JAKARTA – BANDA ACEH PP


masjid raya Banda Aceh

Aceh, suatu daerah yang asing sekali bagi saya. Daerah yang penuh konflik, daerah yang hancur akibat terjangan tsunami, daerah yang rawan, daerah yang menjalankan syariat islam. Sungguh, saya tak bisa membayangkan seperti apa wajah Aceh saat ini.

Pada pertengahan februari ini, kami mengadakan kunjungan banda aceh. Rombongan kami berjumlah empat orang.

Melelahkan juga ya perjalanan dari jakarta sampai banda aceh. Saya berangkat dari jakarta pukul 10 pagi, sampai di banda aceh sudah pukul 2 siang. 4 jam waktu perjalanan membuat badan saya terasa pegal-pegal.

Sampainya di bandara sultan iskandar muda, saya sempat tertegun karena kondisi bandara yang berantakan. Tapi saya akhirnya menjadi maklum, karena persipan kedatangan presiden SBY, bandara ini di renovasi besar-besaran.

Setelah itu, kami langsung mencari rumah makan. Kami dibawa oleh penjemput kami dari lemlit Unsyiah, ke rumah makan ‘spesific aceh’. Waw, kami langsung disuguhi makanan khas aceh. Enak juga ya, mak nyoss. Benar-benar rasanya enak, dan punya rasa yang khas tersendiri dibanding dengan daerah lain.

dsc05733

Akhirnya sampai juga saya di hotel hermes. Karena lelah sekali, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur hotel. Jam 5 sore, kami diajak berkeliling banda aceh. Kami diajak ke suatu tempat, dan ditempat itu ada sebuah kapal besar ditengah-tengah pemukiman. Saya langsung tertegun, kenapa ada kapal sebesar ini ditengah perumahan. Akhirnya saya tahu bahwa tsunami yang mengantar kapal ini. Kapal PLTD yang berbobot mati 2600 ton sebelumnya berada di tengah laut, dengan menempuh jarak ± 5 KM kini berada di sini. Saya baru tahu bahwa gelombang yang membawa kapal ini setinggi 20 meter dan kecepatannya mencapai 350 km/jam. Subhanallah, bahkan gelombang itu lebih cepat dari mobil balap formula satu.

Puas berkeliling kami sempatkan diri untuk sholat magrib di masjid raya banda aceh. Masjid ini ketika tsunami terjadi, menjadi tempat berlindung oleh orang-orang dan menjadi tempat pengungsian sementara bagi warga pasca tsunami. Sebab di daerah tersebut sudah tidak ada lagi bangunan, habis semua disapu oleh tsunami. Lalu kami makan malam di warung rojali. Warung yang khusus menjual mie aceh. Rasanya lebih enak daripada mie aceh yang ada di jakarta.

Pagi harinya kami berkemas untuk mengunjungi Bapedda Aceh. Dari kantor Bapedda Aceh saya lansung mengunjungi Universitas Sultan Iskandar Muda. Sampai disana saya agak terkejut karena universitas ini berantakan sekali. Sedang ada renovasi besar-besaran pasca tsunami. Mungkin karena kekurangan dana, renovasi tersebut masih berlangsung sampai saat ini.

Hari ketiga kami di Aceh, kami akan mengadakan acara diskusi di Universitas Syah Kuala. Acara diskusi tersebut berlangsung sampai siang hari, setelah selesai kami bergegas shalat jumat di masjid. Takut juga saya, waktu mendengar jika ada laki-laki muslim yang ketahuan tidak melaksanakan shalat jumat, akan dikejar-kejar oleh kaum wanita dengan membawa sapu lidi. Memang di aceh menerapkan hukum syariat islam dengan kuat. Jika ada wanita muslim yang tidak memakai jilbab dan ketahuan oleh polisi syariah, maka akan ditangkap dan dihadiahi hukuman cambuk.

Selesai shalat jumat, kami makan siang lalu hunting mencari oleh-oleh buat keluarga. Saya sempatkan untuk membeli tas bagi istri tercinta. Dan tidak lupa oleh-oleh dalam bentuk makanan yang kali ini saya membelikan dendeng beberapa buah. Saya tidak sempat berlama-lama memilih oleh-oleh karena sudah waktunya saya kembali ke Jakarta dengan pesawat jam 5 sore. Huuh…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.