Oleh: sigit setiawan | 8 September 2009

Bajak-bajakan dengan Malaysia

Hubungan baik Indonesia dengan Malaysia, pada saat ini kembali memanas. Hal ini ditengarai oleh sifat Malaysia yang serakah dengan membajak beberapa kebudayaan lokal Indonesia. Seperti angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya, lagu rasa sayange, dan tari pendet,

Banyaknya klaim yang dilakukan oleh Malaysia, membuat kita bertanya kembali apakah benar bahwa memang Malaysia adalah bangsa pembajak ataukah mungkin hanya sekedar wacana yang sengaja dihembuskan oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan.
Aksi bajak dari Malaysia alhasil menimbulkan kontra dari bangsa Indonesia. Rakyat nampak mulai gerah dengan aksi Malaysia yang seenaknya sendiri membajak kebudayaan kita. Ditambah lagi dengan sikap pemerintah yang terkesan belum ada sikap yang tegas terhadap Malaysia.

Kebudayaan merupakan buah pikir dari peradaban manusia sepanjang masa. Kebudayaan satu daerah dengan daerah lain tidaklah sama, hal ini dipengaruhi oleh antara lain oleh faktor geografis, agama, sejarah. Dalam satu negara saja banyak keanekaragaman budaya di masyakarat. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada persamaan budaya antara daerah satu dengan daerah lainnya.

Indonesia dan Malaysia merupakan negara yang berasal dari rumpun melayu. Dengan letak negara yang berdampingan. Bahkan di Pulau Kalimantan, negara kita berbagi wilayah dengan Malaysia dan Brunei. Dengan posisi seperti ini bukan tidak mungkin ada kebudayaan yang sama antar negara. Apalagi dengan penduduk yang sama-sama mayoritas Muslim, tidak menutup kemungkinan kita berbagi budaya dengan negara tetangga. Apalagi masalah budaya adalah universal, kebudayaan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kebudayaan adalah warisan turun temurun dari generasi yang lampau.

Suatu kebudayaan belum tentu identik dengan suatu daerah. Batik misalnya, selama ini batik merupakan trandmark dari daerah Jawa, Tetapi batik juga dapat kita temui di Palembang, Bali, Kalimantan, bahkan dapat kita temui di Cina, Malaysia, Thailand, India dengan corak dan motif yang beraneka ragam. Jadi sangat lah tidak mungkin jika kita mengklam batik hanya milik Indonesia saja. Bagaimana dengan batik-batik di negara lain ?.

Faktor migrasi penduduk di suatu ke wilayah lain juga akan membuat kebudayaan tersebut berkembang di daerah tersebut. Reog Ponorogo misalnya. Dalam hal ini Reog yang merupakan kesenian asli dari daerah Jawa Timur, menjadi berkembang di Malaysia. Hal ini di sebabkan banyaknya para imigran dan TKI asal Jawa Timur yang menetap di Malaysia. Para imigran dan TKI ini mencoba mengembangkan dan mengenalkan kembali kesenian daerah asal mereka di Malaysia. Kemudian banyak warga negara dari Malaysia yang belajar kesenian Reog dari warga Indonesia disana. Setelah makin banyaknya warga Malaysia belajar kesenian Reog Ponorogo disana, media lah yang menghembuskan bahwa kesenian Reog Ponorogo di klaim sebagai kebudayaan Malaysia. Justru harusnya kita bangga dan senang bahwa kesenian Reog Ponorogo sudah mulai dikenal dan disukai orang luar negeri.

Demikian juga halnya dengan kesenian-kesenian lain yang saat ini banyak di klaim oleh media sebagai milik Malaysia. Kesenian-kesenian daerah yang semakin banyak di kenal dan populer orang di luar negeri. Seharusnya kita malah bangga, dan ikut senang karena kesenian tersebut dikenal di luar negeri, dan banyak orang asing yang belajar kesenian kita.
Tapi yang terjadi saat ini adalah, dimana kesenian kita sudah dikenal dan sering tampil di negara lain, malah dihujat. Karena kita menganggap kesenian tersebut sudah di klaim milik negara tersebut. Kita seharusnya bangga, karena tanpa promosi kita sudah berhasil mengenalkan Indonesia kepada dunia luar.

Kita bisa mengambil contoh negara Cina. Kesenian barongsai yang merupakan kesenian asll dari daratan Cina tersebut dapat berkembang di Indonesia. Masuknya barongsai di Indonesia juga merupakan jasa para imigran Cina yang banyak terdapat di bumi Indonesia. Para imigran-imigran tersebut mengenalkan dan mengembangkan kesenian Barongsai di Indonesia, sehingga banyak warga Indonesia yang belajar kesenian tersebut. Bahkan untuk acara-acara tertentu di Indonesia, Barongsai sudah sering ditampilkan. Dan hal ini tidak menjadi masalah bagi Cina. Mereka justru senang karena dengan demikian negara Cina mendapat promosi hebat. Contoh lain dari kebudayaan asing yang berkembang “dibajak” di Indonesia seperti misalnya Marawis/ gambus dari Timur Tengah.

Untuk masalah bajak membajak, indonesia mungkin berada di peringkat pertama di dunia. Dan kita tidak perlu malu untuk mengakui hal tersebut. Karena sebenarnya kita juga adalah bangsa pembajak seperti Malaysia. Hal yang sederhana bisa kita lihat adalah kaset dan CD bajakan yang banyak sekali ditemukan di pinggir jalan. Kaset dan CD tersebut bukan saja bajakan dari artis lokal, tetapi juga bajakan dari artis-artis top dunia, juga termasuk penyanyi-penyanyi dari Malaysia yang kita bajak.

Contoh lain adalah produk-produk dalam bentuk makanan, pakaian, dll. Dalam hal ini negara-negara yang kita bajak produknya sama sekali tidak mempermasalahkan adanya pembajakan produk mereka.

Bangsa yang dikenal sebagai bangsa pembajak adalah Cina. Ini bisa kita lihat dari produk-produk elektronik ataupun kendaraan bermotor buatan Cina. Cina memang lihai dalam meniru ataupun menjiplak produk elektronik atau kendaraan bermotor merk terkenal buatan amrika, Eropa, dan jepang. Tapi negara-negara yang dijiplak produknya atau di bajak oleh Cina tidak ada yang memprotes, dan dengan hasil-hasil produk-produk bajakan tersebut, perekonomian Cina mulai bangkit kembali.

