Batulicin
24 Des 2008 1 Komentar

Pada akhir bulan november yang lalu, untuk kali ketiga saya menginjakkan kaki kebumi kalimantan. Kali ini daerah yang saya kunjungi adalah wilayah Kalimantan Selatan. Kalimantan selatan adalah provinsi dengan luas sekitar 37.377,53 km². Dibanding dengan provinsi lain di pulau Kalimantan, provinsi kalimantan Selatan merupakan provinsi terkecil bila dibandingkan dengan tiga saudaranya.
Setibanya di bandara Syamsuddin Noor waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. waktu setempat, rencana yang seharusnya kami tiba di sini pukul 21.00 WIB, menjadi mundur karena keterlambatan pemberangkatan pesawat udara yang mengangkut kami. Apa boleh buat, kami langsung menuju hotel di banjarmasin. Dan tiba di hotel Crystal, saya langsung merebahkan badan saya sampai saya sadar bahwa waktu sudah pukul 7 pagi. Setelah sarapan pagi, kami malanjutkan perjalanan kami yaitu daerah batulicin. Dan kami sempatkan diri untuk mampir ke toko cinderamata di Martapura.
Tiba saatnya kami menjelajah hutan Kalimantan dengan tujuan kami yaitu Batulicin. Perkiraan waktu tiba di batulicin adalah 8 jam. Melelahkan sekali, apalagi dengan kondisi jalan yang hancur. Dengan banyaknya truk pengangkut kelapa sawit dan batubara yang lewat, membuat jalan rusak parah. Dibeberapa tampat terdapat lubang yang besar, dan bahkan ada truk yang terjebak dilubang tersebut. Yang membuat as roda depan truk tersebut patah, dan butuh waktu untuk memindahkan truk tersebut. Dengan jalan yang rusak, banyak lubang disana sini, membuat kami terguncang-guncang di mobil sepanjang pejalanan. Hal ini membuat saya tidak bisa tertidur di mobil. Karena asyiknya bergoyang -goyang didalam mobil.
Sepanjang perjalanan kami, banyak hal-hal yang saya saksikan. Hutan yang saya bayangkan ditumbuhi pohon yang tinggi, lebat, dan liar, dan banyaknya binatang buas, tidak saya temukan. Yang saya lihat hanyalah hamparan lahan dengan alang-alang yang tinggi, dan hutan hasil budidaya manusia seperti karet dan kelapa sawit. Tidak ada hutan yang lebat, dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Ada juga saya lihat lahan yang kosong, yang sudah terbakar isinya. Mungkin akan dibuat lahan baru untuk bercocok tanam penduduk disini.
Keadaan seperti ini membuat saya miris. Hutan lebat yang berfungsi sebagai paru-paru dunia dan daerah resapan air sudah tidak ada lagi. Tergantikan oleh rumah-rumah penduduk, pertambangan batubara, dan lahan-lahan hasil garapan manusia. Entah kemana larinya binatang-binatang buas yang dahulu merupakan penduduk asli hutan sini.
Tiba di batulicin sudah sekitar jam 9 malam. Kami menginap di hotel Ebony. Kami pun langsung tidur begitu masuk kamar hotel. Pulas sekali tidur kami, mungkin karena kemarin kami seharian terguncang-guncang di mobil. Sehingga badan kami terasa pegal seluruh tubuh.
Hari ke dua kunjungan kami ke ke lokasi pabrik biodiesel yang belum beroperasi. Tak lama di pabrik tersebut kami melanjutkan perjalanan ke Kotabaru. Untuk ke Kotabaru kami harus naik kapal ferry agar sampai disana. Waktu tempuh perjalanan dengan ferry sekitar 40 menit. Setibanya di pelabuhan Stagen, Kotabaru, kami langsung melanjutkan perjalanan. Dengan menyusuri hutan mangrove yang luas namun rusak parah, kami menuju ke pusat kota. Sampai lah kami kantor bupati kotabaru. Di depan kantor ini terdapat pantai tempat wisata. Lumayan indah, terdapat juga tugu bergambar ikan cucut. Mungkin inilah lambang kotanya.
Perjalanan dari kantor bupati ke pelabuhan panjang Kotabaru sangat mengasyikan. Jalan yang luas, cukup lebar, dan dikanan kiri dipenuhi hutan-hutan yang lebat dan pepohonan yang tinggi sangat menghibur. Dibandingkan dengan perjalanan dari Banjarmasin ke Batulicin, perjalanan disini sangat jauh berbeda. Kalau saja hutan-hutan di Kalimantan semuanya seperti ini, tentu perjalanan dari Banjarmasin ke Batulicin juga mengasyikan.
Hari berikutnya kami akan kembali ke Banjarmasin. Dari pagi hari kami sudah bergegas membereskan barang-barang kami dan chek out dari hotel Ebony. Dalam perjalanan kembali ke Banjarmasin kembali kami terguncang-guncang di dalam mobil. Sesampainya di hotel Crystal banjarmasin, badan terasa pegal-pegal semua. Biasanya di Jakarta kalau badan terasa pegal-pegal, saya langsung minta tolong istri untuk menginjak-injak badan saya.
