Pemimpin Negara Yang Ideal
26 Feb 2009 1 Komentar
in Sepak Pojok
Pada tahun 2009 ini rakyat indonesia akan melakukan hajatan besar, yaitu pemilu 2009. pemilu sendiri akan digelar pada pertengahan tahun ini.
Sebagai rakyat yang baik, kita dituntut untuk ikut menyukseskan pemilu ini. Dengan berpartisipasi pada proses pemungutan suara nantinya. Harapan para pemimpin bangsa dan elite politik adalah seluruh rakyat dapat menggunakan hak suaranya dengan benar. Dan tidak ada yang golput. Harapan ini mungkin agak sulit untuk direalisasikan. Mengingat kepercayaan rakyat kepada pihak pemerintah sudah mulai pudar. Apalagi setelah mereka diberikan janji-janji yang muluk pada saat kampanye.
Besarnya angka golput pada pemilu 2009 ini diperkirakan akan mencapai jumlah 40% dari jumlah pemilih tetap yang ada. Jumlah ini mungkin bisa bertambah, mengingat adanya rakyat Indonesia yang tidak terdaftar sebagai pemilih di pemilu nanti.
Tingginya rakyat Indonesia yang golput, menunjukkan bahwa antusias rakyat terhadap pemilu semakin menurun. Juga berarti belum adanya figur pemimpin bangsa yang cocok dimata rakyat. Berdasarkan pengalaman mereka semenjak krisis ekonomi, dari Suharto sampai SBY, rakyat merasa bangsa ini belum dapat keluar dari keterpurukannya.
Figur pemimpn bangsa seperti yang diharapkan oleh rakyat adalah seorang pemimpin yang mampu mengangkat keluar Indonesia dari masa yang suram. Apalagi semenjak pertengahan tahun 2008 lalu, dunia dihadapkan pada krisis ekonomi global yang membuat perkonomian Indonesia kembali terpuruk. Situasi ini membuat rakyat kembali harus mengkaji ulang pilihannya kepada calon pilihannya agar tak salah pilih lagi.
Calon pemimpin bangsa yang diidamkan oleh rakyat adalah seorang figur yang tahu benar akan situasi dan keadaan rakyat Indonesia saat ini. Seorang pemimpin yang tahu benar ada rakyat yang menganggur, kelaparan, anak yang tidak sekolah. Pada intinya semua masalah-masalah yang dialami oleh rakyat kecil harus diketahui oleh pemimpin bangsa ini
JAKARTA – BANDA ACEH PP
25 Feb 2009 Tinggalkan sebuah Komentar

Aceh, suatu daerah yang asing sekali bagi saya. Daerah yang penuh konflik, daerah yang hancur akibat terjangan tsunami, daerah yang rawan, daerah yang menjalankan syariat islam. Sungguh, saya tak bisa membayangkan seperti apa wajah Aceh saat ini.
Pada pertengahan februari ini, kami mengadakan kunjungan banda aceh. Rombongan kami berjumlah empat orang.
Melelahkan juga ya perjalanan dari jakarta sampai banda aceh. Saya berangkat dari jakarta pukul 10 pagi, sampai di banda aceh sudah pukul 2 siang. 4 jam waktu perjalanan membuat badan saya terasa pegal-pegal.
Sampainya di bandara sultan iskandar muda, saya sempat tertegun karena kondisi bandara yang berantakan. Tapi saya akhirnya menjadi maklum, karena persipan kedatangan presiden SBY, bandara ini di renovasi besar-besaran.
Setelah itu, kami langsung mencari rumah makan. Kami dibawa oleh penjemput kami dari lemlit Unsyiah, ke rumah makan ‘spesific aceh’. Waw, kami langsung disuguhi makanan khas aceh. Enak juga ya, mak nyoss. Benar-benar rasanya enak, dan punya rasa yang khas tersendiri dibanding dengan daerah lain.

Akhirnya sampai juga saya di hotel hermes. Karena lelah sekali, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur hotel. Jam 5 sore, kami diajak berkeliling banda aceh. Kami diajak ke suatu tempat, dan ditempat itu ada sebuah kapal besar ditengah-tengah pemukiman. Saya langsung tertegun, kenapa ada kapal sebesar ini ditengah perumahan. Akhirnya saya tahu bahwa tsunami yang mengantar kapal ini. Kapal PLTD yang berbobot mati 2600 ton sebelumnya berada di tengah laut, dengan menempuh jarak ± 5 KM kini berada di sini. Saya baru tahu bahwa gelombang yang membawa kapal ini setinggi 20 meter dan kecepatannya mencapai 350 km/jam. Subhanallah, bahkan gelombang itu lebih cepat dari mobil balap formula satu.
Puas berkeliling kami sempatkan diri untuk sholat magrib di masjid raya banda aceh. Masjid ini ketika tsunami terjadi, menjadi tempat berlindung oleh orang-orang dan menjadi tempat pengungsian sementara bagi warga pasca tsunami. Sebab di daerah tersebut sudah tidak ada lagi bangunan, habis semua disapu oleh tsunami. Lalu kami makan malam di warung rojali. Warung yang khusus menjual mie aceh. Rasanya lebih enak daripada mie aceh yang ada di jakarta.
Pagi harinya kami berkemas untuk mengunjungi Bapedda Aceh. Dari kantor Bapedda Aceh saya lansung mengunjungi Universitas Sultan Iskandar Muda. Sampai disana saya agak terkejut karena universitas ini berantakan sekali. Sedang ada renovasi besar-besaran pasca tsunami. Mungkin karena kekurangan dana, renovasi tersebut masih berlangsung sampai saat ini.
Hari ketiga kami di Aceh, kami akan mengadakan acara diskusi di Universitas Syah Kuala. Acara diskusi tersebut berlangsung sampai siang hari, setelah selesai kami bergegas shalat jumat di masjid. Takut juga saya, waktu mendengar jika ada laki-laki muslim yang ketahuan tidak melaksanakan shalat jumat, akan dikejar-kejar oleh kaum wanita dengan membawa sapu lidi. Memang di aceh menerapkan hukum syariat islam dengan kuat. Jika ada wanita muslim yang tidak memakai jilbab dan ketahuan oleh polisi syariah, maka akan ditangkap dan dihadiahi hukuman cambuk.
Selesai shalat jumat, kami makan siang lalu hunting mencari oleh-oleh buat keluarga. Saya sempatkan untuk membeli tas bagi istri tercinta. Dan tidak lupa oleh-oleh dalam bentuk makanan yang kali ini saya membelikan dendeng beberapa buah. Saya tidak sempat berlama-lama memilih oleh-oleh karena sudah waktunya saya kembali ke Jakarta dengan pesawat jam 5 sore. Huuh…


Komentar Anda