Tindakan bajak membajak budaya, produk di dunia ini sudah lama terjadi. Budaya yang sifatnya universal dan terbuka membuat kebudayaan tersebut dapat berkembang diluar wilayah asalnya. Transformasi kebudayaan tersebut membuat kebudayaan semakin menarik karena lebih berkembang, lebih beragam. Dan efeknya adalah budaya tersebut dapat diterima, dipelajari juga dikembangkan oleh semua orang di dunia ini.

Oleh: sigit setiawan | 11 Juni 2009

Booming Facebook

Suatu hari, seorang teman saya dari jogya pernah menyarankan agar saya mempunyai account di facebook. Katanya disana kita bisa ketemu dengan banyak orang terkenal dan bias bertemu dengan teman-teman lama. Saya jadi penasaran, dan saya langsung membuat account faceboook. Setelah itu saya kutak-katik facebook saya, lama-lama menjadi mengasyikkan. Bener juga kata teman saya, didalam facebook kita bisa bertemu dengan orang-orang terkenal dan juga dengan teman-teman kita. Saya tidak mengira didalam facebook, saya bertemu dengan teman-teman saya sewaktu SMA.

Invasi facebook sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Tapi baru booming dua tahun terakhir. Banyak orang beralih total ke facebook. Ini dikarenakan kelebihan-kelebihan dalam facebook yang tidak terdapat dalam web sejenis lainnya. Memang dari segi tampilan, face book masih kalah. Kita bisa membandingkan tampilan dari friendster, tagged, flixer, dll terlihat lebih indah dan menarik.

Ada yang menarik dari booming facebook. Karena ada pihak-pihak yang anti dengan facebook. Seperti MUI yang berencana mengeluarkan fatwa haram untuk facebook. Yang oleh penggemar facebook, fatwa ini dianggap berlebihan dan mengada ada. Entah bagaimana kelanjutan dari rencana fatwa haram yang ingin dikeluarkan MUI untuk facebook. Namun lepas dari fatwa haram yang ingin dikeluarkan oleh MUI, facebook ternyata memberikan manfaat tersendiri bagi penggunanya. Facebook membuat orang lebih mudah untuk berkomunikasi. Jika selama ini kita berkomunikasi hanya satu arah saja, namun dengan facebook kita bisa berkomunikasi dengan orang banyak sekaligus. Dan hebatnya lagi kita bisa mengadakan rapat dengan banyak orang sekaligus tanpa berkumpul dalam ruang rapat.

Melalui facebook pula kita dapat bertemu dan bersilahturrahmi dengan teman yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Seperti teman sekolah waktu SMP, SMA, atau teman kuliah dan mungkin juga teman kita waktu sekolah dasar dahulu. Facebook memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan teman kita yang jauh, walaupun orang tersebut berada di luar negeri.

Masalah yang timbul dari booming facebook adalah orang semakin ketergantungan dengan dunia facebook. Para karyawan kantoran yang komputernya dilengkapi dengan fasilitas internet, bukan tidak mungkin banyak menghabiskan waktu hanya di facebook. Hal ini mengakibatkan turunnya kinerja para karyawan. Penurunan kinerja karyawan inilah yang banyak dikeluhkan oleh beberapa orang pimpinan perusahaan, Masalah lain yang timbul adalah membengkaknya anggaran untuk pemakaian intrenet di kantor. Sebelum adanya facebook penggunaan internet mungkin hanya sebatas email dan browsing, tetapi saat ini internet digunakan untuk facebook dari pagi sampai sore/ malam.

Facebook saat ini juga dapat digunakan melalui ponsel. Tentunya tidak semua ponsel dapat mendukung fasilitas ini. Masalah yang timbul dari pemakaian ponsel untuk facebook adalah membengkaknya anggaran untuk pembelian pulsa ponsel. Yang biasanya ponsel untuk sms dan telepon hanya menghabiskan pulsa sebesar ± 100 rb/ bulan, dengan ditambah facebook anggaran pulsa membengka dua kali lipat. Hal inilah yang dikeluhkan oleh sebagian orang tua yang anaknya menggunakan ponsel untuk keperluan facebook. Walaupun ada operator seluler yang menawarkan pemakaian murah untuk internet hanya 5000 rupiah/ hari, jika angka tersebut dikalikan dengan 30 hari jumlahnya mencapai Rp 150.000,-. andai dalam satu keluarga mempunyai 2 anak atau lebih yang menggunakan ponsel untuk facebook, bisa dibayangkan berapa jumlah pemakaian pulsa seluler hanya untuk satu keluarga dalam waktu 1 bulan. Ini belum ditambah dengan biaya penggantian ponsel yang biasa, dengan ponsel yang mendukung fasilitas internet.

Maraknya penggunaan facebook juga menimbulkan masalah baru dalam hal sosial. Dengan facebook, kita bisa mengomentari tulisan seseorang dalam wall seseorang. Bisa jadi komentar tersebut menyebabkan orang tersebut marah atau tersinggung dengan komentar yang masuk, walaupun komentar tersebut hanya sebatas canda. Interaksi sosial yang ada dalam facebook juga bisa menyebabkan adanya affair dengan lawan jenis. Proses pertama memang hanya saling berkomentar, lalu mengobrol via facebook setelah itu dilanjutkan dengan janji untuk ketemu. Selain masalah diatas, masih banyak masalah lain yang timbul dari kegilaan manusia pada facebook.

Masalah masalah diatas memang tidak semuanya dialami oleh para pengguna facebook. Tergantung dari individu masing-masing pengguna facebook. Apakah mereka menggunakan facebook untuk bekerja, interaksi sosial, atau hanya sekedar iseng.

Oleh: sigit setiawan | 10 Juni 2009

Ketika Itu tahun 1983

Tahun 1983. Saat umurku masih 7 thn, dan aku masih kelas 1 sekolah dasar. Masih teringat jelas peristiwa penggusuran itu. Pada saat aku pulang sekolah, aku terheran-heran kenapa rumah yang ketika itu kami tempati dirubuhkan oleh orang2 berseragam. Aku memang masih polos sekali, dan belum tahu apa yang dinamakan penggusuran. Rumah kami berada di daerah Halim, Jakarta. Penggusuran tersebut merupakan rencana dari pelebaran wilayah mabes AURI yang berada disana.