Hari terakhir di provinsi Kalimantan Selatan
Sehabis sholat subuh saya menuju ke sungai Barito. Dengan menumpang perahu, yang oleh penduduk disana disebut kelotok, kami menuju ke pasar terapung di sungai Barito. Asyik juga ya belanja di pasar ini. Bermacam-macam dagangan dijajakan disini. Tapi yang terbanyak adalah buah dan sayur mayur. Sampai terdapat restoran terapung disini Ada juga lho SPBU terapung. SPBU itu menjual minyak solar untuk keperluan perahu-perahu kelotok yang lalu
lalang di sungai Barito ini.
Sungai Barito merupakan sungai terlebar di Pulau Kalimantan. Terdapat pula jembatan di sungai Barito ini yang panjangnya mencapai 1 KM. Sungai ini menjadi penting karena di sungai ini menjadi urat nadi perekonomian warga. Selain menjadi jalur transportasi tentunya. Disepanjang bantaran sungai ini, dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk. Mereka bermukim tepat diatas sungai Barito. Pemukiman disini menggunakan kayu ulin untuk menyangga rumah mereka. Kayu ulin merupakan kayu yang tahan air dan sangat kuat. Menurut keterangan yang saya dapat, semakin kayu ini terendam oleh air, maka semakin kuat kayu ini. Dan tidak akan lapuk.
Penduduk di bantaran sungai Barito menggunakan air sungai Barito untuk keperluan sehari-hari. Dari mencuci, mandi,sampai masak. Mereka seperti tidak takut akan penyakit yang mengancam mereka seperti gatal2, muntaber, dll.
Setelah puas berkeliling sungai Barito, kami kemudian membereskan barang-barang kami. Sambil menunggu jadwal pesawat ke berangkatan ke Jakarta, kami gunakan waktu untuk berjalan-jalan dan belanja di kota Banjarmasin.
Kotornya Kota Ku…
19 Des 2008 Tinggalkan sebuah Komentar
in Sepak Pojok Tag:kota kotor, pemukiman jakarta, sampah jakarta
Jakarta merupakan kota megapolitan di Asia. Dengan berbagai macam suku bangsa, agama semua ada di jakarta. Jumlah penduduk jakarta menurut data sensus pada tahun 2006 berjumlah 7.512.323 jiwa. Dan jumlah tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun karena arus urbanisasi. Entah apa yang menjadi magnet bagi kaum urban untuk datang ke kota ini.
Jakarta yang pada tahun 70 an merupakan kota yang bersih, dan hijau. Kini menjadi kotor, pengap, panas, dan sumpek. Sudah tidak ada lagi jakarta yang hijau, sungai dan pantainya bersih juga banyak ikannya, udaranya segar….
Dengan makin meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ketahun, pastinya akan membuat masalah baru bagi kota ini. Sampah di ibukota telah menjadi masalah yang krusial bagi pemporv DKI dan bagi warganya. Kurang tertibnya warga yang membuang sampah ditempatnya telah membuat kota ini kotor. Ini dapat dilihat dari kotornya sungai-sungai dan selokan di wilayah Jakarta. Tidak ada sungai dan selokan yang bersih dari sampah. Nampaknya sungai-sungai di jakarta telah menjadi tempat sampah umum yang dapat digunakan oleh warganya.
Masalah sampah ini merupakan masalah yang akut bagi pemprov DKI. Usaha-usaha pemprov DKI untuk menanggulangi masalah ini seperti tidak pernah berhasil. Dengan semakin banyaknya pandatang yang mengais nafkah di ibukota, membuat semakin banyak pula sampah yang dikeluarkan penduduk jakarta. Kesadaran membuang sampah di tempatnya mesti disosialisasikan kembali oleh pemerintah. Usaha-usaha yang sedang dilakukan oleh pemerintah, mesti dipercepat kemajuannya karena ditakutkan akan semakin membuat masalah ini semakin besar.
Masalah-masalah yang timbul dari menumpuknya sampah adalah masalah banjir. Banjir yang melanda jakarta setiap musim hujan diakibatkan oleh warga nya yang membuang sampah ke sungai. Sungai-sungai akan penuh sampah, dan jika hujan turun air akan meluap. Karena jalan air terganggu oleh banyaknya sampah di sungai.
Masalah pembuangan akhir sampah juga menjadi kendala utama.. Andaikan satu orang penduduk membuang sampah seberat 1 kg perhari, entah berapa jumlah sampah warga jakarta setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulannya. Bisa dibayangkan beban kota ini dalam urusan sampah.
