Ke Jakarta aku kan ke Bali…..
04 Des 2009 1 Komentar
Ini adalah kunjungan ke dua saya ke bali, setelah tahun 2007 lalu saya berkunjung kesini. Masih dalam balutan embel-embel raker. Padahal rakernya hanya dua jam, selebihnya diisi dengan jalan-jalan.
Kami tiba di bali pada pukul 15.00 (jam jakarta), langung kami diantar oleh bis yang sudah menunggu kami ke komplek Uluwatu. Sambil menunggu pagelaran tari kecak yang akan diadakan pa
da jam 6 sore, kami sempatkan diri untuk berfoto ria dengan para penghuni tetap komplek uluwatu yang jumlahnya ratusan. Setelah selesai menonton pagelaran tari kecak tersebut, rombongan kami langsung menuju rumah makan. Karena kami tadi tidak sempat makan siang, maka setiba di rumah makan dengan setengah beringas dan liar kami langsung menyerbu makanan yang ada. Tanpa mempedulikan lagi bahwa daging sapi yang kami makan rasanya seperti sendal jepit karena begitu alotnya, dan ayam goreng yang seperti batu karena kerasnya.
Malam semakin larut, dan kami pun tertidur pulas sekali di dalam buaian AC yang sejuk didalam kamar hotel. Malam berlalu terasa cepat sekali, dengan mata masih menahan kantuk yang sangat saya bergegas mandi dan sarapan. Karena jam 9 pagi ini kami akan mengadakan raker. Acara raker sendiri sebenarnya tidak terlalu resmi, karena tujuan kami sebenarnya adalah murni jalan-jalan. Raker tersebut berlangsung hanya dua jam. Setelah raker tersebut selesai, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Kampung Nusantara, sebuah tempat yang menjual berbagai cinderamata dan makanan khas Bali. Tidak lama kami di Kampung Nusantara kami pun menuju Joger dan Tanah Lot.
Suasana di Tanah Lot pada pukul 4 sore terasa ramai. Mungkin karena banyak wisatawan yang sengaja menunggu sunset disana. Memang terasa indah menunggu sunset di pantai Tanah Lot. Ditemani debur ombak, dengan latar belakang pura dan tebing batu. Sungguh suatu pemandangan yang tak kan pernah bosan untuk dilihat. Sungguh suatu karunia Allah, bahwa saya masih bisa melihat pemandangan indah seperti ini. Matahari pun tenggelam, dan kami beranjak pergi dari Tanah Lot.
Sepanjang jalan menuju tempat parkir, banyak penjaja souvenir di kanan dan kiri jalan. Dan kami pun langsung menuju jimbaran untuk makan malam. Lagi-lagi suasana pantai di jimbaran yang indah, mengingatkan aku pada anak dan istri yang sudah ditinggal tiga hari.
Hari ketiga kunjungan kami ke Bali adalah mengunjungi beberapa wisata bahari yang ada disini. Tempat pertama yaitu Tanjung Banoa. Ada banyak permainan olahraga air disini, namun karena saya tidak bisa berenang sama sekali, maka saya hanya melihat-lihat penangkaran penyu saja. Kembali terbersit rona penyesalan di hati saya bahwa saya tidak bisa berenang sama sekali. Lanjut dari Tanjung Banoa kami meluncur ke Dreamland. Sebuah kawasan pantai yang eksotik. Dengan ombaknya yang lumayan besar, dan dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang tinggi, dan pasir putih yang membentang di sepanjang pantai dan juga tak lupa para turis wanita yang sedang berjemur, inilah yang membuat eksotik kawasan ini.
Hari terakhir kunjungan kami ke pulau dewata diisi dengan berbelanja. Mulai dari Airlangga, Sukawati, Galuh, sampai tiba di bandara Ngurah Rai pun saya masih sempat berbelanja. Repotnya setiba di cengkareng dengan barang yang bertambah banyak, saya pontang-panting membawa barang tersebut sampai di rumah.
Berkeliling di bumi Sriwijaya…
01 Des 2009 1 Komentar
Ini adalah pertama kali saya berkunjung ka Palembang, mungkin bagi teman2 di kantor mereka sudah beberapa kali pergi kesana, karena ada proyek pengembangan bioenergi di darah OKUT
, Sumsel.