Setelah penggusuran tersebut, kami sekeluarga belum tahu harus pindah kemana, maklum karena itulah rumah satu-satu yang kami miliki. Akhirnya Bapak mendapatkan kontrakan untuk penampungan sementara keluarga kami. Kontrakan tersebut berada di daerah gang Pule, Kampung Rambutan. Setelah menetap dikontrakan tersebut selama beberapa bulan, Bapak membeli tanah di wilayah Merdeka I.

Masih teringat jelas saat-saat pertama kami menginjakan kaki di Kampung Rambutan. Pada saat awal pindah di gang Pule tersebut aku langsung di daftarkan di SDN 05 Ciracas. Rumah pertama kami yang di bangun di wilayah tanah Merdeka, sederhana sekali. Dengan membawa sisa-sisa kayu pada saat penggusuran di Halim, Bapak membangun rumah tersebut seadanya. Masih jelas sekali terekam dari ingatan saya, bahwa dinding rumah kami belum terbuat dari batu bata semua. Mungkin hanya setengah dari rumah, yang berdinding bata. Selebihnya adalah gedek (anyaman bambu).

Rumah yang sangat sederhana, apalagi ditambah belum adanya lisrik. Yah, listrik yang menerangi rumah kami baru masuk beberapa tahun kemudian. Karena masih jauhnya tiang listrik dari rumah kami, mungkin itu yang membuat PLN masih enggan menyambungkan listrik kami. Untuk penerangan, kami terpaksa menggunakan petromaks yang saat itu masih lebih populer dari ponsel. Sedangkan untuk menonton TV, kami menggunakan aki yang tiap dua hari sekali harus disetrum ulang.

Lingkungan rumah kami tinggal saat itu masih asri sekali. Tetangga kami dalam radius 100 meter mungkin hanya ada 5 rumah. Masih teringat juga dengan kebun salak yang ada di depan rumah kami. Kebun salak yang cukup luas, yg setiap malam saya selalu gerilya mengambil salak yang sudah matang. Di belakang rumah kami masih terbentang sawah yang hijau dengan padinya. Kemudian ada juga kali kecil yang airnya bening sekali. Saya sering sekali mandi di kali itu setelah pulang sekolah, karena airnya yang bening dan bersih. Juga masih terdapat banyak empang2 untuk pemeliharaan ikan, dengan ditaruh jamban diatasnya. Orang bisa buang hajat sekalian bersedekah memberi makan ikan. Toilet yang gratis, bahkan kata yang punya empang kita disuruh buang hajat sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin.

Transportasi di daerah kami saat itu masih sulit. Tidak seperti sekarang yang jumlah angkot lebih banyak dari pada jumlah penumpangnya. Transportasi pada saat itu kami mengandalkan becak yg masih bebas berkeliaran. Untuk jarak jauh, jalan kaki menuju ke tempat pemberhentian kopaja 502 yang mangkal di SMP 106, atau kami naik becak dulu menuju tempat metromini 47 yang mangkal di pertigaan Jl.Suci. Sulit sekali memang, apalagi jika kita harus bepergian untuk urusan mendadak pada malam hari.

Suasana dimalam hari di lingkungan kami sepi sekali. Apalagi jika sudah diatas jam 7 malam. Tak ada orang yang keluar, yang terdengar hanya suara jangkrik yang bernyanyi riang, dan suara binatang malam lainnya yang saling bersahutan. Tak ada suara tukang bakso, sate, somay….Yaah, jika malam hiburan kami hanya televisi hitam putih yang chanelnya hanya TVRI saja.

Kondisi akses jalan dari rumah kami menuju ke depan gang merdeka I juga masih memprihatinkan. Karena belum ada jalan yang di aspal. Jika sehabis hujan turun, untuk berangkat sekolah saya menggunakan kantong plastik kresek untuk membungkus sepatu agar tidak kotor dan basah. Dan kantong kresek tersebut saya buang jika sudah sampai di depan gang.

Oleh: sigit setiawan | 25 Maret 2009

Ponari “The Young Stars”

Seorang bocah laki-laki yang bernama ponari telah membuat geger masyarakat Indonesia. Ponari dengan batu petir nya dikabarkan mempunyai kelebihan dalam menyembuhkan segala macam penyakit masyarakat. Dari penyakit yang ringan sampai penyakit yang berat. Fenomena ini menjadi daya tarik sendiri dalam kehidupan sosial rakyat Indonesia. Kepercayaan kepada sebuah batu yang dipegang oleh Ponari perlahan-lahan mulai menggeser iman rakyat masyarakat. Entah sudah berapa lama fenomena ini terjadi. Adakah yang salah dengan pembinaan akhlak dan agama masyarakat Indonesia ?

Batu yang digenggam ponari jika dilihat dari kasat mata adalah batu biasa yang banyak ditemui di sungai-sungai. Batu inilah yang ramai diperbincangkan karena khasiatnya dalam hal penyembuhan penyakit. Dengan hanya mencelupkan batu tersebut kedalam air yang dibawa oleh pasien. Konon katanya batu yang digenggam oleh ponari adalah batu yang pernah disambar petir, sehingga mempunyai kekuatan tersendiri. Jika memang hanya dengan disamber petir saja sebuah batu bisa menyembuhkan segala macam penyakit, mungkin alat penangkar petir yang banyak dijumpai di gedung-gedung tinggi lebih sakti dari batu ponari karena sudah ratusan kali disamber petir. Sebuah hal yang tidak masuk diakal. Karena banyak benda-benda yang disamber petir tapi tidak seheboh batu petirnya ponari. Perlunya dilakukan penelitian tentang kekuatan batu petir ponari. Apakah memang batu tersebut sakti mandraguna, ataukah hanya sugesti dari masyarakat yang percaya bahwa batu tersebut memang bisa menyembuhkan penyakit. Masyarakat pun berbondong-bondong berdatangan kerumah ponari. Seperti layaknya selebritis, seorang ponari kecil bisa disanjung-sanjung dan disembah oleh masyarakat. Bahkan karena saking banyaknya pasien yang berkunjung, banyak juga pasien yang tidak sempat dilayani oleh ponari karena saking banyaknya pasien yang antri. Ada wacana yang menggelikan, karena ada saran untuk menceburkan batu ponari tersebut kedalam danau atau laut, sehingga masyarakat tidak perlu berbondong-bondong ke rumah ponari.