Sampah yang dibuang warga jakarta, pada akhirnya akan bermuara ke laut lepas. Belum lagi ditambah limbah beracun dari buangan pabrik yang dialirkan. Dan tentu saja akan menggangu kelangsungan ekosistem di laut. Lihat saja ke wilayah Ancol. Laut disana sudah tidak bersih lagi. Banyak sampah berserakan dimana-mana. Contoh lain dapat dilihat di kepulauan seribu, seperti di Pulau Untung Jawa, di pulau itu penuh sampah menggunung disepanjang tepian pantai. Inilah sampah warga jakarta yang dibuang kesungai, dan kemudian terdampar disini. Dan ekosistem di kepulauan seribu, sudah mulai rusak. Tidak ada lagi terumbu karang yang indah, tidak ada lagi hutan mangrove yang lebat, dan jumlah ikan yang ditangkap nelayan di daerah Muara Karang menurun drastis dari tahun ketahun. Dan tampaknya tidak ada lagi pulau di kepulauan seribu yang bersih dari sampah warga jakarta.
Kesadaran warga jakarta dalam membuang sampah amat sangat memprihatinkan. Mereka tidak peduli dengan pencemaran lingkungan. Sepertinya pemprov DKI sudah memfasilitasi dengan adanya bak-bak sampah yang akan diangkut oleh truk menuju tempat pembuangan akhir. Namun karena warga harus membayar iurannya, mereka jadi tidak mau membuang sampah di bak sampah. Mereka membuang sampah ke sungai, got, atau ke lahan kosong. Jika warga tidak dipungut iuran dalam hal pembuangan sampah, mungkin warga akan membuang sampah di bak sampah yang telah disediakan.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah buangan limbah pabrik ke sungai. Limbah-limbah ini kita ketahui banyak mengandung bahan kimia dan sangat beracun. Lihat saja sungai dan selokan di Jakarta menjadi hitam, berbau dan berbusa. Sudah pasti tidak ada satu pun ikan yang sanggup bertahan hidup di air seperti itu.
Masalah polusi kendaraan bermotor juga membuat keruh udara jakarta. Asap kendaran bermotor dari berbagai macam tipe kendaraan ikut meramaikan polusi udara. Dengan tidak adanya pembatasan usia kendaraan bermotor, dan pengetesan kadar polusi yang dihasilkannya, membuat semrawut jalan ibukota. Kendaraan yang berpotensi membuat polusi, seperti bajaj, metromoni, biskota, dan motor mesin 2 tak, masih berkeliaran di jalur jalan. Mungkin akan lebih bijak jika Polda Jakarta, menurunkan polisi yang khusus urusan polusi udara. Mereka dapat memberi surat tilang bagi kendaraan yang asap knalpotnya tebal dan hitam tanpa pandang bulu. Atau polisi tersebut dapat menyita kendaraan tersebut apabila sudah dua kali tidak ada perubahan. Dan kendaraan yang disita, langsung dihancurkan atau bisa juga dibuang ke laut untuk menjadi rumpon di perairan pulau seribu.
Dalam hal kependudukan, pemprov DKI kembali dihadapkan kemasalah pemukiman warga. Banyaknya bangunan-bangunan liar tempat tinggal warga di bantaran sungai membuat pemukiman di daerah tersebut menjadi langganan banjir tahunan. Sudah sering dilakukan penertiban namun warga masih pula membandel. Hal itu juga yang membuat sungai-sungai di Jakarta tidak sedap dipandang. Bangunan-bangunan ini banyak terdapat di bantaran sungai Ciliwung.
Selain itu warga juga menempati lahan-lahan yang kosong untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka dengan seenaknya membuat tempat tinggal yang terbuat dari seng atau kayu untuk rumah mereka. Dan tidak itu saja, karena mereka juga mangajak teman yang belum punya tempat tinggal untuk membuat bangunan disana. Dalam waktu kurang dari satu tahun, lahan itu pasti penuh dengan pemukiman-pemukiman kumuh. Jika ada penggusuran lahan, mereka akan memberontak tidak mau tempat tinggalnya digusur. Bahkan mereka menuntut ganti rugi pula. Dalam hal ini pemprov DKI yang disalahkan, karena dianggap melakukan penggusuran seenaknya.
Jika masalah-masalah tersebut tidak diselesaikan, kondisinya akan bertambah parah. Mungkin akan lebih baik kalau jakarta tidak lagi menjabat sebagai ibukota negara, karena sudah berat beban yang harus dipikul kota ini dalam masa jabatannya sebagai ibukota negara.
Aksi preman di ibukota
18 Des 2008 Tinggalkan sebuah Komentar
in Sepak Pojok
Maraknya kasus kekerasaan yang terjadi belakangan ini mau tidak mau membuat rakyat indonesia khawatir. Apalagi ditengah krisis ekonomi yang menerpa indonesia saat ini, mengakibatkan pangangguran yang bertambah banyak setelah terjadi PHK besar-besaran di Indonesia. Jumlah pengangguran yang semakin membengkak tersebut akan berimbas pada angka kriminalitas yang semakin meningkat.
Tingginya angka kriminalitas tersebut merupakan gejala dari memburuknya kinerja pemerintah. Dimana lapangan pekerjaan yang diharapkan oleh rakyat, semakin sempit. Dikarenakan banyak perusahaan-perusahaan di indonesia yang gulung tikar akibat dari krisis global tersebut.
