saya tersebut berbalik 180 derajat. Rote sebuah daerah yang hijau walaupun  memang panasnya cukup membuat kulit ini menjadi hitam.

Lama perjalanan dari pelabuhan Baa ke hotel tiberias sekitar setengah jam. Sepanjang jalan tersebut terbentang hamparan bukit bukit batu yang Terhampar seakan angkuh tak tertanding. Tiba di hotel tiberias, kekaguman saya pada alam ini semakin bertambah. Ya, tepat di hotel itu adalah hamparan laut yang biru dan kontras sekali dengan warna pasir yang putih di sepanjang pantai. Waw, inginsekali saya langsung menghambur kesana, namun ternyata kami masih melanjutkan perjalanan lagi ke pantai nemberala. Ah, pantai lagi. Bukankah di depan kita adalah pantai ?

Perjalanan menuju pantai nemberala adlah perjalanan yang sangat mengasyikan. Seakan membelah belantara hutan di rote, diselingi oleh rumah-rumah tradisional penduduk yang atapnya ditutupi oleh daun lontar. Hijau dan subur juga daerah rote ini, terbukti banyak pepohonan yang tumbuh subur diatas tebing batu.

Satu hal lagi yang unik di daerah rote adalah banyak rumah penduduk yang pagarnya dibuat dari batu-batu karang yang disusun sedemikian rupa, sehingga tampak cantik dan asri. Wah, kalo aktivis greeenpeace melihat batu-batu karang seperti ini, mungkin mereka sudah melakukan unjuk rasa besar-besaran.

Lamanya perjalanan ke arah pantai nemberala seakan pupus oleh keelokkan alam disiini. Terlebih saat rombongan kami singgah di salah satu rumah pnduduk asli yang atapnya ditutup lontar. Layaknya wartawan yang bertemu dengan narasumbernya, penduduk yang berjumlah satu orang tersebut bertubi-tubi dihujani pertanyaan oleh rombongan kami. Rupanya penduduk itu mendadak menjadi selebriti. Setelah puas menyerang penduduk tersebut dengan pertanyaan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Namun dalam perjalanan ke pantai nemberala, perhatian kami terfokus pada dinding karang yang tinggi di pinggir pantai yang berwarna putih bersih. Tidak mau kehilangan momen, kami pun bergegas turun dari mobil dan langsung menghambur ka pantai. Cantik nian pantai ini. Dengan bukit karang yang tinggi dan terjal, dengan pasir putih yan lembut, dengan air laut yang bening tembus pandang, dengan angin yang bertiup semilir, dengan siang hari yang cerah, dengan hati yang senang kami pun berfoto-foto ria di pantai itu. Layaknya foto model profesional, yang sedang diabadikan untuk cover kalender kami pun sibuk bergaya tanpa arahan apapun dari sang fotografer.

 

Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kepantai nemberala. Alhamdulillah, kami akhirnya sampai juga di pantai ini. Sepi sekali pantai ini. Tidak seperti bayangan saya, bahwa di pantai ini akan banyak sekali wisatawan yang berkunjung, tetapi pada hari itu hanya ada tiga orang turis saja yang berkunjung. Dan yang banyak berselancar hanyalah anak-anak pantai bertubuh mungil yang berkulit hitam, karena sering terpanggang sinar matahari. Mungkin salah satu dari mereka kelak akan menjadi juara dunia selancar air. Ingin rasanya ikut bersenang dan bermain bersama dengan anak2 itu, namun karena takut celana saya menjadi basah, saya urungkan niat mulia saya tersebut. Ombak di pantai ini tidaklah terlalu besar. Namun dalam bulan-bulan tertentu seperti bulan september pantai ini menjadi idola bagi peselancar dunia karena ombaknya yang sangat bagus. Angin yang semilir, air laut yang tampak hijau dan berkontras dengan biru, pantai yang bersih membuat saya seakan enggan meninggalkan pantai ini.

Kembali ke hotel tiberias, badan sudah terasa letih dan kantuk. Tak lama saya pun tertidur, dan terbangun pagi harinya dengan bersemangat. Setelah shalat subuh, saya langsung keluar kamar menuju pantai yang berada tepat di depan hotel.