Keberhasilan ponari dengan batu petirnya, mulai diikuti oleh beberapa daerah. Beberapa orang yang mengaku mempunyai batu petir, atau benda-benda lain yang sakti, mulai membuka praktek pengobatan. Hal inilah yang membuat kekhawatiran. Karena masyarakat secara perlahan-lahan mempercayai hal-hal yang mistis. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan iman, yang menyebabkan pergeseran perilaku masyarakat tersebut. Hal lain yang memicu pergeseran iman tersebut adalah semakin mahalnya biaya berobat dan rumah sakit. Biaya obat dan rumah sakit yang tinggi menyebabkan masyarakat tidak bisa mendapatkan pelayanan dari rumah sakit. Hal tersebutlah yang mungkin menyebabkan masyarakat beralih ke hal-hal supranatural. Dibandingkan dengan ponari yang tidak memasang tarif, harga obat dan pelayanan rumah sakit memang terlampau tinggi.

Oleh: sigit setiawan | 12 Maret 2009

SUATU SAAT DI SMA

Secara tidak sengaja ketika saya membuka-buka facebook, saya melihat teman SMA saya disana. Walaupun saya tidak bertemu dengan teman-teman sekelas saya, namun saya senang sekali karena bisa melihat mereka walaupun dari facebook.

Saya jadi teringat terus dengan teman-teman SMA saya. Terkenang lagi cerita-cerita indah masa lalu. Kemana perginya teman-teman SMA saya. Kemana teman-teman sekelas saya di SMA. Kemana si gatot, teddy jabrik, teddy kuntai, arif “ucup”, Arif “senggol”, Adi, Sarmili, Cakra, Apri, Ferry, … kemana perginya si Endah, Irma, Yunita, Yeti, Lisa, Wiwiek…

Pernah suatu waktu, saya dan semua teman laki-laki saya keluar kelas pada saat jam sekolah. Tidak ada tujuan jelas, hanya iseng saja karena saat itu guru kami tidak masuk. Ada tukang roti keliling yang mungkin tukangnya lagi buang air, roti di gerobak langsung kami ambil dan kami langsung lari menuju warteg di depan kantor kelurahan yang berada tepat disamping sekolah kami.

Ketika kami melakukan study tour ke Jogya, Sarmili, teman kami mematahkan ranjang di hotel kami menginap. Saat itu kami baru saja tiba di hotel, setelah melakukan perjalanan melelahkan dari jakarta ke Jogya. Setiba di kamar hotel, Tedy Jabrik langsung lompat ke tempat tidur diikuti oleh Gatot dan Arif “ucup”. Tapi sial buat Sarmili, karena pas dia lompat ketempat tidur, tempat tidur tersebut langsung patah di tengah. Terdengar suara keras yang kedengaran sampai keluar. Untung saja tidak ada petugas hotel yang mendengar suara tersebut. Langsung kami sambung tempat tidur tersebut dengan tali plastik seadanya. Dan tidak ada yang berani tidur di tempat tidur yang patah tersebut, karena takut akan patah lagi dan ketahuan. Untung saja sampai saat kami meninggalkan hotel tersebut. Para petugas hotel tersebut tidak ada yang tahu bahwa ada satu tempat tidur yang patah.

Suatu hari pada hari jumat, pada saat pelajaran bahasa inggris. Guru kami (lupa saya namanya..) masih asik memberikan wejangan pada kami. Pelajaran bahasa inggrisnya sih sudah selesai, tapi guru kami tersebut terus memberikan wejangan dan terus bercerita. Padahal waktu sudah hampir setengah 12 siang. Dan kami juga harus siap-siap shalat jumat. Saking kesalnya kami, sampai-sampai si Tedy “kuntai” yang bukan ketua kelas berteriak ,”Siap, berdoa mulai..” (kebiasaan kami saat awal pelajaran pada pagi hari dan siang hari waktu mau pulang, ketua kelas memberi aba-aba untuk berdoa). Entah mengapa bu guru tersebut langsung melotot kepada saya. Dikiranya saya yang memberi komando tadi. Alhasil, saya langsung diceramahi habis-habisan. Sampai-sampai guru tersebut membandingkan saya dengan sigit yang lain tetapi dia murid tahun sebelumnya yang rajin. Ya sudah, saya pasrah. Sambil menggerutu dalam hati. Ah, sialnya….

Biasanya anak-anak laki-laki di SMA punya tempat tongkrongan dengan genk nya saat pulang sekolah. Tempat tongkrongan kami adalah sebuah warung yang berada tepat di depan komplek pemadam kebakaran. Setiap pulang sekolah kami selalu kesana. Anggota genk nya pun tidak nambah. Itu-itu saja orangnya. Ada Gatot, Arif, Cakra, Adi, Sarmili, Fahrudin, Teddy jabrik dan kuntai, Nasir, Rojali, dan saya sendiri. Karena genk tersebut adalah genk perokok semua. Sampai-sampai saya pun kecanduan rokok dari hasil perbuatan nongkrong tersebut. Tapi kadang-kadang kami nimbrung dengan genk lain yang bukan perokok kaya Dani, Ferry, Arif senggol, Aryo, Beni…

Ada kejadian lagi yang gila. Pada saat itu kami sedang ujian ebta atau ujian kenaikan kelas ya. Saya juga lupa pada waktu ujian mata pelajaran apa. Pada saat itu kami baru saja mengerjakan soal, mungkin sekitar lima menit. Si Tedy item (jabrik) langsung keluar ruangan karena tidak bisa mengerjakan soal. Dan saya pun juga terkejut karena teman-teman saya juga keluar satu persatu meninggalkan ruang ujian. Akhirnya saya pun juga ikut-ikutan meninggalkan ruang ujian dan langsung menuju kantin. Tinggallah hanya wanita, an beberapa orang teman laki-laki saja yang tidak keluar. Setelah ujian selesai, kami langsung diceramahi guru pengawas. Kalo gak salah yang mengawas ujian pada saat itu adalah Pak Dasuki.

Ah, Indahnya masa SMA………….