Di ibukota sendiri, angka kriminalitas melambung tinggi. Hal ini juga terkait dengan arus urbanisasi yang menyerbu Jakarta. Sebelum krisis terjadi angka pengangguran di jakarta sudah mencapai 543 ribu orang. Ditambah lagi dengan korban PHK setelah krisis global, diperkirakan angka tersebut meningkat sebanyak 30%. Dengan jumlah pengangguran sebanyak ini, membuka peluang lowongan untuk jabatan preman.
Aksi premanisme yang sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mereka semakin liar dan terbuka. Beberapa kasus yang sebelumnya tidak ada, kini telah bervariasi. Seperti kasus pembajakan bis kota. Modus operandi mereka adalah dengan mencari orang yang telah menganiaya teman mereka. Jumlah preman dalam satu bus berjumlah sekitar 5-10 orang. Dengan dalih mencari tersangka penganiayaan teman mereka, mereka menginterogasi penumpang satu persatu. Semua penumpang ditanya tempat tinggal, suku apa, dan bekerja dimana. Dan setelah itu mereka menggeledah tas dan dompet penumpang dengan dalih melihat KTP dan mencari benda benda tajam yang disimpan penumpang. Dalam aksi penggeledahan inilah, mereka beraksi dengan mengambil uang, hp, dan barang berharga penumpang lainnya. Para penumpang sadar telah kehilangan hartanya setelah para preman tersebut turun dari bis kota.
Modus operandi lainnya adalah dengan pencurian spion mobil-mobil mewah. Aksi ini dilakukan secara terang-terangan. Biasanya pelaku berjumlah sekitar 2-3 orang. Bahkan ada pelaku yang nekat beroperasi seorang diri saja Spion-spion ini laku dijual kembali dengan harga sekitar 30rb-100rb perbuah. Satu hari mereka bisa mendapatkan 5 buah spion mobil mewah. Aksi pencurian ini dilakukan dalam hitungan detik saja. Lokasinya biasanya di perempatan lampu merah atau di jalan yang macet.
Aksi yang tidak kalah sadisnya adalah perampokan bersenjata tajam yang terjadi di beberapa tempat di jakarta. Ada juga gerombolan kapak merah yang sering merampok korbannya di tengah lampu merah jalan. Aksi-aksi ini semakin brutal, karena telah merenggut puluhan korban jiwa.
Ada juga para preman yang meminta uang di bus kota. Mereka sengaja menakuti masyarakat dengan mengatakan bahwa mereka baru keluar dari penjara, dan butuh uang untuk makan. Tampang mereka yang seram karena penuh dengan tato di badan, dan aksesoris lainnya seperti kalung, ikat pinggang yang besar dan terbuat dari besi, anting yang menambah angker penampilan mereka. Hal itu tentu saja membuat para penumpang ketakutan, dan harus rela merogoh koceknya untuk memberi uang kepada preman tersebut. Ada juga yang meminta uang dengan dalih untuk biaya berobat keluarga atau temannya yang sakit, dan yang lebih parah mereka meminta uang untuk sumbangan bagi pembangunan pesantren, masjid dll.
Banyaknya pengamen dan pengemis di jalan juga menimbulkan keresahan tersendiri bagi warga. Tidak jarang para pengamen tersebut berpakaian lusuh, bertato, dan berambut gimbal. Mereka mengamen di bus kota dan ada juga yang mengamen di dalam angkot. Para penumpang yang takut, mau tidak mau harus menyediakan uang kecil agar aman.
Modus lama yang masih populer sampai saat ini adalah pencopetan. Mereka beraksi ditengah penuh sesaknya penumpang yang berdiri di bis kota atau di dalam kereta jabotabek. Para pelaku biasanya berpakaian rapi, tidak nampak mereka gerombolan para pencopet yang sedang beraksi. Mereka seperti rombongan mahasiswa atau pekerja kantoran di jakarta.
Aksi aksi seperti ini yang membuat para masyarakat resah. Mereka takut akan kejadian buruk yang akan menimpa mereka. Jika hal ini terus berlanjut, dikhawatirkan banyak masyakarakat yang stres dan depresi dengan kelakuan preman-preman tersebut. Untuk itu perlu adanya tindak lanjut dari permprov DKI Jakarta untuk memberantas preman-preman yang berkeliaran di ibukota.
Bali
12 Des 2008 1 Komentar
Setelah menunggu lama, akhirnya saya berhasil menginjakan kaki di Pulau Bali. Setelah hanya melihat dari televisi dan mendengar cerita orang, akhirnya saya dapat menyaksikan dengan mata saya sendiri tentang keindahan Bali. Pada akhir juli kemarin, kami menuju ke Pulau Bali. Pesawat yang semula akan berangkat pukul 06.40 WIB, ditunda menjadi pukul 12.39 WIB. Alhasil, kami semua terpaksa dengan sangat
kecewa menunggu di Bandara Soekarno Hatta sampai waktu pemberangkatan tiba. Ternyata nama besar suatu maskapai penerbangan nasional tidak menjamin keberangkatan pesawat yang tepat waktu.