Alangkah indahnya pantai ini. Pasir yang lembut, membenamkan kaki-kaki kokoh saya kedalam lautan pasir putih. Bukit batu itu tampak kokoh menjulang tinggi dengan pepohonan yang banyak tumbuh diatasnya. Banyak celah-celah di batu besar yang juga dihuni oleh burung-burung walet. Sebuah lukisan alam yang indah sekali….

Aku harus kembali kesini dilain waktu…

Manusia-manusia Setengah Dewa…

Seorang manusia tetaplah manusia, tidak akan pernah berubah menjadi dewa atau malaikat…

Sewaktu melihat berita tentang kematian Gusdur, saya terkejut sekali melihat banyaknya para peziarah yang seakan berebutan mendekati kuburan dari Gus Dur. Rasa terkejut saya semakin bertambah ketika menyaksikan banyaknya para peziarah yang mengambil tanah kuburan dan bunga yang berada diatasnya. Entah apa maksudnya, tetapi menurut sumber berita tersebut tanah dan bunga yang ditabur diatas kubur Gus Dur akan menjadi berkah tersendiri bagi yang mengambilnya. Sulit dipercaya dengan akal sehat, bagaimana tanah kuburan dan bunga bisa menjadi berkah dan tuah tersendiri bagi yang mengambilnya. Inilah salah satu bukti nyata bahwa masih banyak orang Indonesia yang begitu mendewakan seorang manusia.

Contoh lainnya adalah dengan di junjung tingginya para ulama. Memang tak ada larangan untuk kita mengagumi seorang ulama besar, namun janganlah berlebihan karena mereka hanyalah manusia juga. Seorang Habib misalnya, ada beberapa orang dari pengikutnya yang sangat fanatik. Sampai-sampai beberapa orang tersebut berebutan air minum sisa dari sang Habib tersebut. Padahal hanya air putih biasa, entah apakah rasa dari air minum Habib tersebut terasa lebih enak. Sehingga orang saling berebut untuk mendapatkannya. Ataukah memang ada kasiat lain yang didapat setelah air itu di minum oleh sang Habib. Contoh yang paling aktual adalah kasus Mbah Priuk. Dimana masyarakat disekitar makam Mbah Priuk tersebut sangat menjaga makam tersebut. Satpol PP yang bermaksd menertibkan bangunan liar di sekitar makam tersebut, mendapat perlawanan sengit dari warga yang mengira bahwa makam terebut akan di bongkar. Hasilnya, beberapa orang tewas dan banyak yang terluka.

Ponari, sebuah fenomena lain dari Jombang. Ponari adalah seorang dukun kecil yang mempunyai batu sakti di tangannya. Karena kesaktianya, Ponari pun menjadi manusia yang sangat berharga sekali. Sampai-sampai air bekas cuci kaki/tangan Ponari menjadi rebutan, karena banyak khasiatnya.

Masih banyak kisah-kisah lain dalam kehidupan manusia di dunia ini. Dan masih banyak pula hal-hal yang mesti kita perbaiki dalam memperbaiki kualitas hidup manusia. Dan juga masih banyak hal-hal yang mesti kita luruskan dalam kehidupan umat beragama saat ini.

Menghijaukan Jakarta Yang Tak Lagi Hijau Oleh Hijaunya Dedaunan

Menurut beberapa pendapat orang, hijau adalah sebuah warna yang berarti teduh dan rimbun. Hijau disini dikaitkan dan dikonotasikan oleh sebagian orang dengan warna daun-daun dari tumbuhan.

Pembangunan yang tumbuh pesat di Jakarta, menyebabkan daerah hijau di Jakarta semakin berkurang. Diganti oleh warni-warni cat tembok dari ratusan gedung perkantoran dan perumahan yang menjulang tinggi. Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan, dan juga pusat bisnis di Indonesia adalah surga bagi para pencari keping rupiah. Hal inilah yang menyebabkan penduduk Jakarta membengkak terus setiap tahunnya.