Oleh: sigit setiawan | 26 Februari 2009

Pemimpin Negara Yang Ideal

Pada tahun 2009 ini rakyat indonesia akan melakukan hajatan besar, yaitu pemilu 2009. pemilu sendiri akan digelar pada pertengahan tahun ini.

Sebagai rakyat yang baik, kita dituntut untuk ikut menyukseskan pemilu ini. Dengan berpartisipasi pada proses pemungutan suara nantinya. Harapan para pemimpin bangsa dan elite politik adalah seluruh rakyat dapat menggunakan hak suaranya dengan benar. Dan tidak ada yang golput. Harapan ini mungkin agak sulit untuk direalisasikan. Mengingat kepercayaan rakyat kepada pihak pemerintah sudah mulai pudar. Apalagi setelah mereka diberikan janji-janji yang muluk pada saat kampanye.

Besarnya angka golput pada pemilu 2009 ini diperkirakan akan mencapai jumlah 40% dari jumlah pemilih tetap yang ada. Jumlah ini mungkin bisa bertambah, mengingat adanya rakyat Indonesia yang tidak terdaftar sebagai pemilih di pemilu nanti.

Tingginya rakyat Indonesia yang golput, menunjukkan bahwa antusias rakyat terhadap pemilu semakin menurun. Juga berarti belum adanya figur pemimpin bangsa yang cocok dimata rakyat. Berdasarkan pengalaman mereka semenjak krisis ekonomi, dari Suharto sampai SBY, rakyat merasa bangsa ini belum dapat keluar dari keterpurukannya.

Figur pemimpn bangsa seperti yang diharapkan oleh rakyat adalah seorang pemimpin yang mampu mengangkat keluar Indonesia dari masa yang suram. Apalagi semenjak pertengahan tahun 2008 lalu, dunia dihadapkan pada krisis ekonomi global yang membuat perkonomian Indonesia kembali terpuruk. Situasi ini membuat rakyat kembali harus mengkaji ulang pilihannya kepada calon pilihannya agar tak salah pilih lagi.

Calon pemimpin bangsa yang diidamkan oleh rakyat adalah seorang figur yang tahu benar akan situasi dan keadaan rakyat Indonesia saat ini. Seorang pemimpin yang tahu benar ada rakyat yang menganggur, kelaparan, anak yang tidak sekolah. Pada intinya semua masalah-masalah yang dialami oleh rakyat kecil harus diketahui oleh pemimpin bangsa ini

Oleh: sigit setiawan | 25 Februari 2009

JAKARTA – BANDA ACEH PP

masjid raya Banda Aceh

Aceh, suatu daerah yang asing sekali bagi saya. Daerah yang penuh konflik, daerah yang hancur akibat terjangan tsunami, daerah yang rawan, daerah yang menjalankan syariat islam. Sungguh, saya tak bisa membayangkan seperti apa wajah Aceh saat ini.

Pada pertengahan februari ini, kami mengadakan kunjungan banda aceh. Rombongan kami berjumlah empat orang.

Melelahkan juga ya perjalanan dari jakarta sampai banda aceh. Saya berangkat dari jakarta pukul 10 pagi, sampai di banda aceh sudah pukul 2 siang. 4 jam waktu perjalanan membuat badan saya terasa pegal-pegal.

Sampainya di bandara sultan iskandar muda, saya sempat tertegun karena kondisi bandara yang berantakan. Tapi saya akhirnya menjadi maklum, karena persipan kedatangan presiden SBY, bandara ini di renovasi besar-besaran.

Setelah itu, kami langsung mencari rumah makan. Kami dibawa oleh penjemput kami dari lemlit Unsyiah, ke rumah makan ’spesific aceh’. Waw, kami langsung disuguhi makanan khas aceh. Enak juga ya, mak nyoss. Benar-benar rasanya enak, dan punya rasa yang khas tersendiri dibanding dengan daerah lain.

dsc05733

Akhirnya sampai juga saya di hotel hermes. Karena lelah sekali, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur hotel. Jam 5 sore, kami diajak berkeliling banda aceh. Kami diajak ke suatu tempat, dan ditempat itu ada sebuah kapal besar ditengah-tengah pemukiman. Saya langsung tertegun, kenapa ada kapal sebesar ini ditengah perumahan. Akhirnya saya tahu bahwa tsunami yang mengantar kapal ini. Kapal PLTD yang berbobot mati 2600 ton sebelumnya berada di tengah laut, dengan menempuh jarak ± 5 KM kini berada di sini. Saya baru tahu bahwa gelombang yang membawa kapal ini setinggi 20 meter dan kecepatannya mencapai 350 km/jam. Subhanallah, bahkan gelombang itu lebih cepat dari mobil balap formula satu.

Puas berkeliling kami sempatkan diri untuk sholat magrib di masjid raya banda aceh. Masjid ini ketika tsunami terjadi, menjadi tempat berlindung oleh orang-orang dan menjadi tempat pengungsian sementara bagi warga pasca tsunami. Sebab di daerah tersebut sudah tidak ada lagi bangunan, habis semua disapu oleh tsunami. Lalu kami makan malam di warung rojali. Warung yang khusus menjual mie aceh. Rasanya lebih enak daripada mie aceh yang ada di jakarta.

Pagi harinya kami berkemas untuk mengunjungi Bapedda Aceh. Dari kantor Bapedda Aceh saya lansung mengunjungi Universitas Sultan Iskandar Muda. Sampai disana saya agak terkejut karena universitas ini berantakan sekali. Sedang ada renovasi besar-besaran pasca tsunami. Mungkin karena kekurangan dana, renovasi tersebut masih berlangsung sampai saat ini.

Hari ketiga kami di Aceh, kami akan mengadakan acara diskusi di Universitas Syah Kuala. Acara diskusi tersebut berlangsung sampai siang hari, setelah selesai kami bergegas shalat jumat di masjid. Takut juga saya, waktu mendengar jika ada laki-laki muslim yang ketahuan tidak melaksanakan shalat jumat, akan dikejar-kejar oleh kaum wanita dengan membawa sapu lidi. Memang di aceh menerapkan hukum syariat islam dengan kuat. Jika ada wanita muslim yang tidak memakai jilbab dan ketahuan oleh polisi syariah, maka akan ditangkap dan dihadiahi hukuman cambuk.