Namun kekecewaan kami terbayar lunas setelah kami semua mendarat di Bali. Setiba di bandara rombongan kami langsung menuju ke Garuda Wisnu Kencana. Walaupun pembangunannya belum tuntas semua, namun kami sudah dapat merasakan keindahan sentuhan para seniman-seniman di bali.
Tidak lama di komplek Garuda Wisnu Kencana, kami langsung meluncur ke Uluwatu utuk melihat sunset dan pagelaran tari Kecak disana. Wauwww, Indah sekali pemandangan kebawah dilihat dari atas Uluwatu. Namun sayang, teman kami ada yang kehilangan topi dan kacamata hitamnya karena diminta oleh monyet-monyet yang menghuni komplek Uluwatu.
Pagelaran tari Kecak berlangsung pada pukul 17.00 WITA. Suasana sangat ramai saat itu. Karena ada sekitar 200 orang yang menonton tari tersebut. Kesan magis pun sangat terasa pada saat sebelum pertunjukan. Benar-benar mengagumkan. Saya rasa diantara penonton yang melihat, tidak ada satu pun yang merasa tidak puas dengan pagelaran tersebut.
Pada hari kedua kunjungan kami, lami hanya punya satu agenda acara yaitu mengunjungi Universitas Udayana untuk menghadiri diskusi disana. Dan sore harinya kami hanya bermain bola di pantai Sanur.
Hari ketiga, banyak tempat yang akan kami kunjungi. Mulai berangkat pukul 08.00 dari wisma, kami langsung menuju Pura Besakih. Cukup jauh juga perjalanan dari wisma kami yang berada di Sanur menuju Pura Besakih. Kira-kira memakan waktu selama 4 jam. Cukup lelah memang, namun kami terhibur dengan pemandangan sepanjang perjalanan menuju Besakih. Saya jadi terbayang dengan kondisi lalulintas di Jakarta. Disini walaupun jalan ramai, namun semua kendaraan sangat mematuhi peraturan lalulintas. Dan tidak ada kendaraan yang melaju di atas 60km/jam walaupun jalan sepi.
Setibanya di Pura Besakih, kami langsung diserbu oleh para tukang ojek motor. Karena untuk menuju ke pura, bis kami harus di parkir di tempat parkir yang telah disediakan. Jarak dari tempat parkir ke Pura sendiri sekitar 300 m. Karena saya malas jalan, saya sewa saja ojek seharga 5000 rupiah.
Luas juga ya ternyata komplek pura ini. Untuk sampai ke puncak pura saja, saya harus bersusah payah mendakinya. Aduh, banyak sekali anak kecil yang meminta uang disini ya. Sekitar 1 jam saya berkeliling kami kembali ke pelataran parkir.
Kemudian tujuan kami selanjutnya adalah Istana Tampak Siring. Tapi karena malas jalan naik, saya hanya berputar-putar saja disekeliling komplek istana. Dan kemudian saya hanya berbelanja di dalam komplek istana Tampak Siring. Tapi saya kecele. Karena saya sempat membeli sebuah baju seharga 45 ribu, dan teman saya membeli baju seperti yang persis saya beli hanya seharga 15ribu. Rupanya kalau kita tidak pandai dalam menawar harga disini, kita bisa ditipu mentah-mentah oleh si penjual barang.
Puas berbelanja, perjalanan kami lanjutkan menuju kawasan Tanah Lot. Tiba di Tanah Lot sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Sambil menunggu sunset, kami mengadakan acara foto-foto. Lumayan banyak juga dari kami yang membawa kamera. Satu gambar saja bisa diabadikan oleh 10 kamera foto.
Saya sempat juga memotret sunset disana. Namun karena terhalang oleh awan, sunset tersebut jadi kurang merah warnanya. Tetapi setelah saya melihat hasil foto sunset kawan saya, saya menjadi kecewa. Karena pemandangan dari bukit di atas laut justru lebih indah dibanding saya yang memotret sunset dari pinggir pantai. Akhirnya setelah puas di Tanah Lot, kami menuju kawasan Jimbaran untuk makan malam disana.
Hari terakhir kunjungan kami, tidak banyak objek wisata yang kami kunjungi. Hanya pantai Kuta, itupun hanya sekedar menjejakkan kaki di pasir Kuta. Sepanjang hari itu kami banyak habiskan waktu untuk berbelanja ke Sukawati, Joger, dan pengrajin perak. Tidak berasa saking asyiknya berbelanja, duit di dompet saya tinggal 250ribu. Ah, tak apa lah. Yang penting masih ada ongkos buat naik taksi dari bandara ke rumah……
Wates
12 Des 2008 Tinggalkan sebuah Komentar
in Catatan Perjalanan Tag:kulonprogo, wates
Potongan bait lagu Yogyakarta yang di nyanyikan oleh KLA Project terngiang kembali saat perjalananku dari Jakarta menuju Yogjakarta. Lagu lama yang masih terus kuingat. Walaupun tujuanku bukanlah kota Yogjakarta. Yah, perjalananku kali ini adalah menuju daerah Wates. Masih cukup jauh memang dari pusat kota yogja. Sekitar 1 jam perjalanan dari daerah kalipetir, wates.
