Otonomi : Peluang dan tantangan…

Otonomi daerah merupakan jalur bagi pemerintah Negara Indonesia untuk dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Banyak perubahan yang terjadi pada saat diterapkannya otonomi daerah. Terutama setelah masa orde baru berakhir.

Sesuai dengan UU No 22 Tahun 1999 tentang kewenangan otonomi daerah, maka banyak perubahan yang terjadi dalam segi tatanan kepemerintahan di Indonesia atau lebih dikenal dengan Reformasi Birokrasi. Artinya terjadi perubahan dari segi birokrasi untuk menuju birokrasi yang baik atau dikenal Good Governance. Pada masa pemerintahan Soeharto atau orde baru segala kebijakan harus berdasar dari pemerintah pusat, ini dikarenakan pada waktu sebelum adanya otonomi daerah yang menggunakan prinsip desentralisasi. Pada saat ini segala sesuatu yang berhubungan dengan suatu daerah merupakan tanggung jawab daerah dan daerah tersebut berhak untuk mengambil keputusan dan kebijakan. Saat ini kita sering mendengar istilah perda, ini merupakan realita dari otonomi daerah bahwa suatu daerah berhak mengeluarkan peraturan terkait permasalahan yang terjadi di daerah dan ini sangat jauh sekali berbeda dengan masa dulu sebelum adanya otonomi daerah.

Untuk meningkatkan kefektifan dalam penyelenggaraan pemerintahan maka di sahkan peraturan baru yang mengatur tata pemerintahan daerah yaitu UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dengan dasar pertimbangan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga perlu diganti, serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antarsusunan pemerintahan dan antarpemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.

Dengan dikeluarkan peraturan baru tersebut maka dilaksanakanlah pemilihan umum secara langsung pada Pemilu tahun 2004 untuk memilih Presiden secara langsung, pemilihan kepala daerah serta pemilihan anggota DPR baik ditingkat Provinsi/kabupaten kota atau tingkat pusat. Ini merupakan pemilu yang pertama kali di Indonesia, dimana presiden dan wakil rakyat dipilih secara secara langsung oleh rakyat. Dengan begitu rakyat dapat memlilh wakilnya yang menurutnya dapat dipercaya untuk menjalankan amanat rakyat. Dengan adanya otonomi daerah diharapkan birokrasi dapat menjalankan amanat rakyat dengan baik,

Dengan otonomi daerah maka pemerintah daerah dapat mengatur rumah tangganya sendiri, dan dari segi ekonomi banyak sekali keutungan dari penerapan sistem desentralisasi atau otonomi daerah ini, dimana pemerintahan daerah akan mudah untuk mengelola sumber daya alam yang dimilikinya, dengan demikian apabila suber daya alam yang dimiliki telah dikelola secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat.

Perbandingan dibidang ekonomi pada era sebelum dan sesudah otonomi daerah pada dasarnya memiliki persamaan dan perbedaan, sama-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi dan otonomi daerah ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat.

Otonomi daerah dapat juga memberikan tantangan dalam pemerintahan, seperti pada pemilihan kepala daerah, kasus-kasus pemilihan pimpinan daerah sampai pemilihan Kepala Desa memunculkan pertengkaran warga diberbagai daerah menjadi ancaman bagi keutuhan persatuan serta kesatuan masyarakat. Bahkan sering KPU menggelar pilkada ulang pada suatu daerah, hal ini dikarenakan hasil pilkada tidak dapat dipertanggungjawabkan, ada yang bilang sarat dengan kecurangan dimulai dari adanya pemilih ganda, ada warga yang tidak dapat kartu pemilih atau hak pilih dan bahkan adanya kecurangan pada perhitungan suara atau manipulasi data para pemilih atau jumlah suara.

Dari pengamatan penulis, sistem sosial budaya Indonesia sejak diberlakukannya undang-undang otonomi daerah mengalami berbagai macam perubahan, akan tetapi tidak menjamin bahwa perubahan tersebut hanya dikarenakan oleh adanya otonomi daerah, Pada era reformasi sekarang ini, salah satu perkembangan sosial di masyarakat adalah adanya kebebasan untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat,, Hal ini berbeda sekali dengan era orde baru, dimana segala sesuatu diatur dan dilarang oleh pemerintah.

Pada saat sebelum diberlakukannya otonomi daerah, pengelolaan sumber daya dan potensi daerah diatur oleh pemerintah pusat. Hal ini membuat kecemburuan di berbagai daerah yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah, karena keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam dikuasai oleh pemerintah pusat. Namun setelah di terapkannya otonomi daerah, pengelolaan sumber daya alam dan segala potensi lokal, mutlak sepenuhnya dikelola oleh pemerintah daerah. Hal ini membuat daya saing daerah menjadi meningkat. Dan kecenderungan masyarakat untuk bermigrasi ke ibukota menjadi berkurang.

Di era reformasi sesudah otonomi daerah ini banyak sekali bermunculan organisasi-organisasi sosial dan parpol di Indonesia. Hal yang tidak kita temui dalam masa sebelum otonomi, dimana organisasi masa dan parpol pada saat itu tidak dapat tumbuh dan berkembang karena ketakutan rezim penguasa jika banyak organisasi massa dan parpol yang tumbuh dan berkembang.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Hijau Jakarta ku, Jernih air ku…

Air adalah suatu karunia Ilahi yang merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk di bumi. Tanpa air niscaya tidak ada makhluk yang dapat bertahan hidup. Keberadaan air dimuka bumi, jauh sebelum adanya mahkluk di bumi ini. Itulah pentingnya air bagi kehidupan manusia.

Perlindungan terhadap keberadaan serta keberlanjutan sumber daya air harus dijaga dengan baik. Air yang saat ini kita nikmati, adalah suatu warisan untuk anak cucu kita dimasa yang akan datang.

Kondisi air di Jakarta pada saat ini sudah dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Sungai-sungai, selokan di penuhi limbah buangan pabrik dan sampah rumah tangga. Kondisi ini membuat kualitas air di kota Jakarta semakin buruk. Air di sungai-sungai yang sudah tercemar akan kembali terserap kedalam bumi, dan kemudian akan dikonsumsi kembali oleh manusia.

Pesatnya pembangunan di Jakarta, membuat daerah hijau di Jakarta semakin menyempit. Lahan-lahan yang dahulu hijau, kini telah tertutup oleh semen dan aspal jalan. Semakin sedikit air yang meresap ke dalam tanah karena telah tertutup oleh semen dan aspal. Hal ini lah yang membuat banyak warga Jakarta pada saat musim kemarau mengalami kesulitan air bersih.

Jika musim hujan, jakarta seakan tak pernah luput dari problema banjir.  Hal ini tidak terlepas dari sistem drainase kota jakarta yang buruk. Dan juga timbunan-timbunan sampah yang mengganggu arus air sungai. Air yang tidak lagi meresap kedalam tanah, sungai dan selokan yang tidak lagi memadai, membuat air hujan menjadi tergenang.

Upaya Perlindungan  

Sebagai ibukota negara, Jakarta ternyata mampu menarik minat jutaan penduduk desa untuk berbondong-bondong bermigrasi ke Jakarta. Setiap tahun jumlah penduduk Jakarta semakin meningkat. Hal ini juga mesti diantisipasi oleh pemprov DKI untuk menyediakan air bersih ke seluruh warganya.  Perlunya dibatasi migrasi penduduk desa ke Jakarta, agar penduduk Jakarta tidak terlalu banyak.

Upaya perlindungan sumber daya air di Jakarta, mesti dimulai dari tingkat yang terkecil. Perlunya pembinaan kepada masyarakat yang berada di bantaran kali di Jakarta harus ditegakkan. Di setiap pemukiman penduduk, harus di buat tempat pembuangan sampah yang besar untuk menampung sampah rumah tangga 50 KK. Dan bagi penduduk yang membuang sampah ke sungai, harus ditindak dan diberi sangsi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Selain itu juga perlu dibangun kembali ruang hijau di tengah kota. Dengan terlebih dahulu diberikan batasan untuk membangun gedung di tengah kota. Ruang hijau ini bermanfaat selain agar air dapat merembes masuk kedalam tanah, juga berfungsi sebagai taman kota.

Hal lain yang juga pesti diperhatikan adalah perlunya dibangun danau-danau buatan ditengah kota. Danau-danau ini berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan di Jakarta, dan juga dapat difungsikan sebagai tempat rekreasi warga. Danau-danau yang ada saat ini kondisinya sangat parah.  Danau-danau tersebut seakan menjadi Tempat Pembuangan Sampah terakhir masyarakat.

Pencemaran Sungai-sungai di Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Air sungai berwarna hitam legam, sampah berserakan, ditambah bau yang menyengat membuat sungai di Jakarta tidak lagi menjadi tempat tinggal dari mahluk hidup seperti ikan. Banyaknya pabrik-pabrik yang membuang limbah ke sungai menjadi kendala serius bagi pemerintah. Tidak adanya undang-undang dan sangsi yang tegas untuk mengatasi hal ini, membuat semakin banyak limbah pabrik yang dibuang k esungai. Perlunya dibuat suatu undang-undang mengenai pembuangan limbah pabrik agar tidak lagi mencemari sungai. Selain limbah pabrik, limbah rumah tangga juga membuat air sungai tercemar. Air limbah keluarga yang tercemar detergen sebagian besar di buang ke selokan-selokan dan akan bermuara ke sungai.

Hal yang mesti terus digalakan pada saat ini adalah penanaman pohon di Jakarta. Setiap perumahan, diwajibkan harus ada penanaman pohon yang ditanam bukan di dalam pot minimal 1 pohon. Saat ini banyak perumahan di Jakarta yang tidak lagi menyisakan tanah untuk rembesan air ke bumi. Penanaman pohon ini dimaksudkan untuk membuat wilayah rembesan air semakin banyak. Gerakan ini harus digalakan kembali mengingat jumlah pohon di Jakarta semakin hari semakin sedikit jumlahnya.

AYO…JAKARTA BISA !!!

Menyusuri Perbukitan Purbalingga…

Perjalanan kami dimulai dari stasiun Gambir, Jakarta. Tiket kereta api Argo Dwipangga sudah ada ditangan kami dan jadwal berangkat yang tertera di tiket tersebut adalah pukul 8 pagi. Namun entah karena memang sudah terbiasa, atau karena ada alasan teknis, kami pun naik kereta jam 10 pagi dari stasiun gambir. Sebuah penantian yang cukup panjang karena saya berangkat jam 6 pagi dari rumah.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 6 jam, kamipun tiba di stasiun Purwokerto. Dan langsung kami menuju hotel yang sudah kami pesan untuk beristirahat.

Pagi hari setelah sarapan di hotel kamipun menuju Univ Jend Soedirman. Setelah acara di kampus selesai, kami langsung checkout hotel dan perjalanan dilanjutkan ke Purbalingga. Asyik juga jalur yang mesti yang kami lalui menuju Purbalingga. Dengan pemandangan kanan kiri saya hamparan sawah dan kebun yang menghijau, membuat mata kami sangat sayang untuk dipejamkan walaupun untuk tertidur sejenak saja. Tak lama setelah kami checkin hotel di purbalingga, kami bergegas masuk kembali ke mobil.

Tujuan kami adalah desa sanguweteng. Memang ini bukan lah salah satu tujuan perjalanan kami disini. Namun salah satu teman kami adalah penduduk pribumi daerah tersebut yang sudah merantau ke Jakarta. Maka tak ada salahnya kami menyempatkan diri untuk menengok seperti apa desa tersebut.

Perjalanan menuju desa tersebut menurut saya adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Dengan rute yang sangat curam di wilayah pegunungan, di kanan kiri kami adalah sebuah jurang yang sangat dalam membuat beberapa kali saya mencoba menahan nafas. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi harus melewati tanjakan yang sangat curam, dan beberapa kali pula adrenalin saya terpacu karena mobil yang saya tumpangi kesulitan untuk melewati tanjakan yang tinggi. Kondisi jalan yang sempit dan tidak semulus tol jagorawi, dan dibeberapa titik jalan tersebut rusak alias berlubang. Namun di sepanjang perjalanan tersebut, kami tidak melewati sebuah lukisan alam yang luar biasa. Hampir tidak berkedip mata saya menikmati hamparan lukisan alam tersebut. Mulai dari hutan pinus rindang sampai-sampai tak ada cahaya matahari dapat masuk, sawah yang hijau bergelombang seperti permadani mahal dari timur tengah, hutan lebat yang entah didalamnya terdapat apa.… sampai pohon glagah yang sangat bernilai di wilayah ini. Tiba di rumah teman kami waktu sudah sore. Suasana kental wilayah pedesaan jawa sudah terasa sejak kami turun dari mobil. Setelah masuk keruang tamu, hidangan pun mulai mengalir. Kami pun disuguhi makanan desa seperti jagung rebus, singkong bakar, kacang rebus, dan tentu saja mendoan sebagai salah satu produk makanan unggulan turut kami santap. Tidak menyangka setelah kami menyantap makanan tersebut, kami pun dipersilahkan untuk makan nasi yang sudah dipersiapkan dari tadi. Dengan langkah berat karena perut kami sudah tak muat lagi, kami pun dengan gagah mengambil hidangan tersebut. Sempurna sudah perjalanan kami.

Malam hari kami sempatkan diri untuk sekedar berjalan-jalan di alun-alun kabupaten Purbalingga. Berbagai jenis makanan dijajakan di alun-alun ini. namun karena tengki perut saya sudah diisi penuh di sanguweteng, saya pun hanya berjalan-jalan dan sekedar minum di alun-alun ini.

Hari ketiga kami di Purbalingga, kami sempatkan diri berkeliling melihat potensi-potensi unggulan dan sentra-sentra industri di Purbalingga. Tak lupa pula kami mengunjungi pusat pembudayaan tanaman glagah di desa Jingkang, Karang Jambu yang luasnya mencapai 900 Ha. Rupanya jalan yang menuju tempat budidaya tanaman glagah tersebut melewati jalan yang kami lalui kemaren menuju sanguweteng. Kembali kami menempuh perjalanan yang luar biasa.

Tiba di pusat pembudayaan tanaman glagah, kami kembali disuguhi sebuah pemandangan yang luar biasa. Tanaman glagah ini merupakan tanaman yang hidup subur di ketinggian tertentu.  Pohon glagah rupanya bersahabat dengan pohon pinus. Karena diantara ribuan pohon pinus yang sangat tinggi, terhampar pula ratusan hektar pohon glagah dibawahnya.

Berada di puncak pegunungan yang sejuk dengan angin yang bertiup kencang, membuat pohon-pohon pinus tersebut bergoyang kencang dan mengeluarkan suara seperti hujan yang sedang turun. Suasana seperti inilah yan membuat saya seakan tak mau kembali ke Jakarta.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu Nanti…

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini banyak terlihat anak-anak kecil di setiap lampu merah. Yang bukan hanya sekedar menjajakan asongan, namun juga sudah tampak meminta-minta uang dengan setengah memaksa.  Ada pula anak kecil yang menghampiri kendaraan dengan membawa gendang kecil sambil melantunkan lagu dangdut. Dengan raut wajah yang iba, berharap agar ada uang receh yang jatuh di telapak tangannya.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini banyak anak-anak sekolah yang tawuran. Dengan bersenjatakan kayu, batu, parang, golok, dan ikat pinggang bergerigi baja. Membabi buta,  sabet sana sabet sini, lempar sana lempar sini, gebuk sana gebuk sini, seolah tak ada lagi rasa perikemanusiaan antar sesama pelajar.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini pergaulan anak–anak muda semakin tidak terkendali. Anak-anak sekolah banyak yang bergaul bebas, antara wanita dan pria tanpa ada batasan yang ketat. Di tempat terbuka untuk umum dan juga tempat-tempat sepi seperti lapangan bola, pojok taman, dan kuburan hampir ada pasangan anak manusia yang sedang asyik menikmati buaian iblis. Dan akibatnya, banyak berita tentang kasus janin  ditemukan di tempat sampah, selokan, dan dihanyutkan di kali/ sungai.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika banyak kasus pelecehan seksual pada anak muncul di koran-koran ibukota, mulai dari pelecehan seksual anak di bawah umur, dan pemerkosaan menjadi headline di surat-surat kabar nasional.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika banyak anak anak kecil banyak yang aktif menggunakan narkoba, membuat bangsa ini menjadi pasar yang empuk bagi peredaran narkoba lintas negara. Dari narkoba kelas atas sampai lem aibon dan bunga kecubung yang banyak di konsumsi oleh para remaja.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika saat ini tayangan media massa visual sudah tidak lagi layak ditonton oleh anak-anak. Karena banyak adegan sensual dan adegan kekerasan yang dibungkus rapi dalam satu paket bermerk sinetron di jam tayang prime time. Dan banyak bermunculan Film-film sampah di bioskop buatan anak negeri yang hanya mencari untung dengan mengandalkan sisi horor dan seksualitas semata.

Anak-anakku, Bagaimana Masa Depanmu nanti…

Ketika kau sudah berusia 20 atau 30 tahun. Masa-masa kecilmu yang suram tentu akan selalu berbekas di dalam relung hati dan gumpalan otak mu secara jelas. Dan belum tentu engkau akan sanggup merubah suram itu menjadi sebuah warna yang kuning keemasan.

Lukisan Alam Pulau Rote

Siang itu matahari tampak semangat sekali berdzikir. Udara yg panas di pelabuhan tenau kupang, membuat saya segera masuk ke kapal yg akan membawa kami kepulau rote.

Udara yg di dingin didalam baluran AC kapal, dan alunan ombak yang tenang mengantarkan mata saya kedalam lingkaran kantuk yang tak bisa saya tolak. Lumayan, saya dapat tertidur selama 1 jam di kapal ini. Tiba di dermaga pelabuhan Baa, kami pun disambut oleh sinar matahari yang terik.

Dalam benak saya sebelum saya tiba, Rote ini adalah sebuah wilayah yang gersang, tandus dan panas. Namun dugaan saya tersebut berbalik 180 derajat. Rote sebuah daerah yang hijau walaupun  memang panasnya cukup membuat kulit ini menjadi hitam.

Lama perjalanan dari pelabuhan Baa ke hotel tiberias sekitar setengah jam. Sepanjang jalan tersebut terbentang hamparan bukit bukit batu yang Terhampar seakan angkuh tak tertanding. Tiba di hotel tiberias, kekaguman saya pada alam ini semakin bertambah. Ya, tepat di hotel itu adalah hamparan laut yang biru dan kontras sekali dengan warna pasir yang putih di sepanjang pantai. Waw, inginsekali saya langsung menghambur kesana, namun ternyata kami masih melanjutkan perjalanan lagi ke pantai nemberala. Ah, pantai lagi. Bukankah di depan kita adalah pantai ?

Perjalanan menuju pantai nemberala adlah perjalanan yang sangat mengasyikan. Seakan membelah belantara hutan di rote, diselingi oleh rumah-rumah tradisional penduduk yang atapnya ditutupi oleh daun lontar. Hijau dan subur juga daerah rote ini, terbukti banyak pepohonan yang tumbuh subur diatas tebing batu.

Satu hal lagi yang unik di daerah rote adalah banyak rumah penduduk yang pagarnya dibuat dari batu-batu karang yang disusun sedemikian rupa, sehingga tampak cantik dan asri. Wah, kalo aktivis greeenpeace melihat batu-batu karang seperti ini, mungkin mereka sudah melakukan unjuk rasa besar-besaran.

Lamanya perjalanan ke arah pantai nemberala seakan pupus oleh keelokkan alam disiini. Terlebih saat rombongan kami singgah di salah satu rumah pnduduk asli yang atapnya ditutup lontar. Layaknya wartawan yang bertemu dengan narasumbernya, penduduk yang berjumlah satu orang tersebut bertubi-tubi dihujani pertanyaan oleh rombongan kami. Rupanya penduduk itu mendadak menjadi selebriti. Setelah puas menyerang penduduk tersebut dengan pertanyaan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Namun dalam perjalanan ke pantai nemberala, perhatian kami terfokus pada dinding karang yang tinggi di pinggir pantai yang berwarna putih bersih. Tidak mau kehilangan momen, kami pun bergegas turun dari mobil dan langsung menghambur ka pantai. Cantik nian pantai ini. Dengan bukit karang yang tinggi dan terjal, dengan pasir putih yan lembut, dengan air laut yang bening tembus pandang, dengan angin yang bertiup semilir, dengan siang hari yang cerah, dengan hati yang senang kami pun berfoto-foto ria di pantai itu. Layaknya foto model profesional, yang sedang diabadikan untuk cover kalender kami pun sibuk bergaya tanpa arahan apapun dari sang fotografer.

 

Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kepantai nemberala. Alhamdulillah, kami akhirnya sampai juga di pantai ini. Sepi sekali pantai ini. Tidak seperti bayangan saya, bahwa di pantai ini akan banyak sekali wisatawan yang berkunjung, tetapi pada hari itu hanya ada tiga orang turis saja yang berkunjung. Dan yang banyak berselancar hanyalah anak-anak pantai bertubuh mungil yang berkulit hitam, karena sering terpanggang sinar matahari. Mungkin salah satu dari mereka kelak akan menjadi juara dunia selancar air. Ingin rasanya ikut bersenang dan bermain bersama dengan anak2 itu, namun karena takut celana saya menjadi basah, saya urungkan niat mulia saya tersebut. Ombak di pantai ini tidaklah terlalu besar. Namun dalam bulan-bulan tertentu seperti bulan september pantai ini menjadi idola bagi peselancar dunia karena ombaknya yang sangat bagus. Angin yang semilir, air laut yang tampak hijau dan berkontras dengan biru, pantai yang bersih membuat saya seakan enggan meninggalkan pantai ini.

Kembali ke hotel tiberias, badan sudah terasa letih dan kantuk. Tak lama saya pun tertidur, dan terbangun pagi harinya dengan bersemangat. Setelah shalat subuh, saya langsung keluar kamar menuju pantai yang berada tepat di depan hotel.

Alangkah indahnya pantai ini. Pasir yang lembut, membenamkan kaki-kaki kokoh saya kedalam lautan pasir putih. Bukit batu itu tampak kokoh menjulang tinggi dengan pepohonan yang banyak tumbuh diatasnya. Banyak celah-celah di batu besar yang juga dihuni oleh burung-burung walet. Sebuah lukisan alam yang indah sekali….

Aku harus kembali kesini dilain waktu…

Manusia-manusia Setengah Dewa…

Seorang manusia tetaplah manusia, tidak akan pernah berubah menjadi dewa atau malaikat…

Sewaktu melihat berita tentang kematian Gusdur, saya terkejut sekali melihat banyaknya para peziarah yang seakan berebutan mendekati kuburan dari Gus Dur. Rasa terkejut saya semakin bertambah ketika menyaksikan banyaknya para peziarah yang mengambil tanah kuburan dan bunga yang berada diatasnya. Entah apa maksudnya, tetapi menurut sumber berita tersebut tanah dan bunga yang ditabur diatas kubur Gus Dur akan menjadi berkah tersendiri bagi yang mengambilnya. Sulit dipercaya dengan akal sehat, bagaimana tanah kuburan dan bunga bisa menjadi berkah dan tuah tersendiri bagi yang mengambilnya. Inilah salah satu bukti nyata bahwa masih banyak orang Indonesia yang begitu mendewakan seorang manusia.

Contoh lainnya adalah dengan di junjung tingginya para ulama. Memang tak ada larangan untuk kita mengagumi seorang ulama besar, namun janganlah berlebihan karena mereka hanyalah manusia juga. Seorang Habib misalnya, ada beberapa orang dari pengikutnya yang sangat fanatik. Sampai-sampai beberapa orang tersebut berebutan air minum sisa dari sang Habib tersebut. Padahal hanya air putih biasa, entah apakah rasa dari air minum Habib tersebut terasa lebih enak. Sehingga orang saling berebut untuk mendapatkannya. Ataukah memang ada kasiat lain yang didapat setelah air itu di minum oleh sang Habib. Contoh yang paling aktual adalah kasus Mbah Priuk. Dimana masyarakat disekitar makam Mbah Priuk tersebut sangat menjaga makam tersebut. Satpol PP yang bermaksd menertibkan bangunan liar di sekitar makam tersebut, mendapat perlawanan sengit dari warga yang mengira bahwa makam terebut akan di bongkar. Hasilnya, beberapa orang tewas dan banyak yang terluka.

Ponari, sebuah fenomena lain dari Jombang. Ponari adalah seorang dukun kecil yang mempunyai batu sakti di tangannya. Karena kesaktianya, Ponari pun menjadi manusia yang sangat berharga sekali. Sampai-sampai air bekas cuci kaki/tangan Ponari menjadi rebutan, karena banyak khasiatnya.

Masih banyak kisah-kisah lain dalam kehidupan manusia di dunia ini. Dan masih banyak pula hal-hal yang mesti kita perbaiki dalam memperbaiki kualitas hidup manusia. Dan juga masih banyak hal-hal yang mesti kita luruskan dalam kehidupan umat beragama saat ini.

Menghijaukan Jakarta Yang Tak Lagi Hijau Oleh Hijaunya Dedaunan

Menurut beberapa pendapat orang, hijau adalah sebuah warna yang berarti teduh dan rimbun. Hijau disini dikaitkan dan dikonotasikan oleh sebagian orang dengan warna daun-daun dari tumbuhan.

Pembangunan yang tumbuh pesat di Jakarta, menyebabkan daerah hijau di Jakarta semakin berkurang. Diganti oleh warni-warni cat tembok dari ratusan gedung perkantoran dan perumahan yang menjulang tinggi. Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan, dan juga pusat bisnis di Indonesia adalah surga bagi para pencari keping rupiah. Hal inilah yang menyebabkan penduduk Jakarta membengkak terus setiap tahunnya.

Banjir tahunan yang rutin menyapa Jakarta disebabkan oleh rusaknya dan tidak terkelolanya sistem tata kelola lingkungan yang ada di Jakarta. Tidak adanya daerah resapan air, sungai-sungai penuh sampah, dan masih banyak lagi penyebab banjir tahunan yang melanda Jakarta adalah cermin dari semakin rusaknya lingkungan di kota ini.

Dengan luas wilayah Jakarta sekitar 66.000 hektar diperlukan setidaknya 9.240 hektar lahan hijau. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1985 tentang Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 2005, ruang terbuka hijau Ibu Kota harus mencapai 31,5 persen dari total luas wilayah. Atau setidaknya, 26,1 persen.

Ledakan jumlah penduduk di Jakarta, mau tak mau terus menggerus ruang hijau di kawasan ini. Daerah-daerah seperti bantaran sungaipun menjadi daerah hunian. Daerah bantaran sungai yang seharusnya banyak ditanami tumbuh-tumbuhan untuk pencegah erosi, saat ini malah ditumbuhi oleh banyaknya rumah-rumah kumuh sepanjang bantaran sungai tersebut.

Pelebaran jalan yang sudah dilakukan untuk menampung sarana transportasi warga juga berperan dalam memusnahkan tumbuh-tumbuhan yang sudah ada. Usaha mengurangi kemacetan lalu lintas menjadi dalih dari Pemprov DKI untuk pelebaran jalan. Hilangnya pohon-pohon dari akibat pelebaran jalan tersebut, kurang diimbangi dengan penanaman kembali pohon-pohon tersebut.

Jakarta sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Hal ini dipahami benar oleh Pemprov DKI dengan mendirikan gedung-gedung besar dan bertingkat. Gedung-gedung ini sebagai pengganti tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rindang, memang berfungsi sebagai penghalang sinar matahari agar tidak terkena ke kulit secara langsung. Namun gedung-gedung tersebut tidak dapat berfungsi sama sekali sebagai paru-paru kota. Dan juga tidak sejuk dipandang mata walau gedung tersebut di cat hijau sekalipun.

Upaya penanaman kembali pohon-pohon yang saat ini tengah digalakkan oleh Pemerintah, belum menuai hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan kondisi tanah di jakarta yang mulai hilang kesuburannya karena pencemaran lingkungan.

Upaya pendirian ruang hijau kota, jumlahnya masih sangat sedikit dan masih kalah bersaing dengan upaya pengaspalan dan penyemenan kota. Hal inilah yang membuat suhu di Jakarta bertambah panas, karena panas dari sinar matahari terpantul kembali ke atas permukaan bumi. Pemprov DKI harus secara konsisten mengupayakan jakarta yang hijau. Keseriusan dan usaha Pemprov DKI dalam hal penataan kembali lingkungan kota tidak akan berhasil apabila tidak di dukung oleh kesadaran masyarakat kota.

Kesadaran masyarakat harus dikembangkan dari sekarang. Dengan memulai dari hal-hal yang paling sederhana dan dapat dilakukan siapapun. Mulai dari membiasakan membuang sampah pada tempatnya (bukan sungai), menanam kembali minimal 1 pohon untuk satu orang, dan memakai produk-produk ramah lingkungan dapat menekan angka pencemaran lingkungan di Jakarta.

Ijin untuk pendirian bangunan/ gedung bertingkat harus dikaji ulang kembali. Dengan mudahnya pengurusan ijin tersebut, membuat jumlah bangunan di Jakarta menjadi bertambah banyak.

Ruang hijau di jakarta selain berfungsi sebagai paru-paru kota, juga berfungsi sebagai daerah resapan air. Hilangnya ruang hijau dijakarta, membuat kita semakin miris dan gelisah mengenai bagaimana nasib anak cucu kita dimasa yang akan datang. Bumi ini adalah warisan bagi anak cucu kita nantinya. Kalau bumi ini sudah rusak, lalu apa yang dapat kita wariskan bagi anak dan cucu kita di masa yang akan datang.

Empat hari di bumi Rafflesia

Langit siang itu bersinar terlalu terik ketika kami mendaratkan kaki di bumi Rafflesia. Sebuah wilayah yang baru pertama kali ini saya sambangi. Entah memang karena sedang musim kemarau, ataukah memang cuaca di Bengkulu seterik ini.

Tiba di bandara Fatmawati Sukarno saat itu pukul 15.30. Namun panasnya terasa seperti jam satu siang. Seharusnya kami sudah mendarat di Bengkulu dua jam yang lalu, namun karena keterlambatan jadwal perjalanan pesawat yang mundur sampai 2 jam saya akhirnya baru sampai disini. Benar-benar sebuah perjalanan yang melelahkan, karena dari rumah saya berangkat jam 9 pagi, namun sampai Bengkulu sudah jam 4 sore.

Kami pun langsung dibawa ke tempat penginapan kami di hotal Nala. Hotel tempat kami menginap memang bukanlah sebuah hotel berbintang. Namun seperti sebuah resort di pinggir pantai. Ya, memang penginapan saya tepat berada di pinggir pantai Panjang. Sampai di kamar hotel bukanlah beristirahat yang saya lakukan karena badan lelah, namun entah kenapa badan saya menjadi segar kembali. Tak lama setelah saya menaruh tas dikamar hotel, kemudian saya kunci dan saya langsung membaur dengan keramaian orang di sepanjang pantai panjang yang memang sangat panjang.

Beban kantuk yang sedari siang saya sandang, menjadi sirna tatkala saya menjejakkan kaki dipasir pantai. Anjungan alami yang membuat saya takjub. Lembut sekali pasir pantai ini. Enak dipijak dan enak digenggam. Pasir ini memang bukan berwarna putih, hitam juga tidak. Mungkin lebih tepat kalau disebut abu-abu. Namun kelembutan pasir ini yang membuat saya enggan mencabut kaki saya dari sini. Pandangan pun saya hamparkan ke pasir ini. Sambil terus asyik mengikuti langkah kaki yang tidak juga terasa lelah menelusuri pantai ini yang panjangnya sampai 7 KM. Tentu saja tidak sejauh itu saya berjalan, karena 7 kilo adalah jarak yang terlalu berat untuk saya tempuh.

Hari semakin sore, matahari pun terlihat mulai temaram terganti oleh cahaya merah menyala yang hampir tenggelam kedalam laut. Tak terasa sambil menikmati sunset yang terlampau indah untuk ditinggalkan, terdengar sayup-sayup alunan adzan magrib yang kembali memanggil dan mengingatkan hamba Nya untuk kembali bersujud.

Setelah menunaikan shalat magrib dan isya, kami keluar untuk makan malam. Dalam perjalanan menuju rumah makan saya memperhatikan keadaan pantai Panjang dimalam hari. Suasana pantai yang tadi sore ramai telah lenyap. Tak ada penerangan sama sekali, tak ada suara gaduh manusia. Gelap dan sunyi sekali pantai ini dimalam hari. Namun tampak dibalik kegelapan tersebut ada beberapa buah motor dan mobil yang parkir tersebar di sepanjang pantai. Entah kemana para pengendara kendaraan tersebut. Di dalam kegelapan tersebut, samar-samar saya melihat ada beberapa pasang pemuda dan pemudi yang menggunakan sarana kegelapan sebagai tempat memadu asmara….hemm.

Setelah makan malam dan masuk kembali ke penginapan, sayapun tertidur pulas dengan nyenyaknya. Tak terasa hari sudah pagi, saya pun bergegas sarapan dan melanjutkan acara perteman di Univ. Bengkulu. Selesai acara tersebut, sayapun dibawa keliling kota. Mulai dari rumah Bung Karno, Benteng Marlborugh, rumah Fatmawati. Lelah setelah berkeliling Bengkulu, kembali ke hotel untuk beristirahat.

Malam hari hujan turun dengan derasnya. Rencana makan malam diluar lagi akhirnya batal diganti oleh makan malam nasi goreng ala Hotel Nala. Lumayanlah sebagai pengganjal perut yang dari tadi sudah berisik.

Esok paginya, karena sudah tidak ada rencana kerja lagi, sayapun belum melepas selimut saya sampai pukul 8 pagi. Tidak ada agenda khusus hari ini kecuali berbelanja dan jalan-jalan. Dengan mengandalkan angkot yang ada, saya pun langsung hunting ke daerah Anggut, sebuah wilayah yang sepanjang jalan terdapat toko-toko souvenir dan makanan khas Bengkulu. (Lebih mirip malioboro kalo di Yogja). Banyak juga ragam makanan khas wilayah ini. Saya pun membeli lempok durian, manisan terong, kerupuk wortel. Niatnya sih mau diborong semua, namun apa daya uang tidak mendukung.

Hari terakhir saya di bengkulu saya habiskan waktu dengan berputar-putar kota kembali dan berbelanja lagi sambil menunggu waktu pemberangkatan pesawat yang jam 2 siang. Ternyata perkiraan saya tepat, pesawat kami di delay sampai pukul setengah lima sore. Alhasil, saya pun luntang-lantung di bandara sampai pukul 6 sore karena pesawat kembali didelay sampai pukul 18.30. Tiba di Bandara Soekarno Hatta saya pun bergegas mencari taksi agar cepat sampai dirumah. Namun apa daya, taksi yang saya tumpangi terjebak dalam kemacetan lalu lintas ibukota. Empat jam saya berada di taksi dan selama tenggelam dalam kemacetan hanya satu yang saya pikirkan, yaitu apakah nanti sampai di rumah saya masih dibukakan pintu rumah oleh istri saya karena pulang tengah malam……ohhh.

Moral Bangsa Baik, Kesejahteraanpun Meningkat

Moral merupakan salah satu masalah terbesar dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Dilema buruknya moral bangsa Indonesia menjadi salah satu penyebab sulit berkembangnya bangsa ini untuk keluar dari masalah krisis. Memang agak jauh jika mencoba mencari titik temu antara perbaikan kesejahteraan masyarakat dengan perbaikan moral masyarakat. Namun jika moral/akhlak masyarakat dan pemimpin bangsa Indonesia baik, bukan tidak mungkin tingkat kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat.

Menumpuknya persoalan bangsa ini tidak lepas dari perilaku kotor sejumlah elit poitik. Banyaknya kasus korupsi menjadi indikator bahwa moral bangsa ini sudah dibawah titik terendah. Sejak jaman pemerintahan presiden Suharto sampai sekarang (SBY), problematika bangsa ini seperti tidak ada perbaikan. Para pemimpin negara tersebut tentu saja sudah mencoba mengatasi problematika bangsa ini dengan program-program yang telah mereka canangkan. Namun kembali lagi kepada masalah moral, jika moral bangsa ini masih seperti saat ini, siapapun presidennya dan apapun partainya tidak akan bisa memperbaiki kondisi negara ini hanya dalam jangka waktu 5-10 tahun.

Selain masalah korupsi yang seperti membumi di negeri ini, ada banyak masalah lainnya yang mesti di perhatikan. Seperti masalah disiplin nasional, pembalakkan liar, eksplorasi anak dibawah umur, pelecehan seksual, SARA, narkoba, dan masih banyak lagi masalah-masalah yang ada. Hal ini seperti cermin diri masyarakat indonesia, bahwa moral bangsa ini memang rapuh.

Ketika seseorang anak masuk sekolah Dasar (SD) dan dilanjutkan dengan tingkat pendidikan SMP, dan SMA sudah terdoktrin pada pelajaran PMP/PPKN yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah dan suka menolong. Tapi pada kenyataannya mungkin bertolak belakang dengan hal itu. Bangsa Indonesia saat ini dinilai sebagai sebuah bangsa yang cenderung liar, bangsa pembajak, bangsa yang kotor, bangsa yang korupsi. Masih banyak julukan bagi bangsa Indonesia saat ini.

Masalah moral sudah diberikan pada anak-anak pada mata pelajaran agama. Dimana dalam ilmu agama tersebut sang anak dituntut untuk mempunyai pribadi yang bagus dengan akhlak yang terpuji. Namun sama seperti pelajaran PMP/PPKN, hasil dari pendidikan agama tersebut belum terasa memuaskan. Hal ini mungkin lebih disebabkan guru dan murid yang hanya mengejar nilai tinggi dalam pelajaran tersebut, tanpa diimbangi oleh perbaikan moral dan akhlak mulia dari muridnya.

Demikian juga dengan sikap dari kalangan orang tua. Orang tua hanya menuntut nilai yang tinggi dan anak mempunyai prestasi disekolah, tanpa melihat lagi bagaimana perkembangan moral dan akhlak dari anaknya.

Setelah pulang dari belajar di sekolah, sang anakpun banyak yang mengikuti pendidikan agama/ madrasah/TPA pada sore harinya. Tetapi sekali lagi, jika sang anak sudah bisa shalat dan membaca Al Quran dengan baik, maka orang tua dan guru sudah puas dengan hasil yang didapat. Tetapi masalah moral dan akhlak tidak/ kurang menjadi perhatian.

Hal-hal seperti diatas menjadi salah satu kegagalan dalam upaya pendidikan moral dan akhlak anak bangsa ini. Inilah yang membuat moral anak bangsa ini semakin terpuruk. Kurangnya kontrol dari guru dan orang tua menyebabkan sang anak seringkali lepas kontrol. Ditambah lagi dengan pengaruh dari lingkungan sekelilingnya. Moral anak seperti inilah yang kemudian terbawa terus kedalam hidup sang anak sampai anak tersebut menjadi dewasa. Bahkan terbawa ketika anak sudah memasuki dunia kerja.

Alangkah lebih baiknya jika program utama pemerintah saat ini lebih di fokuskan kepada perbaikan moral masyarakat Indonesia. Bukan tidak mungkin jika moral masyarakat Indonesia baik, maka kesejahteraan rakyatpun akan semakin meningkat. Tetapi kita juga tidak bisa merubah moral bangsa ini dalam 1-2 tahun saja. Melainkan butuh puluhan tahun untuk membentuk karakter bangsa ini menjadi baik……..

“Didalam masyarakat yang bermoral baik, terdapat bangsa yang baik pula”

Ke Jakarta aku kan ke Bali…..

Ini adalah kunjungan ke dua saya ke bali, setelah tahun 2007 lalu saya berkunjung kesini. Masih dalam balutan embel-embel raker. Padahal rakernya hanya dua jam, selebihnya diisi dengan jalan-jalan.

Kami tiba di bali pada pukul 15.00 (jam jakarta), langung kami diantar oleh bis yang sudah menunggu kami ke komplek Uluwatu. Sambil menunggu pagelaran tari kecak yang akan diadakan pada jam 6 sore, kami sempatkan diri untuk berfoto ria dengan para penghuni tetap komplek uluwatu yang jumlahnya ratusan. Setelah selesai menonton pagelaran tari kecak tersebut, rombongan kami langsung menuju rumah makan. Karena kami tadi tidak sempat makan siang, maka setiba di rumah makan dengan setengah beringas dan liar kami langsung menyerbu makanan yang ada. Tanpa mempedulikan lagi bahwa daging sapi yang kami makan rasanya seperti sendal jepit karena begitu alotnya, dan ayam goreng yang seperti batu karena kerasnya.

Malam semakin larut, dan kami pun tertidur pulas sekali di dalam buaian AC yang sejuk didalam kamar hotel. Malam berlalu terasa cepat sekali, dengan mata masih menahan kantuk yang sangat saya bergegas mandi dan sarapan. Karena jam 9 pagi ini kami akan mengadakan raker. Acara raker sendiri sebenarnya tidak terlalu resmi, karena tujuan kami sebenarnya adalah murni jalan-jalan. Raker tersebut berlangsung hanya dua jam. Setelah raker tersebut selesai, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Kampung Nusantara, sebuah tempat yang menjual berbagai cinderamata dan makanan khas Bali. Tidak lama kami di Kampung Nusantara kami pun menuju Joger dan Tanah Lot.

Suasana di Tanah Lot pada pukul 4 sore terasa ramai. Mungkin karena banyak wisatawan yang sengaja menunggu sunset disana. Memang terasa indah menunggu sunset di pantai Tanah Lot. Ditemani debur ombak, dengan latar belakang pura dan tebing batu. Sungguh suatu pemandangan yang tak kan pernah bosan untuk dilihat. Sungguh suatu karunia Allah, bahwa saya masih bisa melihat pemandangan indah seperti ini. Matahari pun tenggelam, dan kami beranjak pergi dari Tanah Lot.

Sepanjang jalan menuju tempat parkir, banyak penjaja souvenir di kanan dan kiri jalan. Dan kami pun langsung menuju jimbaran untuk makan malam. Lagi-lagi suasana pantai di jimbaran yang indah, mengingatkan aku pada anak dan istri yang sudah ditinggal tiga hari.

Hari ketiga kunjungan kami ke Bali adalah mengunjungi beberapa wisata bahari yang ada disini. Tempat pertama yaitu Tanjung Banoa. Ada banyak permainan olahraga air disini, namun karena saya tidak bisa berenang sama sekali, maka saya hanya melihat-lihat penangkaran penyu saja. Kembali  terbersit rona penyesalan di hati saya bahwa saya tidak bisa berenang sama sekali. Lanjut dari Tanjung Banoa kami meluncur ke Dreamland. Sebuah kawasan pantai yang eksotik. Dengan ombaknya yang lumayan besar, dan dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang tinggi, dan pasir putih yang membentang di sepanjang pantai dan juga tak lupa para turis wanita yang sedang berjemur, inilah yang membuat eksotik kawasan ini.

Hari terakhir kunjungan kami ke pulau dewata diisi dengan berbelanja. Mulai dari Airlangga, Sukawati, Galuh, sampai tiba di bandara Ngurah Rai pun saya masih sempat berbelanja. Repotnya setiba di cengkareng dengan barang yang bertambah banyak, saya pontang-panting membawa barang tersebut sampai di rumah.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.