Selesai shalat jumat, kami makan siang lalu hunting mencari oleh-oleh buat keluarga. Saya sempatkan untuk membeli tas bagi istri tercinta. Dan tidak lupa oleh-oleh dalam bentuk makanan yang kali ini saya membelikan dendeng beberapa buah. Saya tidak sempat berlama-lama memilih oleh-oleh karena sudah waktunya saya kembali ke Jakarta dengan pesawat jam 5 sore. Huuh…

Oleh: sigit setiawan | 30 Desember 2008

Digital VS Konvensional

Booming kamera digital akhir-akhir ini mampu menggusur keberadaan kamera konvensional. Kamera konvensional yang sudah digunakan oleh umat manusia dalam satu abad ini, tidak mampu lagi menandingi kamera digital. Keberadaan kamera digital yang mempunyai karakteristik tersendiri dalam media penyimpanan foto, mampu menandingi kamera konvensional yang masih menggunakan rol film/ slide sebagai media penyimpanannya. Namun belum seluruhnya masyarakat menggunakan kamera digital. Karena harga satu buah kamera digital yang masih belum tersentuh oleh masyarakat lapisan ekonomi bawah.

Semenjak kamera digital muncul, sudah tidak ada lagi upaya untuk mengembangkan kamera konvensional agar mampu bertahan. Ini bisa dilihat dari tidak adanya kamera baru yang muncul yang menawarkan fitur-fitur menarik dan revolusi pada media penyimpanan datanya.

Unsur media penyimpan data memang menjadi unsur utama dalam fotografi. Media rol film yang diusung oleh kamera konvensional kalah jauh dibanding kamera digital. Jika dalam kamera digital, orang bisa langsung melihat hasil foto yang diabadikannya. Maka dalam kamera konvensional, orang harus menuggu proses pencucian dan pencetakkan film untuk melihat hasil karyanya. Jika dalam kamera digital, orang bisa menyimpan sampai ribuan foto dalam kartu memorinya. Maka dalam kamera konvensional, orang hanya mampu menyimpan 36 foto saja dalam satu rol film. Dan belum tentu, foto yang disimpan dalam rol tersebut bagus semua, karena mungkin saja ada beberapa foto yang gelap, tidak fokus, buram, dan hal ini tidak bisa dihapus atau diperbaiki. Lain halnya dengan kamera digital, yang karya fotonya dapat langsung dihapus jika foto tersebut dianggap jelek oleh pembuatnya.

Dengan kamera digital. Orang langsung dapat mencetak foto melalui komputer. Dapat pula disimpan dalam album foto yang berisikan ribuan foto di dalam memori komputer. Namun deengan kamera konvensional, orang harus menyimpan film/ slide mereka dalam tempat khusus agar tidak mudah rusak. Dengan kamera konvensional, orang harus menscan foto agar dapat disimpan di komputer atau ditampilkan di internet, tidak halnya dengan kamera digital, dimana orang tinggal copy paste ke album di komputer atau upload di internet.

Dengan kamera digital, orang dapat menghapus foto di kartu memori apabila foto tersebut jelek. Ataupun jika kartu memori tersebut sudah penuh, memorinya dapat dihapus atau dikosongkan semua. Praktis sekali dan hemat. Jika dibandingkan dengan kamera konvensional yang film nya tidak dapat dihapus atau dikosongkan kembali. Karena jika rol film tersebut penuh, maka perlu rol film baru yang kosong untuk menggantikannya. Dan hal ini sangat boros. Belum lagi jika ditambah dengan ongkos cuci film.

Namun dibalik sifatnya yang praktis, terdapat pula kelemahan dalam kamera digital. Karena sifatnya yang langsung dapat disimpan di memory komputer, membuat orang dapat dengan mudah merubah foto tersebut dengan menambahkan atau mengurangi gambar tersebut. Ini membuat keaslian karya foto seseorang, mudah sekali di duplikasi dan dirubah oleh orang lain. Bahkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, suatu foto artis dapat dibuat menjadi foto mesum dan bugil. Ini merugikan orang yang dirubah fotonya, karena hal ini menyangkut privasi dan nama baik seseorang.

Jika sudah bicara hobby, masalahnya menjadi lain. Bagi mereka yang penggemar fotografi, dan pertama kali belajar fotografi menggunakan kamera konvensional SLR, penggunaan kamera konvensional masih dilakukan.. Karena itu menyangkut keasyikan tersendiri yang tidak akan pernah didapat oleh kamera digital. Pengguna kamera ini akan sangat bangga jika mereka menunjukkan foto mereka, karena keaslian foto tersebut sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka akan sangat puas sekali dengan karya yang dihasilkan oleh kamera SLR konvensional. Apalagi jika mereka sendiri yang mengerjakan proses pencucian fotonya melalui kamar gelap. Sangat mengasyikan. Dan hal itu lah yang tidak didapatkan dari kamera digital manapun.

Oleh: sigit setiawan | 24 Desember 2008

Batulicin

jembatan barito

Pada akhir bulan november yang lalu, untuk kali ketiga saya menginjakkan kaki kebumi kalimantan. Kali ini daerah yang saya kunjungi adalah wilayah Kalimantan Selatan. Kalimantan selatan adalah provinsi dengan luas sekitar 37.377,53 km². Dibanding dengan provinsi lain di pulau Kalimantan, provinsi kalimantan Selatan merupakan provinsi terkecil bila dibandingkan dengan tiga saudaranya.

Setibanya di bandara Syamsuddin Noor waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. waktu setempat, rencana yang seharusnya kami tiba di sini pukul 21.00 WIB, menjadi mundur karena keterlambatan pemberangkatan pesawat udara yang mengangkut kami. Apa boleh buat, kami langsung menuju hotel di banjarmasin. Dan tiba di hotel Crystal, saya langsung merebahkan badan saya sampai saya sadar bahwa waktu sudah pukul 7 pagi. Setelah sarapan pagi, kami malanjutkan perjalanan kami yaitu daerah batulicin. Dan kami sempatkan diri untuk mampir ke toko cinderamata di Martapura.