Sudah sekitar 5 tahunan saya tidak berkunjung ke sini, akhirnya saya berhasil menjejakan kaki ke tanah ini lagi. Awal November lalu, saya sekeluarga berkunjung ke Wates, Yogyakarta, tepatnya di daerah Kalipetir. Rencana ini adalah perwujudan dari rencana kami yang selalu tertunda. Pada awalnya kami berencana berkunjung pada saat lebaran yang lalu. Namun karena pertimbangan transportasi dan waktu, kami baru mewujudkannya awal November yang lalu.
Perjalanan kami diawali dengan menggunakan bis malam jurusan Jakarta – Yogyakarta. Dengan menaiki bis kelas executive ber AC yang aroma toiletnya tercium sampai bangku depan. Hal yang saya takutkan sebelum menaiki bis ini adalah bagaimana kalo anak saya yang berumur 1,5 tahun rewel selama perjalanan. Dan alhamdulillah, anak saya walaupun rewel di perjalanan namun masih bisa tidur pulas di bis tersebut. Jam 5 pagi kami sampai di terminal wates. Langsung saja kami carter angkutan umum minibus sampai ketempat tujuan.
Sesampai di rumah, nenek kami nampak terkejut dengan kedatangan rombongan kami yang tidak memberi tahu sebelumnya. Namun rasa terkejut tersebut langsung berubah manjadi suasana haru, karena saya dan adik saya telah lama tidak berkunjung. Apalagi saya dan adik saya membawa pasangan dan anak-anak kami yang belum dikenal oleh mereka. Huhuhuhuuuu…
Tak ada perubahan yang mencolok di daerah ini, masih seperti dahulu. Yang tampak berbeda mungkin hanyalah adanya jalan aspal baru dari jalan raya ke tempat kami. Dahulu jalan tersebut hanyalah terbuat dari batu-batu sebagai alas jalan. Rumah rumah juga nampak masih seperti dahulu. Belum ada rumah baru yang dibangun.
Karena waktu kunjungan kami hanya dua hari, tidak ada banyak waktu bagi kami berjalan-jalan ke kota Jogya. Kami hanya sempat mampir sebentar di Malioboro untuk membeli oleh-oleh.
Kembali pulang ke Jakarta, kami menggunakan kereta api kelas bisnis. Yang ada dibenaku pada saat kembali ke Jakarta adalah kapan kami dapat kembali ke sini. Daerah yang tenang, damai…. yah, berbeda sekali dengan Jakarta.
Pontianak
10 Des 2008 1 Komentar
in Catatan Perjalanan Tag:kuntilanak, pontianak
Akhir maret kemarin, saya kembali lagi melakukan perjalanan ke Pontianak. Masih dalam rangka perjanan dinas kantor (tidak pake duit sendiri). Pertama kali saya ke kota ini, pada tahun 2006 yang lalu. Tujuan kami kesini masih seperti pada tahun 2006 yang lalu, yaitu ke Lemlit Universitas Tanjungpura.
Tiba di bandara Supadio, waktu menunjukan pukul 19.00 WIB. Kedatangan kami sudah ditunggu orang dari Lemlit yang sengaja menjemput kami dari sore. Kami pun langsung diantar ke hotel Santika untuk beristirahat. Ternyata hotel ini terletak ditas pasar persis. Dan saya juga bingung karena dari 5 lantai yang terdapat di hotel ini tidak terdapat lantai 2 dan lantai 4, yang ada hanya lantai 1,3 dan 5. Saya bingung, sebenarnya hotel ini terdiri dari 5 lantai ataukah hanya tiga lantai saja………
Ah, nyenyak sekali tidur saya semalam, tidur sendirian tidak ada yang ganggu, ditempat yang nyaman pula. Jarang sekali saya tidur nyenyak seperti ini di jakarta. Biasanya kalau di jakarta saya tidur paling lama 4 jam dalam sehari (karena giliran dengan istri jaga anak).
Setelah sarapan di hotel, jam 09.00 pagi kami langsung ke lemlit Universitas Tanjungpura (Untan). Perjalanan dari hotel menuju lemlit Untan sendiri memakan waktu ±20 menit. Huh, panas sekali cuaca di Pontianak. Tapi masih kalah dengan jakarta soal panas, karena jika kita di Jakarta selain terkena panas matahari, kita juga mendapat panas dari aspal jalan yang mendapat pantulan cahaya matahari.
Acara di lemlit sendiri berakhir pada pukul 3 sore. Setelah diskusi selesai, kami mampir ke toko yang menjual berbagai macam makanan uintuk oleh-oleh kami. Malam harinya kami makan makanan sea food, dan cuci mulutnya dengan durian Pontianak….hemm……
Di hari ketiga, kami mempunyai waktu bebas yang kami gunakan untuk berjalan-jalan. Kunjungan kami pertama ke Tugu Katulistiwa. Ternyata tidak terlalu lama waktu yang digunakan untuk menempuh perjalanan menuju tugu tersebut. Cuaca di sekitar tugu terasa terik sekali. Tidak ada pengunjung lain di tugu tersebut selain rombongan kami. Setelah berada didalam tugu yang berhawa sejuk karena ber AC, kami langsung mengeluarkan kamera foto yang kami bawa.. Mumpung tak ada pengunjung lain, kami dengan pede bergaya seperti foto model sambil mengabadikan tugu tersebut. Setelah berfoto ria, kami mendapat banyak informasi dari petugas jaga tentang bangunan tugu tersebut. Sebagai kenang-kenangan, kami mendapat sertifikat tanda kunjungan kami ke Tugu Katulistiwa.
Dari tugu Katulistiwa kami melanjutkan dengan melihat-lihat sungai Kapuas dari dekat. Besar sekali sungai ini, dan ternyata sungai ini juga menjadi sarana transportasi utama di Kalbar. Ini bisa dilihat dari kapal-kapal besar yang lalu lalang di sungai Kapuas.
Perjalanan kami teruskan untuk mengunjungi kraton Kadariah. Dari luar keraton, saya sudah bisa melihat bahwa keraton tersebut tidak terawat dengan baik. Seharusnya sebagai objek wisata sejarah, keraton tersebut mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat.
Dari keraton ini pulalah saya mengetahui tentang asal-usul kota Pontianak. Asal nama Pontianak dipercayai bermakna Kuntilanak atau hantu perempuan. Konon, ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie tiba di daratan Pontianak , ia bertemu dengan hantu kuntilanak dan berhasil mengusirnya.
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak. Beliau dilahirkan pada tahun 1142 Hijriah / 1729/1730 M, putra Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam yang berasal Arab.
Tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana . Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong.
Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan sembahyang dhohor itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor.
Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan hantu Pontianak . Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini berdiri Mesjid Jami dan Keraton Kadariah.
Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya’ban 1192 Hijriah,bertepatan dengan hari isnen dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie.
Dibawah kepemimpinannya kerajaan Pontianak berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang cukup disegani.
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Radjab 1185 H), yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada 1192 H, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada Kesultanan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Jami’ Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Keraton Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur
Dengan bantuan Sultan Passir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur, dan Pontianak berdiri.
Dari keraton Kadariah kami kemudian makan siang, dan kemudian kembali meneruskan berbelanja souvenir-souvenir asli Pontianak.
Pukul tiga sore kami menuju bandara Supadio. Untuk kembali ke Jakarta. Ah, sayang kami hanya punya waktu dua hari disini. Andaikan masih ada waktu satu hari saja, kami berniat jalan-jalan ke Singkawang. Kapan lagi ya, saya kesini lagi……..
Dampak Turunnya Tarif Telekomunikasi Seluler Terhadap Kehidupan Sosial Dan Ekonomi Masyarakat Indonesia
04 Des 2008 1 Komentar
in Sepak Pojok Tag:tarif pulsa, tarif pulsa turun
Maraknya para operator telepon seluler yang berlomba-lomba meraih pelanggan sebanyak-banyaknya, menjadi fenomena yang menarik akhir-akhir ini. Para operator seperti berpacu menurunkan tarif agar dapat merebut pasaran.
Pada pada tahun 90 an, tarif percakapan telepon selular dan harga kartu perdananya seperti tidak terjangkau oleh lapisan masyarakat terbawah. Namun tidak dengan tahun ini, dimana tarif percakapan telepon selular menutun drastis.
Hal ini sudah terjadi sejak awal tahun 2008, dimana XL sebagai operator pelopor penurunan tarif selular. Setelah XL membuat promo mengejutkan dengan tarif percakapan sebesar 0,000…../ detik, para operator selular lain berusaha merebut pasar dengan cara yang sama.
Seiring dengan permintaan masyarakat tentang kebutuhan alat telekomunikasi, para operator telepon baru pun bermunculan. Mulai yang akses di jalur GSM, maupun yang di jalur CDMA. Operator baru ini mengenalkan tarif promosi yang murah dan terjangkau oleh masyarakat lapisan ekonomi bawah. Adanya operator selular baru ini meramaikan perang tarif di pasaran. Operator lama seperti XL, simpati, maupun mentari gencar mencari kiat agar tidak ditinggal konsumen.
Turunnya tarif telekomunikasi ini tentu disambut hangat oleh masyarakat. Ditambah dengan harga ponsel yang semakin terjangkau masyarakat. Dimana rata-rata sebagaian besar rakyat Indonesia mempunyai penghasilan yang pas-pasan. Hampir di pelosok negeri ini, rakyat menggunakan ponsel sebagai alat komunikasi, dan ini adalah pasar yang empuk buat operator seluler.