Kota Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Sumatera Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Luas wilayah Kota Palembang adalah 102,47 Km² dengan ketinggian rata-rata 8 meter dari permukaan laut. Letak Kota Palembang cukup strategis karena dilalui oleh jalur jalan Lintas Pulau Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera. Selain itu Kota Palembang juga terdapat Sungai Musi, yang dilintasi oleh Jembatan Ampera yang berfungsi sebagai sarana transportasi dan perdagangan antar wilayah.
Setiba di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, waktu sudah menujukkan pukul 17.00 WIB. Bagus juga kondisi bandara di Palembang. Mungkin karena bandara ini salah satu bandara terbesar di pulau Sumatra. Tanpa menunggu lama lagi kami langsung meluncur ke hotel. Ternyata hotel Aston hotel yang sudah kami pesan sebelumnya, namanya bukan lagi Aston tetapi Aryaduta. Kami sempet adu jawab dengan pak supir taxi tentang nama hotel itu. Akhirnya kami salah, namana memang Aryaduta hotel. Tapi tak apa, apalah arti sebuah nama (seperti dikutip dari seorang sastrawan terkenal).
Malam pun tiba, kami pun sudah lapar. Keluar hotel untuk mencari rumah makan yang dekat dan lumayan enak. Mata kami pun tertuju pada sebuah rumah makan di depan hotel, yang isinya komplit. Makan malam diawali dengan makanan pempek palembang, yang kata enci penjaga restoran itu dibuat dari ikan belida. Ikan yang biasa hidup di sungai Musi. Dengan lahap dan setengah beringas kami menyantap makanan yang sudah kami pesan. Setelah kami selesai makan, sambil duduk-duduk menikmati alunan musik pengiring, sang enci pun menawarkan kami pempek yang untuk dibawa pulang. Tapi harganya lebih mahal dari harga pempek yang sudah kami makan tadi. Lalu sang enci itu berkata bahwa “Pempek ini di buat dari ikan belida dewasa, dan pempek yang kami makan tadi hanya dibuat dari anak ikan belida”. Ah, ternyata yang kami makan tadi adalah pempek dari anak belida, bagaimana harganya ya, kalau pempek tersebut dibuat dari mbahnya ikan belida.
Setelah makan malam tersebut, kami pun langsung tertidur pulas. Pagi harinya kami bergegas menuju IAIN Raden Fatah. Kami pun mengadakan acara diskusi disana selama kurang lebih dua jam. Banyak juga pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada atasan saya, tapi intinya sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia yaitu bagaimana para peneliti di daerah bisa mendapatkan dana penelitian dari kebijakan program insentif di kantor kami.
Setelah diskusi selesai, kami melanjutkan makan siang di rumah makan Pindang Musi Rawas. Hemm, betul-betul semua makanan yang ada disini enak dan cocok di lidah kami. Kami melanjutkan perjalanan kami ke hotel, dan mampir di Benteng Kuto Besak, yang terletak di pinggir sungai Musi. Benteng ini adalah salah satu peninggalan sejarah. Kami pun menyempatkan diri berfoto ria dengan latar belakang jembatan ampera dan sungai Musi nya.
Setelah seharian itu, malamnya kami pun makan malam di rumah makan yang sama dengan malam sebelumnya. Ketemu juga kami dengan enci yang kemaren malam menyapa kami, dan enci itu pun menawarkan pempek yang kemaren kami makan. Tapi karena tadi sore saya sudah makan pempek, kami pun menolak tawaran sang enci tersebut dengan berbagai alasan.
Setelah segar sehabis bangun tidur, kami pun melanjutkan jalan2 di kota palembang. Sambil menunggu pesawat yang akan berangkat pada pukul 4 sore. Kami sempatkan waktu untuk melihat-liha dan berbelanja di pusat-pusat kerajinan kain songket yang ternyata jumlahnya cukup banyak, dan tak lupa kami menyempatkan diri ke pasar tradisional untuk berbelanja.
Sayang, waktu kami di Palembang hanya tiga hari. Andaikan masih ada beberapa hari lagi disini, hemm….


Komentar Anda