Tiba saatnya kami menjelajah hutan Kalimantan dengan tujuan kami yaitu Batulicin. Perkiraan waktu tiba di batulicin adalah 8 jam. Melelahkan sekali, apalagi dengan kondisi jalan yang hancur. Dengan banyaknya truk pengangkut kelapa sawit dan batubara yang lewat, membuat jalan rusak parah. Dibeberapa tampat terdapat lubang yang besar, dan bahkan ada truk yang terjebak dilubang tersebut. Yang membuat as roda depan truk tersebut patah, dan butuh waktu untuk memindahkan truk tersebut. Dengan jalan yang rusak, banyak lubang disana sini, membuat kami terguncang-guncang di mobil sepanjang pejalanan. Hal ini membuat saya tidak bisa tertidur di mobil. Karena asyiknya bergoyang -goyang didalam mobil.

Sepanjang perjalanan kami, banyak hal-hal yang saya saksikan. Hutan yang saya bayangkan ditumbuhi pohon yang tinggi, lebat, dan liar, dan banyaknya binatang buas, tidak saya temukan. Yang saya lihat hanyalah hamparan lahan dengan alang-alang yang tinggi, dan hutan hasil budidaya manusia seperti karet dan kelapa sawit. Tidak ada hutan yang lebat, dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Ada juga saya lihat lahan yang kosong, yang sudah terbakar isinya. Mungkin akan dibuat lahan baru untuk bercocok tanam penduduk disini.

Keadaan seperti ini membuat saya miris. Hutan lebat yang berfungsi sebagai paru-paru dunia dan daerah resapan air sudah tidak ada lagi. Tergantikan oleh rumah-rumah penduduk, pertambangan batubara, dan lahan-lahan hasil garapan manusia. Entah kemana larinya binatang-binatang buas yang dahulu merupakan penduduk asli hutan sini.

Tiba di batulicin sudah sekitar jam 9 malam. Kami menginap di hotel Ebony. Kami pun langsung tidur begitu masuk kamar hotel. Pulas sekali tidur kami, mungkin karena kemarin kami seharian terguncang-guncang di mobil. Sehingga badan kami terasa pegal seluruh tubuh.

Hari ke dua kunjungan kami ke ke lokasi pabrik biodiesel yang belum beroperasi. Tak lama di pabrik tersebut kami melanjutkan perjalanan ke Kotabaru. Untuk ke Kotabaru kami harus naik kapal ferry agar sampai disana. Waktu tempuh perjalanan dengan ferry sekitar 40 menit. Setibanya di pelabuhan Stagen, Kotabaru, kami langsung melanjutkan perjalanan. Dengan menyusuri hutan mangrove yang luas namun rusak parah, kami menuju ke pusat kota. Sampai lah kami kantor bupati kotabaru. Di depan kantor ini terdapat pantai tempat wisata. Lumayan indah, terdapat juga tugu bergambar ikan cucut. Mungkin inilah lambang kotanya.

Perjalanan dari kantor bupati ke pelabuhan panjang Kotabaru sangat mengasyikan. Jalan yang luas, cukup lebar, dan dikanan kiri dipenuhi hutan-hutan yang lebat dan pepohonan yang tinggi sangat menghibur. Dibandingkan dengan perjalanan dari Banjarmasin ke Batulicin, perjalanan disini sangat jauh berbeda. Kalau saja hutan-hutan di Kalimantan semuanya seperti ini, tentu perjalanan dari Banjarmasin ke Batulicin juga mengasyikan.

Hari berikutnya kami akan kembali ke Banjarmasin. Dari pagi hari kami sudah bergegas membereskan barang-barang kami dan chek out dari hotel Ebony. Dalam perjalanan kembali ke Banjarmasin kembali kami terguncang-guncang di dalam mobil. Sesampainya di hotel Crystal banjarmasin, badan terasa pegal-pegal semua. Biasanya di Jakarta kalau badan terasa pegal-pegal, saya langsung minta tolong istri untuk menginjak-injak badan saya.

Hari terakhir di provinsi Kalimantan Selatan

Sehabis sholat subuh saya menuju ke sungai Barito. Dengan menumpang perahu, yang oleh penduduk disana disebut kelotok, kami menuju ke pasar terapung di sungai Barito. Asyik juga ya belanja di pasar ini. Bermacam-macam dagangan dijajakan disini. Tapi yang terbanyak adalah buah dan sayur mayur. Sampai terdapat restoran terapung disini Ada juga lho SPBU terapung. SPBU itu menjual minyak solar untuk keperluan perahu-perahu kelotok yang laludayung terus lalang di sungai Barito ini.

Sungai Barito merupakan sungai terlebar di Pulau Kalimantan. Terdapat pula jembatan di sungai Barito ini yang panjangnya mencapai 1 KM. Sungai ini menjadi penting karena di sungai ini menjadi urat nadi perekonomian warga. Selain menjadi jalur transportasi tentunya. Disepanjang bantaran sungai ini, dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk. Mereka bermukim tepat diatas sungai Barito. Pemukiman disini menggunakan kayu ulin untuk menyangga rumah mereka. Kayu ulin merupakan kayu yang tahan air dan sangat kuat. Menurut keterangan yang saya dapat, semakin kayu ini terendam oleh air, maka semakin kuat kayu ini. Dan tidak akan lapuk.

Penduduk di bantaran sungai Barito menggunakan air sungai Barito untuk keperluan sehari-hari. Dari mencuci, mandi,sampai masak. Mereka seperti tidak takut akan penyakit yang mengancam mereka seperti gatal2, muntaber, dll.

Setelah puas berkeliling sungai Barito, kami kemudian membereskan barang-barang kami. Sambil menunggu jadwal pesawat ke berangkatan ke Jakarta, kami gunakan waktu untuk berjalan-jalan dan belanja di kota Banjarmasin.

Oleh: sigit setiawan | 19 Desember 2008

Kotornya Kota Ku…

Jakarta merupakan kota megapolitan di Asia. Dengan berbagai macam suku bangsa, agama semua ada di jakarta. Jumlah penduduk jakarta menurut data sensus pada tahun 2006 berjumlah 7.512.323 jiwa. Dan jumlah tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun karena arus urbanisasi. Entah apa yang menjadi magnet bagi kaum urban untuk datang ke kota ini.

Jakarta yang pada tahun 70 an merupakan kota yang bersih, dan hijau. Kini menjadi kotor, pengap, panas, dan sumpek. Sudah tidak ada lagi jakarta yang hijau, sungai dan pantainya bersih juga banyak ikannya, udaranya segar….