Operator tarif pun ramai-ramai memasang iklan agar mampu menjerat mangsa. Disatu sisi, penurunan tarif ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat. Namun disisi lain dampak dari pembelian pulsa ponsel pun semakin meningkat. Yang biasanya rakyat hanya menggunakan SMS sebagai pengirim pesan, rata-rata penggunaan pulsa sebesar 25 ribu perbulan, namun saat ini pemakaian pulsa bisa membengkak manjadi dua kali lipat. Hal ini kurang disadari oleh masyarakat. Karena penggunaan SMS menjadi turun, dan rakyat lebih memilih menelepon dari pada SMS. Dan tanpa mereka sadari biaya pemakaian pulsa ponsel menjadi bertambah. Dan ada juga operator telepon seluler yang tidak jelas dalam penghitungan pulsanya. Didalam iklan mereka menawarkan harga yang menarik sekali, namun dengan syarat tertentu biaya yang murah akan dikenakan. Jika konsumen dalam menelepon, belum memenuhi syarat tersebut, maka akan dikenakan tarif normal. Dengan turunnya tarif percakapan telepon, rakyat akan semakin gemar menelepon. Biasanya mereka akan tidak sadar jika sudah menelpon sesorang, namun pulsa mereka menjadi terkuras
Rakyat seperti membeli kucing dalam karung, konsumen hanya tertarik pada harga murah yang ditawarkan lewat iklan, tetapi mereka tidak sadar bahwa pulsa mereka malah terkuras habis. Adanya operator yang tidak transparan, sangat merugikan masyarakat. Konsumen hanya terjerat oleh iklan yang sesat tanpa dipikir lebih lanjut, maupun bertanya langsung tentang iklan tersebut kepada pemilik operator ponsel.
Disaat kondisi ekonomi yang sulit, dengan harga-harga sembako yang merambat naik, pemakaian pulsa yang meningkat tentu akan semakin menyudutkan masyarakat. Mereka seperti dihadapkan kesebuah dilema yang sulit. Pilihan pemakaian percakapan telepon daripada SMS yang bertarif lebih murah, namun menyesatkan konsumen, akan menjadi masalah tersendiri bagi rakyat. Kehidupan ekonomi mereka pun bertambah sulit, karena penghasilan yang tak kunjung meningkat namun pemakaian pulsa ponsel semakin membengkak. Rakyat pun akan semakin sulit keluar dari jurang kemiskinan.
Di lain hal, sebelum penurunan tarif telepon berlangsung, secara umum satu keluarga memiliki 2 ponsel yang dipegang oleh suami dan istri. Namun setelah penurunan tarif berlangsung, anak-anak mereka pun minta dibelikan ponsel, dengan alasan tuntutan jaman dan mumpung pulsa murah. Jika anggaran 1 orang sebesar 50 ribu untuk pemakaian pulsa. Andaikan 1 keluarga mempunyai dua anak yang sudah sekolah SMP, maka keluarga tersebut memiliki 4 ponsel dengan pengeluaran sebesar 4 x @Rp 50.000 = Rp 200.000. Tentu saja sang anak belum mampu membeli pulsa sendiri, mereka meminta jatah pulsa kepada orang tua. Dengan anggaran sebesar itu, tentu akan semakin menyulitkan para masyarakat. Ini juga tidak disadari oleh masyarakat. Mereka dengan senangnya membelikan pulsa kepada anak, namun menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah akibat dari pemakaian ponsel yang berlebihan untuk anak. Bisa jadi jika semakin banyaknya anak yang mempunyai ponsel, mereka akan lupa akan tugasnya, yaitu belajar. Mungkin jika mereka sudah memegang ponsel sendiri, mereka akan asyik dengan ponselnya. Seperti SMS dan nelepon teman. Memanfaatkan tarif percakapan yang murah, mungkin mereka akan asyik mengobrol dengan teman-teman mainnya sampai lupa waktu. Dan lupa dengan belajar. Dan ditakutkan mereka akan tertinggal pelajarannya. Memang belum ada penelitian ilmiah mengenai masalah ini. Namun ada baiknya para orang tua ikut mengontrol pemakaian ponsel oleh anak-anak mereka agar jangan terlalu bebas.
Hal-hal semacam inilah yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Dengan turunnya tarif percakapan ponsel, diharapkan rakyat akan semakin bijak dalam mengelola pulsa. Namun pada kenyataannya, rakyat justru terjebak oleh iming-iming pulsa murah. Namun justru pengeluaran mereka menjadi meningkat beberapa kali lipat untuk jatah pulsa. Kondisi seperti ini, sepertinya belum ditanggapi dengan serius oleh pemerintah. Jika kondisi seperti ini masih berlanjut, dikhawatirkan rakyat akan semakin terjerumus. Perang tarif seluler akan semakin membuat rakyat bingung, bagaimana memlilih operator seluler yang tepat.
Penulis : Sigit S


Komentar Anda