Banjir tahunan yang rutin menyapa Jakarta disebabkan oleh rusaknya dan tidak terkelolanya sistem tata kelola lingkungan yang ada di Jakarta. Tidak adanya daerah resapan air, sungai-sungai penuh sampah, dan masih banyak lagi penyebab banjir tahunan yang melanda Jakarta adalah cermin dari semakin rusaknya lingkungan di kota ini.

Dengan luas wilayah Jakarta sekitar 66.000 hektar diperlukan setidaknya 9.240 hektar lahan hijau. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1985 tentang Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 2005, ruang terbuka hijau Ibu Kota harus mencapai 31,5 persen dari total luas wilayah. Atau setidaknya, 26,1 persen.

Ledakan jumlah penduduk di Jakarta, mau tak mau terus menggerus ruang hijau di kawasan ini. Daerah-daerah seperti bantaran sungaipun menjadi daerah hunian. Daerah bantaran sungai yang seharusnya banyak ditanami tumbuh-tumbuhan untuk pencegah erosi, saat ini malah ditumbuhi oleh banyaknya rumah-rumah kumuh sepanjang bantaran sungai tersebut.

Pelebaran jalan yang sudah dilakukan untuk menampung sarana transportasi warga juga berperan dalam memusnahkan tumbuh-tumbuhan yang sudah ada. Usaha mengurangi kemacetan lalu lintas menjadi dalih dari Pemprov DKI untuk pelebaran jalan. Hilangnya pohon-pohon dari akibat pelebaran jalan tersebut, kurang diimbangi dengan penanaman kembali pohon-pohon tersebut.

Jakarta sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Hal ini dipahami benar oleh Pemprov DKI dengan mendirikan gedung-gedung besar dan bertingkat. Gedung-gedung ini sebagai pengganti tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rindang, memang berfungsi sebagai penghalang sinar matahari agar tidak terkena ke kulit secara langsung. Namun gedung-gedung tersebut tidak dapat berfungsi sama sekali sebagai paru-paru kota. Dan juga tidak sejuk dipandang mata walau gedung tersebut di cat hijau sekalipun.

Upaya penanaman kembali pohon-pohon yang saat ini tengah digalakkan oleh Pemerintah, belum menuai hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan kondisi tanah di jakarta yang mulai hilang kesuburannya karena pencemaran lingkungan.

Upaya pendirian ruang hijau kota, jumlahnya masih sangat sedikit dan masih kalah bersaing dengan upaya pengaspalan dan penyemenan kota. Hal inilah yang membuat suhu di Jakarta bertambah panas, karena panas dari sinar matahari terpantul kembali ke atas permukaan bumi. Pemprov DKI harus secara konsisten mengupayakan jakarta yang hijau. Keseriusan dan usaha Pemprov DKI dalam hal penataan kembali lingkungan kota tidak akan berhasil apabila tidak di dukung oleh kesadaran masyarakat kota.

Kesadaran masyarakat harus dikembangkan dari sekarang. Dengan memulai dari hal-hal yang paling sederhana dan dapat dilakukan siapapun. Mulai dari membiasakan membuang sampah pada tempatnya (bukan sungai), menanam kembali minimal 1 pohon untuk satu orang, dan memakai produk-produk ramah lingkungan dapat menekan angka pencemaran lingkungan di Jakarta.

Ijin untuk pendirian bangunan/ gedung bertingkat harus dikaji ulang kembali. Dengan mudahnya pengurusan ijin tersebut, membuat jumlah bangunan di Jakarta menjadi bertambah banyak.

Ruang hijau di jakarta selain berfungsi sebagai paru-paru kota, juga berfungsi sebagai daerah resapan air. Hilangnya ruang hijau dijakarta, membuat kita semakin miris dan gelisah mengenai bagaimana nasib anak cucu kita dimasa yang akan datang. Bumi ini adalah warisan bagi anak cucu kita nantinya. Kalau bumi ini sudah rusak, lalu apa yang dapat kita wariskan bagi anak dan cucu kita di masa yang akan datang.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.