Dengan makin meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ketahun, pastinya akan membuat masalah baru bagi kota ini. Sampah di ibukota telah menjadi masalah yang krusial bagi pemporv DKI dan bagi warganya. Kurang tertibnya warga yang membuang sampah ditempatnya telah membuat kota ini kotor. Ini dapat dilihat dari kotornya sungai-sungai dan selokan di wilayah Jakarta. Tidak ada sungai dan selokan yang bersih dari sampah. Nampaknya sungai-sungai di jakarta telah menjadi tempat sampah umum yang dapat digunakan oleh warganya.

Masalah sampah ini merupakan masalah yang akut bagi pemprov DKI. Usaha-usaha pemprov DKI untuk menanggulangi masalah ini seperti tidak pernah berhasil. Dengan semakin banyaknya pandatang yang mengais nafkah di ibukota, membuat semakin banyak pula sampah yang dikeluarkan penduduk jakarta. Kesadaran membuang sampah di tempatnya mesti disosialisasikan kembali oleh pemerintah. Usaha-usaha yang sedang dilakukan oleh pemerintah, mesti dipercepat kemajuannya karena ditakutkan akan semakin membuat masalah ini semakin besar.

Masalah-masalah yang timbul dari menumpuknya sampah adalah masalah banjir. Banjir yang melanda jakarta setiap musim hujan diakibatkan oleh warga nya yang membuang sampah ke sungai. Sungai-sungai akan penuh sampah, dan jika hujan turun air akan meluap. Karena jalan air terganggu oleh banyaknya sampah di sungai.

Masalah pembuangan akhir sampah juga menjadi kendala utama.. Andaikan satu orang penduduk membuang sampah seberat 1 kg perhari, entah berapa jumlah sampah warga jakarta setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulannya. Bisa dibayangkan beban kota ini dalam urusan sampah.

Sampah yang dibuang warga jakarta, pada akhirnya akan bermuara ke laut lepas. Belum lagi ditambah limbah beracun dari buangan pabrik yang dialirkan. Dan tentu saja akan menggangu kelangsungan ekosistem di laut. Lihat saja ke wilayah Ancol. Laut disana sudah tidak bersih lagi. Banyak sampah berserakan dimana-mana. Contoh lain dapat dilihat di kepulauan seribu, seperti di Pulau Untung Jawa, di pulau itu penuh sampah menggunung disepanjang tepian pantai. Inilah sampah warga jakarta yang dibuang kesungai, dan kemudian terdampar disini. Dan ekosistem di kepulauan seribu, sudah mulai rusak. Tidak ada lagi terumbu karang yang indah, tidak ada lagi hutan mangrove yang lebat, dan jumlah ikan yang ditangkap nelayan di daerah Muara Karang menurun drastis dari tahun ketahun. Dan tampaknya tidak ada lagi pulau di kepulauan seribu yang bersih dari sampah warga jakarta.

Kesadaran warga jakarta dalam membuang sampah amat sangat memprihatinkan. Mereka tidak peduli dengan pencemaran lingkungan. Sepertinya pemprov DKI sudah memfasilitasi dengan adanya bak-bak sampah yang akan diangkut oleh truk menuju tempat pembuangan akhir. Namun karena warga harus membayar iurannya, mereka jadi tidak mau membuang sampah di bak sampah. Mereka membuang sampah ke sungai, got, atau ke lahan kosong. Jika warga tidak dipungut iuran dalam hal pembuangan sampah, mungkin warga akan membuang sampah di bak sampah yang telah disediakan.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah buangan limbah pabrik ke sungai. Limbah-limbah ini kita ketahui banyak mengandung bahan kimia dan sangat beracun. Lihat saja sungai dan selokan di Jakarta menjadi hitam, berbau dan berbusa. Sudah pasti tidak ada satu pun ikan yang sanggup bertahan hidup di air seperti itu.

Masalah polusi kendaraan bermotor juga membuat keruh udara jakarta. Asap kendaran bermotor dari berbagai macam tipe kendaraan ikut meramaikan polusi udara. Dengan tidak adanya pembatasan usia kendaraan bermotor, dan pengetesan kadar polusi yang dihasilkannya, membuat semrawut jalan ibukota. Kendaraan yang berpotensi membuat polusi, seperti bajaj, metromoni, biskota, dan motor mesin 2 tak, masih berkeliaran di jalur jalan. Mungkin akan lebih bijak jika Polda Jakarta, menurunkan polisi yang khusus urusan polusi udara. Mereka dapat memberi surat tilang bagi kendaraan yang asap knalpotnya tebal dan hitam tanpa pandang bulu. Atau polisi tersebut dapat menyita kendaraan tersebut apabila sudah dua kali tidak ada perubahan. Dan kendaraan yang disita, langsung dihancurkan atau bisa juga dibuang ke laut untuk menjadi rumpon di perairan pulau seribu.

Dalam hal kependudukan, pemprov DKI kembali dihadapkan kemasalah pemukiman warga. Banyaknya bangunan-bangunan liar tempat tinggal warga di bantaran sungai membuat pemukiman di daerah tersebut menjadi langganan banjir tahunan. Sudah sering dilakukan penertiban namun warga masih pula membandel. Hal itu juga yang membuat sungai-sungai di Jakarta tidak sedap dipandang. Bangunan-bangunan ini banyak terdapat di bantaran sungai Ciliwung.

Selain itu warga juga menempati lahan-lahan yang kosong untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka dengan seenaknya membuat tempat tinggal yang terbuat dari seng atau kayu untuk rumah mereka. Dan tidak itu saja, karena mereka juga mangajak teman yang belum punya tempat tinggal untuk membuat bangunan disana. Dalam waktu kurang dari satu tahun, lahan itu pasti penuh dengan pemukiman-pemukiman kumuh. Jika ada penggusuran lahan, mereka akan memberontak tidak mau tempat tinggalnya digusur. Bahkan mereka menuntut ganti rugi pula. Dalam hal ini pemprov DKI yang disalahkan, karena dianggap melakukan penggusuran seenaknya.

Jika masalah-masalah tersebut tidak diselesaikan, kondisinya akan bertambah parah. Mungkin akan lebih baik kalau jakarta tidak lagi menjabat sebagai ibukota negara, karena sudah berat beban yang harus dipikul kota ini dalam masa jabatannya sebagai ibukota negara.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori